Seorang Dai Jangan Terlalu Bergantung pada Manusia

Seorang dai jangan terlalu bergantung pada manusia

Orang seperti beliau mempunyai anak seorang presiden, murid-muridnya semua jadi mufti di setiap mazhab yang empat, sebagian muridnya menjadi pimpinan naqabah amal seperti persatuan dokter, persatuan insinyur, dll. Sebagian muridnya adalah saudagar besar. Ketika Kekhilafahan Ottoman masih berdiri beliau termasuk orang yang tidak berani ditolak perintahnya oleh Sultan. Beliau adalah Syeikh Badruddin Alhasany (1850-1935M).

Syeikh Badruddin Alhasany kebutuhan hidupnya hanya makanan tiap hari cuma satu mangkuk sywarba adas, seperti bubur yang terbuat dari biji adas yang harganya sangat murah meriah. Dan tidak ada lagi yang beliau butuhkan selain itu. Tidak rumah, tidak pakaian baru, tidak apapun untuk materi, apalagi hiburan.

Itu sebabnya beliau tidak bisa dibeli, beliau tidak butuh apa-apa dari manusia. Sebaliknya semua tokoh besar membutuhkan beliau, karena pengaruh beliau, jadi bagaimana cara beliau bisa dikendalikan? Tidak ada. Karena beliau tidak butuh apa-apa dari mereka, makanya semua orang percaya ketika beliau memberi nasehat, kepentingan pribadi tidak terlibat disitu, jadi murni karena beliau ingin melihat mereka jadi lebih baik. Tak jarang seorang yahudi dan nasrani pun akan mengikuti nasehat beliau, karena melihat kepribadian beliau

Begitulah contoh  seorang dai yang harus dijadikan qudwah, seharusnya mereka cukup ghani billah, mencukupkan diri dengan Allah, dan ghani aninnas, tidak menginginkan apapun dari apa yang dimiliki manusia. Beliau bukan seorang yang hidup di abad pertengahan, atau cerita dalam cerita dongeng, beliau Syeikh Badrudin Alhasany, seorang yang hidup di zaman kita, dimana wafatnya beberapa puluh tahun lalu, dan orang yang menjumpai beliau masih banyak yang hidup.

Ada ribuan kisah tentang beliau. Yang membuat kita berfikir, beliau itu beneran manusia ya? Jujur saja, jika ada manusia yang paling aku kagumi yang hidup dalam 100 tahun terakhir, aku akan memilih beliau tanpa perlu berfikir panjang.

(Fauzan Inzaghi)