PAK LUHUT... CINA LAGI... CINA LAGI...

[Catatan Agustinus Edy Kristianto]

Saya tidak bicara soal Covid-19 itu nyata atau tidak; vaksin itu bermanfaat atau tidak. Saya bicara mengenai apa yang pandemi ini ajarkan untuk peradaban kita. (Seharusnya) tentang meningkatnya iman kepada Tuhan dan hidup yang lebih baik.

Bisnis pandemi itu ada. Bergulir kencang. Menghasilkan untung demi untung. Menciptakan manusia-manusia yang terus bertambah kaya. Pada beberapa kasus mengeksploitasi histeria dan kepanikan masyarakat. Meningkatkan demand terhadap produk dan jasa kesehatan. Ketika dipertanyakan, kita akan disudutkan sebagai penghasut.

Saya flashback pandemi ini dalam tiga paragraf:

(1) Akhir 2019, kita dengar-dengar ada virus namanya corona. Awal 2020, Imlek. Mobilitas orang keluar-masuk China. Lalu muncul kasus Wuhan. Di Indonesia ada kabar 100-an orang positif. Jokowi bergeming mau promosi pariwisata. Pejabat bilang corona ogah masuk Indonesia, apa itu corona (merek mobil), dan obatnya nasi kucing. Lalu 3 kasus pertama orang Depok. Lalu WFH, nyanyi "Rumah Kita". Masih Maret 2020, Jokowi bilang obatnya Avixxn dan Chlxxxquine, borong 5 juta. Oh, ternyata Ivermxxxtin. Oh, bukan, ternyata vaksin. Vaksin nusantara. vaksin merah putih, vaksin TNI... Lalu beli Sinovac Rp637 miliar (Desember 2020). Vaksin gratis, vaksin mandiri, vaksin gotong royong... Ternyata masih kurang. Perlu booster. Pfizer, Moderna dkk. 

(2) Saham Kimia Farma (KAEF) capai All Time High di 7.575 pada 12 Januari 2021. INAF juga, di 7.350 pada hari yang sama. Kebayang profitnya buat yang akumulasi dari lama, kan.

(3) Sementara semua itu berlangsung, tingkatkan tracing. Hidung orang dicolok-colok. Orang-orang PCR untung Rp10 triliun, kata ICW. Malaysia heran. PM Italia heran, kenapa Indonesia cepat betul vaksin 108 juta orang (kata Menkes), padahal tidak punya pabrik. Eh, entah mengapa cocok betul, kini kita mau bangun pabrik vaksin bersama China. Tahun depan, juga mulai dijual bebas booster. Kok jualan terus, ya?

Coba pelan-pelan kita pikir. Setiap kita bicara China, sebetulnya itu merujuk ke siapa: pemerintah China? Perusahaan China? Warga negara China? Konsorsium China? Duit China? Perwakilan China? Teknologi China? Apanya.. ?

Menko Marives Luhut Pandjaitan berkata pabrik dibangun di Pulogadung. Teknologinya mRNA, seperti Pfizer punya. "Kita 'curi' teknologi itu," katanya (Suara.com, 7/9/2021). Yang produksi Etana Biotechnologies bekerja sama dengan perusahaan China Walvax Abogen. South China Morning Post menuliskan Walfax adalah konsorsium Yunnnan Walvax Biotechnology, Suzhou Abogen Biosciences, dan Academy of Military Science. Sementara Etana adalah anak perusahaan PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA), yang sahamnya dipegang Biotechnologies Hong Kong Limited dan PT Optel Indonesia. 

Darya tidak asing buat saya. Dulu dikenal dengan Medifarma. Pabriknya di Pulo Gadung dan Cimanggis, Depok. Bapak saya hampir 30 tahun jadi satpam di situ. Waktu kecil saya suka cari layangan putus di situ. 

Walfax Abogen itu siapa? Pabriknya kayak apa? Banyak layangan putus di atapnya tidak? Karyawannya siapa saja... 

Sama pertanyaannya, Sinovac itu siapa, di mana pabriknya, bagaimana aktivitas kantornya, bagaimana keuangannya... Di Crunchbase, ada nama start-up Sinovac Biotech. Kantornya di Beijing, di employee profiles ada dua nama: Weidong Yin (CEO) dan Nan Wang (CFO). Orang-orang ini siapa? Mukanya kayak apa? Kariernya seperti apa? Mana karya ilmiahnya yang bisa kita baca dalam jurnal-jurnal medis kelas dunia?

Anda perlu nonton dokumenter The China Hustle (2017). Sama pertanyaannya: Orient Paper itu siapa? Tech Pro itu siapa? Advanced Battery Technologies (ABAT) itu siapa? Alibaba itu siapa? 

Film itu menceritakan ekspansi perusahaan-perusahaan China ke bursa AS. Masuk melalui proses reverse merger (cari perusahaan terdaftar tapi tidak aktif, akuisisi, ganti nama, konferensi pers), lalu ambil banyak untung setelah melantai. Mereka diperantarai perusahaan-perusahaan investasi, seperti Roth Capital Partners. Ada juga (ya, kok kebetulan juga) peran bekas jenderal militer Wesley Clark, chairman Rodman & Renshaw, yang memuluskan ganti kulit perusahaan China itu. Kubu ini berada di posisi rekomendasi BUY (LONG) saham. 

Lalu ada perlawanan dari para pialang. Mereka teliti dan investigasi aktivitas perusahaan-perusahaan itu sebenarnya di China langsung. Ternyata bapuk. Perusahaan bernilai miliaran dolar cuma punya satu supir pengangkut batubara, tumpukan kertas senilai US$5 juta yang berbau busuk, dsb. Riset dipublikasikan. Mereka melawan dengan berada di posisi SHORT. Jual kosong di atas (pinjam saham orang), beli ketika jatuh, kembalikan ke yang punya saham, ambil selisih. 

Ada satu pepatah China yang dikutip: "Dalam air yang jernih, kita tidak bisa menangkap ikan." Semakin kebenaran fakta diungkapkan, semakin mereka kuat bertahan. Seperti Kun Huang, peneliti kubu Short yang dipenjara. 

Cocok. Indonesia keruh. Tanahnya abu-abu. 

Mari menangkap ikan.

Pesan saya buat masyarakat, jangan mudah silau dengan nama (China, Amerika, dsb), tanpa lihat bukti-buktinya. Setiap omongan pejabat, korting 80%. Cek ricek, ambil jarak, jangan buru-buru ambil posisi. Yang tahu siapa kita sebenarnya adalah diri kita sendiri. Jangan mau didikte!

Pak Luhut, sudahlah. Kembangkan saja yang lokal punya. Mau Merah-Putih, Nusantara, TNI, Airlangga... Terserah. Yang kita tahu persis siapa orangnya, di mana rumahnya, siapa keluarganya, masa kecilnya bagaimana... 

Tidak usah ajak China. Masak 250 juta orang Indonesia tidak ada yang bisa jadi 'maling' teknologi orang. 

Dalam dunia permalingan, kita punya reputasi yang cukup bagus, lho.

Salam Maling.

*fb penulis