Propaganda Yang Merusak "Kita cuma berbeda dalam memilih dosa.."

"Kita cuma berbeda dalam memilih dosa", kemarin ada yang komen begitu di postingan saya. Gak ngerti juga entah penggalan quote ini awalnya dari lisan siapa, tapi emang sudah sering dengar. Quotes lengkapnya saya lampirkan di foto postingan (lihat gbr atas -red).

Sepintas kelihatannya bijak, tapi sebenarnya ini berpotensi menebar syubhat. Sayangnya, pernah beberapa kali saya temukan diposting oleh orang-orang berilmu yang paham agama. Padahal kalo mau jujur ini lebih dekat ke perkataan orang jahil yang bisa menimbulkan kerusakan.

Seolah-olah boleh tambal sulam syariat. Semisal gak apa-apa buka aurat asal rajin sholat. Atau gak apa-apa zina asal ahli sedekah, dll. Memisahkan syariat yang satu dan yang lainnya. 

Sekuler nanggung ini mah. Bahkan dosa pun dianggap pilihan. Naudzubillah minzalik.

Coba deh iseng search di beranda fesbuk dengan kata kunci "kita hanya berbeda dalam memilih dosa", maka keliatan kualitas orang-orang yang pernah pake kalimat ini sebagai hujjah.

Nah, soal yang kemarin komen pake quote ini, padahal saya cuma share fiqih nasab loh. Tentang nasab anak angkat dan kemungkinan terburuk yang menyertainya. Eeh, mencak-mencak dia. Saya didoain yang bukan-bukan. Belum saya jawab, sudah diblok. Huuft..

Jadi begini ya, sebagai agen pengepul quote nasihat, sebenarnya saya juga sudah memilah dan mikir konsekuensi setiap postingan saya. Nasihat agama itu semuanya akan jadi sensi kalo kena ke kita. Tapi solusinya bukan agama yang harus menyesuaikan. Kita dong yang mesti introspeksi, walaupun naluriah manusia memang biasanya di awal-awal secara responsif akan auto mencari pembenaran.

"Abang enak ngomong gitu karena gak merasakan apa yang kami rasa"
Haduh, bukan gitu konsepnya.

"Abang sudah ngaji, mestinya lebih empati ke kami yang awam dan susah nerima"
Haduh, gak gitu juga.

Saya juga tholabul ilmi newbie. Justru sharing nasihat lebih sering diniatkan sebagai bahan diskusi dan nyari-nyari ilmu juga. Karena kadang saya menemukan ilmu baru yang belum saya ketahui justru di kolom komen.

Sejujurnya sedikit kesal kalo ada yang ngomong "jangan merasa suci, atau jangan merasa paling benar".

Padahal soal aqidah harusnya memang merasa paling benar, gak boleh ada keraguan, karena ini menyangkut pondasi beragama. Kecuali perkara lain yang khilafiyah, ya bolehlah lapang dada.

Ini mungkin menurut saya aja, bisa benar bisa salah, bahwa merasa benar sendiri itu masih lebih baik daripada merasa benar semua. Wallahu'alam bisshawab.

Yuk, mari sama-sama belajar. Ngaji itu pilihan, jangan dosa yang dijadikan pilihan. InsyaAllah gak ada niat saya gak empati apalagi merendahkan yang belum ngaji. Saya juga baru nuntut ilmu. Bagaimana mungkin mau merendahkan orang, sementara saya cuma 165 cm, masih jauh dari Elkan Baggot :)

(Arham Rasyid)