Bagaimana Perasaanmu Andai di Desamu Hanya Terdapat 3 Orang Muslim?

Bagaimana perasaanmu andai di desamu hanya terdapat 3 orang muslim? Pasti rasanya sepi dan sunyi sekali. Pasti rasanya bagai orang asing. Itulah yang dirasakan oleh Mbah Sapar, seorang warga Dusun Diwak.

Saat ini di Dusun Diwak hanya terdapat 3 orang muslim. Yaitu Mbah Sapar beserta istri. Serta Mas Puan, tetangga sebelah Mbah Sapar.

Tadinya keluarga Mas Puan muslim, tapi akhirnya berpindah keyakinan. Mereka murtad karena faktor pengobatan. Saat itu adiknya Mas Puan menderita sakit parah. Sudah berusaha diobati di beberapa tempat dan menghabiskan banyak baiya, tapi tak sembuh juga.

Akhirnya diobati alternatif. Yaitu pengobatan melalui doa oleh pemuka agama lain. Dengan syarat harus berpindah keyakinan dulu. Akhirnya mereka berpindah agama. Hanya Mas Puan seorang dalam keluarganya yang tetap teguh tak mau berpindah agama. Tapi tak lama berselang adiknya meninggal. Pengobatan doa tersebut tidak berhasil mengobati adiknya.

Sebenarnya di bulan Ramadhan kemarin ada 5 orang muslim. Tapi kemudian yang 2 orang memutuskan berpindah agama belum lama ini.

Seorang berpindah agama karena menikah dengan non muslim. Dan seorang lagi murtad entah karena faktor apa. KTPnya masih Islam tapi dia sudah murtad. Sewaktu kemarin sore tim kami mau menyambanginya untuk mengantarkan bingkisan, dia justru berkata pongah, "Wani piro?"

Kami kaget mendapati sambutannya yang tak ramah. Lebih kaget lagi mendapati fakta bahwa dia sudah berbeda keyakinan.

Rasanya shock dan tak menyangka, hanya dalam waktu beberapa bulan saja kondisi sudah berubah. Komposisi muslim semakin mengerucut di desa yang sudah minoritas ini.

Lebih sedih lagi ketika mendapati pertanyaan Mbah Sapar, "Kok lama sekali nggak kesini? Sudah ditunggu lama lho..."

Pertanyaan Mbah Sapar bagai godam yang menghujam ulu hati 😭. Mengingatkan kami bahwa kami telah teledor. Lama tak menyapa mereka ....

Maafkan kami Mbah Sapar....
Maafkan kelalaian kami....
Insya Alloh untuk ke depannya kami akan menyapa rutin setiap bulan.
Agar Mbah Sapar dan Mas Puan tak merasa sendiri..

(fb Widi Astuti)