100 HARI PERANG RUSIA-UKRAINA: “Slava Ukraini!”

DALAM pidato yang menandai 100 hari invasi Rusia pada Sabtu, 4 Juni lalu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan, “Ada tiga kata yang telah kami perjuangkan selama seratus hari setelah delapan tahun: perdamaian, kemenangan, Ukraina.” Ia menutupnya dengan “Slava Ukraini!” (“Kemuliaan untuk Ukraina!”).

Perang Rusia-Ukraina ini telah banyak memakan korban. Ukraina mencatat, nyawa yang melayang sekitar 100 ribu orang, yang sebagian besar penduduk sipil. Lebih dari 12 juta orang mengungsi. Perang ini juga memicu kenaikan harga minyak dan gas serta krisis pangan karena Ukraina dan Rusia adalah penghasil gandum dunia.

Serbuan sekitar 190 ribu anggota pasukan Rusia pada 24 Februari 2022 lalu dengan sasaran Ibu Kota Kyiv dan ingin mengganti pemerintahan yang dianggap anti-Rusia tak berjalan sesuai dengan rencana. Gagal menaklukkan Kyiv, Presiden Rusia Vladimir Putin mengkonsentrasikan pasukannya ke daerah timur, yang sudah dikuasai sejak awal penyerbuan, yaitu di Luhansk dan Donetsk—dua daerah yang dikenal sebagai Donbas.

Pasukan Rusia sudah menguasai sebagian besar Kherson dan Zaporizhzhia di awal perang, mendapatkan kendali atas sebagian besar pantai Laut Azov, serta mengamankan sebagian koridor darat ke Semenanjung Krimea. Krimea dicaplok Rusia dari Ukraina pada 2014. Mereka menyelesaikan pengambilalihan secara penuh sisi timur ini dengan merebut kota pelabuhan Mariupol setelah pengepungan selama tiga bulan.

Presiden Zelenskyy mengatakan pasukan Rusia saat ini menguasai hampir 20 persen wilayah Ukraina. Sebelum perang, Rusia baru menguasai 7 persen, termasuk Semenanjung Krimea dan sebagian Donbas. Namun dia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerah dengan mudah. “Kami mempertahankan Ukraina selama 100 hari. Kemenangan akan menjadi milik kami,” katanya.

Pemerintah Rusia menyebut serangan ke Ukraina sebagai “operasi militer khusus”. Dmitri S. Peskov, juru bicara kepresidenan Rusia, mengatakan operasi ini akan berakhir ketika tujuannya tercapai. “Pemenuhan tugas-tugas ini berarti akhir dari operasi militer khusus,” ujarnya seperti dilansir kantor berita Rusia, TASS, pada Kamis, 9 Juni lalu. Saat menguraikan tujuan operasi, Presiden Putin menyebutkan antara lain mengenai denazifikasi dan demiliterisasi Ukraina.

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin, mengklaim Ukraina punya peluang memenangi perang meskipun personel militer dan peralatan perangnya belum bisa mengimbangi Rusia. Selain memiliki moral yang tinggi dan dukungan senjata negara Barat, “Rakyat Ukraina siap berperang dan siap mati. Tentara mereka (Rusia) siap berperang tapi tidak siap mati,” ucapnya kepada Tempo pada Senin, 6 Juni lalu.

Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa hampir 80 persen orang Ukraina percaya bahwa negara itu “bergerak ke arah yang benar”. “Kami mungkin tidak memiliki cukup senjata, tapi kami melawan,” tutur Oleh Kubrianov, tentara Ukraina yang kehilangan kaki kanannya karena bertempur di dekat garis depan, seperti dilansir New York Times.

Ukraina mengklaim 33 ribu tentara Rusia tewas dan yang terluka lebih banyak. Menurut Hamianin, perbandingan korban tewas dan terluka 1 : 3. Presiden Zelenskyy mengatakan Ukraina kehilangan 60-100 tentara setiap hari.

Persenjataan Ukraina saat ini, kata Hamianin, masih belum mencukupi. Dia mengharapkan dukungan dari luar. Negeri itu mendapat bantuan senjata dari Eropa dan Amerika Serikat. Ada rudal Javelin dan Starstreak dari Inggris serta pesawat tak berawak produksi Turki, Bayraktar. “Itu lebih banyak untuk bertahan,” ujarnya.

Untuk melakukan serangan dan merebut kembali wilayah daratan, menurut Hamianin, yang dibutuhkan adalah senjata berat seperti artileri, rudal, tank, dan kendaraan lapis baja pengangkut personel. Ukraina juga membutuhkan senjata antikapal perang, rudal Harpoon, untuk menangkal rudal Rusia. “Sebagian rudal diluncurkan dari Belarus, tapi terutama dari kapal perang di Laut Azov dan Laut Hitam,” ucap Hamianin.

Sebagian persenjataan berat itu sudah mengalir ke Ukraina. Fox News melaporkan bahwa Denmark sudah mengirimkan rudal Harpoon ke Ukraina. Persenjataan artileri juga dilaporkan sudah mencapai garis depan Ukraina, termasuk meriam jarak jauh atau howitzer tipe M777, FH70, dan CAESAR SPH yang masing-masing dipasok oleh Amerika, Inggris, dan Prancis.

Amerika juga berjanji mengirimkan sistem roket artileri mobilitas tinggi (HIMARS) M142, peluncur roket yang presisinya cukup untuk menghancurkan sasaran dari jarak hingga 70 kilometer. Ini lebih jauh dari jangkauan howitzer dan lebih akurat daripada peluncur roket buatan Rusia.

Pengiriman senjata baru Amerika ini dapat meningkatkan risiko konfrontasi negara itu dengan Rusia. “Setiap pasokan senjata yang terus meningkat akan meningkatkan risiko perkembangan seperti itu,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov kepada kantor berita RIA Novosti.

Ian Bremmer, Presiden Grup Eurasia, lembaga konsultan keamanan, mengatakan senjata baru yang dijanjikan sejumlah negara Barat kepada Ukraina dapat membantu Ukraina merebut kembali beberapa kota yang diduduki Rusia. Ini juga berdampak signifikan bagi warga sipil di daerah itu. “Tapi itu tidak mungkin secara dramatis mengubah jalan perang,” ujarnya kepada New York Times.

Kolumnis Thomas Friedman dalam kolomnya di New York Times mengatakan mayoritas warga Amerika mendukung bantuan ekonomi dan militer ke Ukraina. Mempertahankan dukungan itu selama musim panas ini sangat penting karena ia menyebutkan perang Rusia-Ukraina kini memasuki fase “sumo”, dua pegulat raksasa yang masing-masing mencoba mengeluarkan yang lain dari arena.

Namun ada risiko bahwa dukungan itu menyusut karena melihat dampak besar perang ini yang bisa mendorong krisis pangan dan kenaikan harga energi global. “Saya masih berharap bahwa mayoritas orang Amerika akan bertahan di sana sampai Ukraina dapat memulihkan kedaulatannya secara militer atau mencapai kesepakatan damai yang layak dengan Putin,” katanya.

(Sumber: TEMPO)