Setiap Tere Liye Kritik Pemerintah, Diserang Buzzer-buzzer Sampah

Setiap kali page Tere Liye merilis postingan ttg utang negara, korupsi, anak-mantu bagi-bagi jabatan, dll, dsbgnya, selalu saja muncul akun-akun model begini komen.

Duh, Dik, kamu keliru sekali jika penulis novel tidak ngapa-ngapain.

Kamu tahu berapa buku bajakan Tere Liye yang beredar sejak 2010? Kami pernah menghitung total buku bajakan Tere Liye di marketplace tahun 2018. Tidak kurang 1 juta di tahun itu saja. Totalkan 10 tahun terakhir. Fantastis.

Kamu tahu berapa nilai kerugian hanya di tahun 2018? 100 milyar lebih. Coba kalau itu bukunya original, bisa bayar pajak ke negara loh. PPN-nya tahun 2018 (masih ada PPN buku tahun tsb), bisa ngasih 10 milyar. Belum pajak royalti, pajak penghasilan penerbitnya, dll, dsbgnya.

Kita baru ngitung buku bajakan loh ini, kita belum ngitung kontribusi realnya. Jangan sepelekan penulis novel, Dik. Bahkan tukang bakso pun boleh jadi ngasih duit ke negara lebih banyak dibanding komisaris BUMN, Jenderal, Menteri, dll, dsbgnya (yg justeru digaji oleh negara). Kamu tahu, anggota DPR itu bahkan pajak penghasilan saja ditanggung negara. Tukang bakso, kalau dia tertib bayar pajak, lapor SPT, dia real pahlawan sejati. Patriot. Dia ngasih duit ke negara. Bukan ngemis minta, bagi-bagi proyek.

Sayangnya, komen-komen begini datang dari orang-orang yang bahkan tidak pernah lapor SPT. Termasuk akun-akun raksasa, buzzer-buzzer sampah itu, coba tanya, berapa sih pajak mereka ke negara?

Kamu benar2 di-bego-in oleh oligarki negeri ini. Lihatlah, anak-mantu, bagi-bagi jabatan. Terang-benderang tidak malu-malu lagi. Bansos dikorupsi. Ujung ke ujung koruptor ada. Sementara utang meroket terus. Mereka semakin kaya raya. Rakyat blangsak, bahkan beli minyak goreng saja muahalnya minta ampun, di negeri yg hutannya habis utk kebun sawit. BEGO!

Baiklah, salam buat Harun Masiku.

(By Tere Liye)

*fb