FILM DESA PENARI DAN HISTORISITAS SIRAH NABI

FILM DESA PENARI DAN HISTORISITAS SIRAH NABI

Oleh: Muhammad Nuruddin

Di sela-sela mengerjakan tugas sekolah, selama beberapa hari belakangan ini saya iseng mencari-cari informasi tentang KKN Desa Penari, yang sedang ramai dibicarakan banyak orang itu. Nyari link haramnya nggak dapet-dapet. Yaudah akhirnya nonton yang tersedia di YouTube aja. Kebetulan kemarin siang yang menyimak kesaksian dari penulisnya langsung. Berdasarkan penuturannya, kisah yang dia tulis itu ternyata bersumber dari teman ibunya. 

Temannya ibunya itulah yang menjadi saksi mata dari kejadian itu. Merasa belum cukup, akhirnya sumber saksi mata yang pertama itu pun mengarahkan dia untuk menghubungi sosok yang lain. Singkat cerita, datanglah sang penulis menuju kediaman narsum yang kedua itu. Setelah ditelusuri, ternyata narsum kedua ini juga punya cerita yang hampir nggak jauh berbeda. Cerita yang satu saling melengkapi cerita yang lain, katanya. Ditulislah cerita itu. Dan ternyata responnya pun luar biasa. Yang nonton aja sekarang udah 7 juta lebih! 

Ya, memang penulis cerita sendiri berterus terang, bahwa apa yang dia tulis tidaklah sepenuhnya sama dengan apa yang dia simak. Ada sisi-sisi yang dia sertakan hanya sebagai "bumbu" cerita saja. Intinya, ada bagian-bagian yang agak dia lebih-lebihkan. Tapi itu nggak banyak. Bagian-bagian pentingnya itu sama, katanya. 

Kesimpulannya, berdasarkan apa yang saya dapat, cerita yang sekarang heboh dan dipercayai oleh banyak orang itu awalnya hanya berasal dari dua orang itu aja. Dan dua-duanya adalah saksi mata dari kejadian itu. 

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kira-kira respon kita ketika menyimak kabar semacam itu? 

Pastinya ada yang membenarkan, ada yang ragu, tapi ada juga yang tidak percaya. 

Namun, jika indikator kesahihannya itu kuat, biasanya kita akan langsung membenarkan. 

Padahal itu baru berasal dari dua orang loh. 

Dalam ilmu riwayat, itu masih tergolong sebagai riwayat ahad, yang secara epistemologis masih bisa menimbulkan keraguan. Kalau ada yang meragukan, maka keraguan itu tentu masih beralasan. 

Sekarang bagaimana kalau seandainya peristiwa itu disampaikan oleh 50 orang, dan semuanya mengabarkan kejadian yang sama? Bukankah ketika itu kita akan semakin yakin dengan kebenaran kisah itu? Ya, pastinya begitu. Memang begitulah dampak yang dihasilkan dari pengabaran orang banyak. 

Lalu, pertanyaan selanjutnya, apakah kita memerlukan bukti tertulis untuk membenarkan kejadian itu? Ya nggak harus lah. Pengabaran orang banyak itu sendiri sudah bisa bisa dijadikan sebagai sumber sejarah yang valid. Asalkan memenuhi syarat-syaratnya. 

Ini hanya sebagai contoh sederhana untuk menegaskan kembali alasan kenapa kita percaya dengan keotentikan al-Quran, seperti yang sudah saya sampaikan dalam salah satu tulisan sebelumnya itu. 

Manusia yang meriwayatkan al-Quran itu jumlahnya sangat buanyak. Riwayatnya bersanad, sanadnya bersambung, dan sanad itu sampai kepada penerimanya yang pertama. 

Kalau kita merasa kurang yakin dengan keotentikan isinya, lalu merujuk pada riwayat-riwayat ahad, yang hanya disampaikan oleh segelintir orang itu, kemungkinan besar memang ada yang nggak beres dengan isi otak kita. 

Sekarang saya tertarik mengajak Anda untuk melihat kekacauan cara berpikir tokoh liberal Mun'im Sirry yang lain, ketika dia berupaya untuk meragukan kitab-kitab Sirah (sejarah hidup Rasulullah). 

Menurutnya, kitab-kitab sirah itu tidak memenuhi standar penulisan sejarah, hanya dengan alasan bahwa kitab-kitab itu ditulis belakangan, dan tidak ada bukti tertulis yang sezaman dengan kejadiannya. 

Alasan yang sangat aneh. 

Mengingat bahwa sumber-sumber tertulis, atau bukti-bukti fisikal, itu bukanlah satu-satunya sumber yang valid untuk menarasikan sejarah. Karena dia sendiri masih bisa menimbulkan keraguan. Apalagi kalau tidak diketahui asal usul penulis dan pembuatnya. 

Para sejarawan yang adil sendiri tidak memberlakukan syarat aneh semacam itu. Yang terpenting itu, kata para sejarawan, harus ada sumber yang sezaman. Betul. Memang harus ada sumber yang sezaman. Tapi sumber yang sezaman itu nggak harus berupa tulisan, atau bukti-bukti fisikal. Karena informasi lisan pun, apalagi kalau dia berasal dari orang banyak, punya nilai sejarah yang tidak kalah kuat. Periwayatan orang banyak itu bisa dijadikan sumber sejarah, selama itu memenuhi syarat-syaratnya. Jangankan orang banyak. Informasi segelintir orang saja faktanya bisa meyakinkan kok, kalau didukung oleh indikator-indikator lain. 

Belum lagi kita dihadapkan pada fakta sejarah bahwa orang-orang Arab dulu itu dikenal kuat hafalannya. Sampai sekarang pun begitu. Untungnya lagi, dalam tradisi intelektual Islam telah dikembangkan satu disiplin ilmu yang secara khusus mengkaji dan menyeleksi riwayat-riwayat itu. 

Kaidah-kaidah penyeleksian riwayat itu bisa kita baca dalam ilmu Musthalahul Hadits dan ilmu Jarh wa Ta'dil

Apakah itu layak disebut sebagai kajian historis? Ya jelas dong. Wong yang mereka bicarakan juga sejarah kok. Sampai sejarah hidup para perawinya pun mereka bahas. Bahkan jadi satu disiplin ilmu tersendiri. Umat agama lain nggak punya disiplin ilmu semacam ini. Mereka nggak kenal sama yang namanya sanad. Cuma umat Islam doang yang punya itu. Makanya mereka iri. Dan mereka ingin agar agama kita bisa dikaji secara 'kritis' seperti halnya agama-agama yang lain. 

Satu pilihan sikap yang sangat tidak adil. Karena sejak awal Islam memang sudah berbeda dengan agama-agama yang lain. Mun'im adalah salah satu pengkaji Muslim yang menjadi korban dari keculasan berpikir para Orientalis itu. Kasihan sebenernya. Tapi memang begitulah resiko kalau belajar agama tidak kepada ahlinya. Sejak jauh-jauh hari para ulama Muslim sudah bersikap kritis terhadap riwayat-riwayat yang mengisahkan tentang sejarah hidup nabinya itu. Yang palsu dikatakan palsu. Yang asli dikatakan asli. Yang ahad dikatakan ahad. Yang mutawatir dikatakan mutawatir. Dan kesimpulan2 itu terlahir dri metode keilmuan yang sudah benar-benar mapan. Lalu dia yang nggak punya metode apa-apa itu seenaknya mengajak umat Muslim untuk bersikap kritis terhadap kitab-kitab para ulamanya. 

Punya metode kagak. Tapi sok-sokan ingin bersikap kritis. Mukamu ketinggalan di mana? Sikap tidak adil semacam itu sejujurnya tidak pantas ditampilkan oleh seorang sarjana yang baik. Apalagi seorang Muslim. Kecuali kalau dia sudah mentahbiskan dirinya sebagai budak Orientalis. Kalau Anda benar-benar mau mengkaji sejarah kehidupan nabi secara objektif, dan Anda hanya ingin bersandar pada riwayat-riwayat yang sahih, metode para ahli hadits itu sejujurnya sudah bisa Anda gunakan. Para ahli hadits dikenal punya metode yang ketat dalam menyeleksi riwayat-riwayat. 

Pertanyaannya, sudah adakah kitab sirah yang secara khusus menerapkan metode mereka itu? 

Sudah ada. Ini saya fotokan judul kitabnya (lihat foto atas -red). Dan dengan metode yang sedemikian ketat itu rekam jejak kehidupan Nabi Muhammad Saw masih bisa tergambar dengan jelas. 

Kalaulah benar Mun'im ingin melakukan pencarian "Muhammad Historis", dengan metode penyeleksian riwayat yang benar-benar ketat, mungkin buku setebal 821 hlm ini bisa dijadikan sebagai salah satu rujukannya. Jadi narasi tentang "Muhammad Historis" itu sebetulnya sudah ada. Nggak usah dicari-cari lagi. Kaya kurang kerjaan aja. Metode yang digunakannya pun jelas. Kaidah-kaidahnya juga jelas. Yang sanadnya terbukti sahih aja belum tentu bisa diterima. Kalau itu bertentangan dengan sesuatu yang lebih meyakinkan, seperti halnya al-Quran, atau hukum-hukum akal. Kurang ketat apa itu? Yang diperlukan hanya objektivitas aja sebenernya. 

Akui terlebih dulu bahwa riwayat-riwayat lisan itu juga punya nilai historis yang setara dengan sumber-sumber tertulis. Bahkan bisa jadi lebih kuat. Apalagi kalau itu bersumber dari orang banyak. 

Dari mana Anda bisa menjamin kalau sumber tertulis itu bisa lebih terpercaya ketimbang sumber lisan? Apa alasan penguatnya? Bagaimana kalau sumber tertulis itu ditulis oleh orang yang berkepentingan? Bagaimana kalau sumber tertulis itu berasal dari orang yang tidak jelas asal-usulnya? Bagaimana kalau dia ditulis oleh seorang pembohong? Atau pelupa? Atau punya hafalan yang lemah? Bukankah dengan adanya kemungkinan-kemungkinan itu dia pun masih bisa untuk kita ragukan? 

Para ulama Muslim sudah punya metode yang ketat dalam menyeleksi riwayat-riwayat itu. Hormati kaidah itu dengan baik. Karena semua kaidah itu dirumuskan dengan jerih payah yang luar biasa. Kalau mau menyeleksi riwayat-riwayat, ya tinggal Anda gunakan saja metode itu. Kalau perlu dikembangkan. Tapi dengan berpijak pada metode yang sudah dirumuskan. Alih-alih menerima, Mun'im ini malah menolak seenak dengkul. Dan karena penolakan ini juga dia tidak memandang Syahadat sebagai kredo ajaran Islam yang benar-benar berasal dari nabi. Meskipun itu diriwayatkan oleh jutaan umat Muslim. 

"Saya tidak percaya bahwa riwayat itu bisa mengantarkan kita pada kebenaran historis." Katanya. 

Lah alasanmu apa? Pernyataan bahwa riwayat lisan tidak bisa mengantarkan kita pada kebenaran historis itu sendiri adalah sebuah klaim yang harus dibuktikan dengan argumen. Dan argumennya harus benar-benar masuk akal. 

Lalu dengan argumen apa Anda bisa membuktikan bahwa riwayat lisan itu tidak bisa dijadikan sebagai sumber sejarah yang valid, dan yang bisa dijadikan sumber sejarah itu hanyalah bukti-bukti fisikal dan tertulis saja? Apa alasan penguatnya? Karena pada faktanya baik lisan maupun tulisan itu sama-sama memuat informasi. Yang ini berisikan informasi, yang ono juga berisikan informasi. Yang ini mungkin mengalami distorsi, sumber tertulis juga punya kemungkinan itu. Mun'im tidak mengabaikan sumber-sumber Muslim itu sama sekali. Pertanyaannya, lalu metode apa yang ingin Anda tawarkan agar kita bisa menyeleksi mana yang benar-benar historis dari sumber-sumber lisan yang begitu berlimpah itu? Di sini dia akan malu sendiri. Karena memang dia nggak punya metode ilmiah apapun. Yang penting asal kritis aja deh. Dan begitulah konon kajian ilmiah yang ingin dia pertontonkan itu.

(fb)