Heboh Ijazah Jokowi... Setelah 13 tahun, akhirnya UGM baru meralat data masa jabatan (Alm) Prof. Achmad Sumitro Purwodipoero sebagai Dekan Fakultas Kehutanan UGM

PENGANTAR ADMIN:

Kontroversi Ijazah Jokowi. Pada ijazah Jokowi (fotocopyan) yang beredar di media online dan media sosial disitu tercantum Jokowi lulus tahun 1985, juga tercantum di ijazah tersebut yang menjadi DEKAN FAKULTAS KEHUTANAN saat itu adalah Prof Dr Soenardi Prawirohatmojdo.

Padahal sebelumnya di situs UGM, Dekan Fakultas Kehutanan periode 1977 hingga 1988 (termasuk 1985) adalah Prof. Achmad Sumitro Purwodipoero.

NAH... setelah heboh ijazah Jokowi dan ada yang menemukan DATA tidak sinkron antara ijazah Jokowi yang beredar dengan data Dekan Fakultas Kehutanan, akhirnya baru saja pihak UGM meralat datanya.

Salah satu yang menemukan data tidak sinkron adalah Desi Suyamto yang diungkap di akun facebooknya.

Di atas adalah Screenshot status fb Desi Suyamto kemarin.

Dan berikut tulisan Desi Suyamto setelah UGM meralat datanya...

***

Setelah sehari yang lalu, kuposting salah satu tautan dari situs resmi UGM, tentang masa jabatan Almarhum Prof. Achmad Sumitro Purwodipoero sebagai Dekan Fakultas Kehutanan UGM di tautan ini (screennhot status di atas):


Akhirnya, Humas UGM baru saja mempublikasikan ERRATUM/CORRIGENDUM, yang meralat data tentang masa jabatan Almarhum Prof. Achmad Sumitro Purwodipoero sebagai Dekan Fakultas Kehutanan UGM

Di mana pada awal data tersebut dipublikasikan pada 24 September 2009 pukul 08:28 WIB, menyebutkan bahwa: Almarhum Prof. Achmad Sumitro Purwodipoero menjabat sebagai Dekan Fakultas Kehutanan UGM selama Periode 1977-1988, akhirnya baru saja diralat menjadi: pada Periode 1978-1979, Periode 1980-1981, Periode 1988-1991 dan Periode 1991-1994.

Setelah selama 13 tahun, akhirnya baru diralat.

Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya proof-read dan review yang ketat sebelum melakukan publikasi. Apalagi, lembaga akademik seharusnya memiliki kultur yang sangat patuh pada etika saintifik, seperti Norma Mertonian, dalam mempublikasian data dan informasi, demi menjaga kredibilitas.

πŸ‘‰Dan hal ini juga mengindikasikan bahwa mereka yang saat ini disebut oleh para elite politik yang sedang berkuasa beserta para buzzers politiknya sebagai "wong-wong gendheng", seperti Bambang Tri Mulyono, Gus Nur dan Dokter Tifauzia Tyasumma, nyatanya sangat berperan penting dalam menjaga kredibilitas data dan informasi yang dipublikasikan oleh lembaga akademik. Tanpa mereka, mungkin tak akan pernah ada ERRATUM/CORRIGENDUM yang meralat publikasi data yang keliru, sampai Elon Musk tinggal di Mars.

Sepantasnya, para "wong gendheng" itu justru diapresiasi, bukan malah dijadikan "Paman Doblang".

Ingat: "shooting messengers has always appeared to be attractive for those in power, but never works for long (beyond tenure period)..." ! ["menembak pembawa pesan selalu tampak menarik bagi mereka yang berkuasa, tetapi tidak pernah berhasil lama (di luar masa jabatan)..."]

(Desi Suyamto)

*CATATAN: Yang English Version belum diralat, masih sama πŸ˜‚πŸ‘‡