Kenapa Narasi "Pelecehan" Yang Dipilih Dalam Kasus Tewasnya Brigadir J

Sambo, Perang Opini Narasi Pelecehan, dan Perusakan TKP

Oleh: Kardono Ano Setyorakhmadi

SALAH satu yang menjadi perhatian saya dari kasus Ferdy Sambo adalah soal narasi pelecehan. Narasi ini menjadi basis dari tim Irjen Ferdy Sambo sebagai dalih terjadinya baku tembak antara Bharada E dan Brigadir J yang mereka sebutkan di awal. 

Konon, ketika Biro Penmas Div Humas Mabes Polri ketika hendak mengumumkan kasus itu, dia diminta datang ke TKP untuk mendapat informasi apa yang terjadi sebenarnya.

Saat itu, dia diminta untuk menyampaikan adanya “pelecehan”. Bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. “Ingat ya, ada pelecehan, dan itu harus disampaikan.” 

Meski sempat menyatakan tak setuju karena akan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut dan juga fakta yang belum jelas, dia tetap diminta untuk menjelaskan dengan “pelecehan” menjadi kata kunci. 

Selanjutnya, kita tahu, akhirnya muncul narasi itu, sebelum diperkuat oleh konferensi pers panjang lebar dari Kapolrestro Jakarta Selatan yang menguatkan narasi itu.

Narasi ini dipilih karena beberapa hal. Ia bisa menjadi dasar kuat untuk terjadinya baku tembak. Yang kedua, narasi pelecehan selalu ampuh untuk memenangkan hati masyarakat. Untuk meraih simpati masyarakat. Harus diakui, seiring dengan meningkatnya kesadaran soal perempuan dan anak (yang mana hal ini bagus benernya), maka secara default jika ada kekerasan terhadap perempuan maka otomatis masyarakat akan membela. Keberpihakan terhadap korban memang harus dikedepankan. Dan celah ini betul-betul diketahui oleh tim-nya FS.

Sudah banyak contohnya. Cancel Culture terhadap yang sudah di-spill. Harvey Weinstein, misalnya. Produser film kenamaan ini akhirnya remuk, setelah bertahun-tahun menjadi predator aktris-aktris kelas A Hollywood. Atau Subchi, pangeran mahkota Ponpes di Jombang yang akhirnya masuk penjara setelah drama pengepungan dan melakukan persekusi terhadap korban-korbannya.

Keberpihakan terhadap korban memang penting, tapi harus jelas dulu yang mana korban, yang mana pelaku. Seperti contoh, Johnny Depp yang sempat di-cancel oleh Disney gara-gara dianggap melecehkan dan KDRT ke Amber Heard. Yang belakangan, setelah persidangan panjang kita tahu apa yang terjadi. Kemudian, ada banyak kasus kontroversial seperti tudingan jurnalis ke seorang karyawan di Geo Times yang melecehkannya. Belakangan, karyawan yang dituding speak up, dan membantah keras dan menyertakan bukti-bukti serta siap dikonfrontir serta siap dilaporkan ke polisi, tapi jurnalis yang menuduhnya tak menanggapi dan memilih tak menyelesaikan tudingannya. Sekarang seperti apa lanjutannya, apakah mereka bertemu dari balik pandangan publik, saya tak mendapat update dari hal itu.

Yang jelas, narasi pelecehan ini ditujukan ke Brigadir J yang sudah tewas dengan luka penuh tembakan. Tampaknya, mereka berharap bahwa tudingan pelecehan ini bisa menjadi alasan pemaaf untuk pembunuhan Brigadir J. Karena, mau diakui atau tidak, narasi ini ampuh untuk menghancurkan reputasi seseorang. Baik yang benar-benar salah, maupun yang keliru dituding.

Tapi, mereka salah perhitungan. Masyarakat tampaknya tak mudah dimanipulasi. Kebanyakan pelecehan adalah soal relasi kuasa, dan nyaris tak masuk akal seorang bintara berani melecehkan istri atasannya yang seorang jenderal bintang dua. Bukan hanya sekedar jenderal, tapi jenderal dengan reputasi sangar. Itu yang pertama.

Kemudian, yang kedua, rusaknya (perusakan) TKP. Ada sejumlah kejanggalan yang terjadi. Yakni, rusaknya CCTV di tempat-tempat penting yang bisa menunjukkan peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Ketiga, juga begitu lamanya tim gabungan bentukan Kapolri mendapatkan akses ke CCTV tersebut.

Kemudian, belakangan ada sinyalemen jika rekaman kompilasi sejumlah CCTV yang dibuat oleh Polda Metro Jaya terindikasi tidak klir. Dalam artian, ada penambahan sejumlah potongan-potongan rekaman dari hari yang lain. Inilah yang membuat kerja tim khusus menjadi makin berat, dan seolah-olah berangkat dari minus. Yang membuat Kapolri akhirnya marah, mencopot 25 personel yang mengurusi olah TKP awal dan memprosesnya.

Perkembangan

Jika anda terbiasa datang ke Mabes Polri sekarang ini, anda akan menjumpai pemandangan penjagaan yang lebih ketat. Sebab, ada penambahan personel Brimob untuk berjaga di sana, khususnya di Bareskrim Mabes Polri. Kabarnya, tim khusus telah mendapatkan sejumlah temuan, dan beberapa personel yang diperiksa akhirnya mengaku.

Tentang bagaimana plot ini dijalankan untuk disesuaikan dengan narasi “pelecehan berujung baku tembak” yang tidak dipercaya itu, kemudian tentang bagaimana dan siapa saja yang terlibat dalam pembunuhan Brigadir J. Itulah sebabnya, kabarnya tim kuasa hukum Irjen Ferdy Sambo terlihat mondar-mandir di Gedung Bareskrim dari lantai 1 hingga 4, berupaya untuk bertemu orang-orang yang diperiksa, tapi hasilnya nihil.

Saya tidak tahu apa saja temuan tersebut, namun perkiraan saya, minggu depan tampaknya sudah akan ada update penting dari penyelidikan yang dilakukan. Semoga saja, drama ini bisa berakhir tuntas dan dibuka secara transparan hingga sampai tingkat aktor intelektualnya. (*)