GP Ansor Kecam Sikap Kapolres dan Pemda Lombok Tengah Izinkan Muslim United Gelar Tabligh Akbar

Kalau jaga gereja ok? Gak apa-apa? Tapi kalau sesama muslim (beda ormas) mau adain Tabligh Akbar kok tanggapannya negatif? Kok curiga mulu? Kenapa semua-semua dikait-kaitkan dengan politik? 

GP Ansor Kecam Sikap Kapolres dan Pemda Lombok Tengah Izinkan Muslim United Gelar Tabligh Akbar

LOMBOK - Beredar kabar jika kegiatan Tabligh Akbar akan dilaksanakan Muslim United. Dari informasi yang beredar, kegiatan tabligh akbar itu akan berlangsung pada 18 Desember mendatang. Tak tanggung-tanggung, kegiatan yang akan dihadiri beberapa da’i kondang itu dirangkai dengan berbagai event sosial-keagamaan.

Kegiatan yang tinggal menghitung hari ini mendapat respon dari berbagai kelompok masyarakat. Sebut saja Gerakan Pemuda Ansor Lombok Tengah. 

Ketua GP Ansor Lombok Tengah dalam keterangannya mengaku kecewa dengan sikap Kapolres dan Pemda Lombok Tengah. 

Ia menilai kedua instansi tersebut terlalu cepat memberikan izin untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.

Selain soal pandemi dan varian baru Covid-19 yang kembali menjadi PR pemerintah, ia juga menilai track record Muslim United ini perlu dievaluasi. Menurut Wahyu Satriadi, kegiatan Tabligh Akbar Muslim United pernah ditolak di berbagai daerah. 

“Seingat saya, tahun 2019 lalu Sultan Jogja tidak memberikan izin penggunaan masjid Gede untuk kegiatan Muslim United. Sikap Sultan Jogja ini perlu menjadi perhatian kita bersama,” terang Wahyu. “Ada apa dengan Muslim United, siapa Muslim United itu?” ujarnya, bertanya-tanya, seperti dilansir AkurasiNTB.com, Rabu (15/12/2021).

Wahyu mengatakan kegiatan Tabligh Akbar yang diadakan Muslim United itu adalah kegiatan positif. Cuman ia mewanti-wanti jangan sampai ada tujuan dan upaya-upaya terselubung yang ingin dicapai dengan kegiatan atas nama agama dan Ummat tersebut. Ia menuturkan masih terngiang-ngiang dengan konstelasi politik nasional 2019 silam. Betapa agama telah diperjual-belikan demi kepentingan politik sesaat.

“Tolong agar semua pihak tidak menjadikan agama sebagai alat politik. Sudah, jangan jual agama demi kepentingan sesaat!”, harapnya mengajak. 
Ia berharap, situasi dan kondisi 2019 tidak kembali terulang ditahun-tahun selanjutnya. “Mari kita berdakwah dan berIslam, tapi jangan sampai ada tujuan dan embel-embel politik didalamnya”, serunya. “Mari kita jadikan Islam sebagai pegangan, bukan alat untuk saling serang-menyerang”, ketusnya, menambahkan.

Ketua GP. Ansor Lombok Tengah ini meminta Kapolres dan Pemda Lombok Tengah dan pihak-pihak terkait untuk tabayyun. 

“Masjid Agung Lombok Tengah milik masyarakat Lombok Tengah sehingga setiap kegiatan disana (Masjid Agung Lombok Tengah, red) Pemda Lombok Tengah harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan masyarakat Lombok Tengah,” sarannya.