Kompleksitas Ibadah Haji

Kompleksitas Ibadah Haji

Konser musik paling megah sekalipun paling hanya dihadiri 100-200 ribu orang. Keramaian itu juga hanya berlangsung dalam beberapa jam. Konser berakhir, penonton pun membubarkan diri.

Bagaimana dengan ibadah haji yang dilakukan rutin setahun sekali? Tiap tahunnya, sekitar 2 juta lebih ummat muslim dari seluruh dunia memasuki kota suci Mekkah dan Madinah. 20 hari sebelum puncak ibadah haji, gelombang jemaah sudah mulai berdatangan. Ini tentu memerlukan skill manajemen tingkat tinggi. Event organizer kelas teri sudah pasti gak akan sanggup meng-handle 2 juta orang yang masuk sekaligus dalam periode waktu bersamaan.

Pemerintah Arab Saudi mesti mengsinkronisasi banyak hal, mulai dari kedatangan jemaah haji di airport, menyiapkan angkutan transportasi darat, hotel, puluhan ribu tenda, air bersih, tenaga medis, fasilitas kesehatan, polisi dan tentara disiagakan untuk menjamin keamanan, berbagai jenis makanan yang menyesuaikan dengan selera masing-masing suku bangsa, hingga menyediakan lahan kuburan bagi jemaah yang wafat saat melaksanakan ibadah haji.

Menggerakkan jutaan orang dari satu titik ke titik lainnya dalam waktu bersamaan dengan prilaku dan karakter manusia yang berbeda-beda bukanlah perkara mudah. Ada yang taat dengan aturan, namun tak sedikit pula yang mbalelo, ngeyel bahkan dengan sengaja melawan tata tertib.

Pernah membaca berita tentang jemaah haji asal Indonesia yang dengan sengaja menggunting kiswah? Usut punya usut, hal itu dilakukan karena mereka percaya kalau potongan kain yang membungkus Ka'bah bisa digunakan sebagai jimat. Itu cuma segelintir dari prilaku aneh para jemaah haji. Ada saja muslim yang masih mencampuradukkan peribadatan monotheism dengan takhayul dan klenik.

Belum lagi soal makanan. Tak semua orang cocok dengan kuliner timur tengah. Pak Tugiman dan ibu Suyatmi jemaah haji asal Bojonegoro tentu tak terbiasa menyantap paha unta panggang. Mereka terbiasa mengunyah nasi tak bisa menelan roti. Belum lagi jemaah haji asal China yang terbiasa mengkonsumsi mie dengan sumpit. Maka pemerintah Arab Saudi harus menjamin ketersediaan bahan makanan pokok dari berbagai negara. Pagi, siang malam, ribuan chef berkutat didapur, tak berhenti mengolah berbagai macam menu makanan semata-mata untuk menyesuaikan dengan selera para jemaah.

Perbedaan iklim dan cuaca juga bisa menjadi kendala. Bayangkan betapa terkejutnya jemaah haji asal Siberia saat pertama kali menjejakkan kaki di King Abdul Aziz Airport. Ia yang terbiasa dengan cuaca dingin harus merasakan panas menyengat sekeluarnya dari pintu pesawat.

Belum lagi hal-hal kecil yang sudah mulai terjadi sejak keberangkatan jemaah dari negerinya masing-masing. Pasti terselip jemaah yang baru pertama kali naik pesawat. Tak bisa memasang seat belt, bingung mencari tombol flush saat BAB dalam lavatory, muntah dan mual ketika pesawat terkena turbulence, cemas, ketakutan dan lain sebagainya.

Berbagai tingkah laku jemaah haji dari berbagai penjuru dunia itu mesti dihadapi dengan senyum dan kesabaran tingkat tinggi. Pramugari mesti sabar ketika menjelaskan aturan saat pesawat sedang mengudara. Guide dan petugas didarat harus telaten, tak boleh lelah apalagi emosi ketika harus menjelaskan berulang kali. Karena sebagian besar jemaah haji adalah orang tua yang sudah berusia lanjut.

Tak semua jemaah haji memiliki stamina yang prima. Petugas medis mesti berjaga disegala penjuru kota Mekkah dan Madinah, siaga penuh kala ditemukan jemaah yang mendadak sakit. Berbagai aroma tubuh akan berjubelan jadi satu. Ragam bahasa akan didengar oleh telinga. Ada saja jemaah haji yang tersesat, terpisah dari rombongannya.

Maka perhelatan ibadah haji tak cuma menjadi otoritas penuh pemerintah kerajaan Arab Saudi. Diperlukan koordinasi lintas negara untuk memastikan event itu berlangsung tanpa kendala berarti.

Membayangkan betapa sibuknya para petugas haji dari berbagai negara yang saat ini tengah mendampingi para jemaah. Dengan memegang toa dan mengibarkan bendera sebagai penanda, mereka mengerahkan upaya untuk mengatur pergerakan jemaah haji.

Maka tak salah jika haji menjadi ibadah tersulit ketimbang sholat, puasa, zakat. Hanya wajib dilakukan bagi yang mampu. Tak cuma mampu dalam faktor materi, tapi juga fisik dan stamina jemaah mesti terjaga. Berlari-lari kecil antara bukit shafa dan marwah, tawaf mengelilingi Ka'bah, bukanlah perkara mudah bagi orang yang sudah lanjut usia.

Kekuatan untuk melaksanakan berbagai ritual dalam ibadah haji itu semata-mata muncul karena ketaatan ummat Islam terhadap Allah SWT, kecintaan kita terhadap ajaran baginda Rasulullah dan ingat dengan sejarah Nabi Ibrahim AS. Last but not least, kisah Siti Hajar yang seorang diri membesarkan Nabi Ismail AS ditengah gurun pasir gersang. Semua itu menjadi penguat para jemaah haji untuk melakukan semua prosesi.

(Ruby Kay)

Baca juga :