Dudung: Salah, Ngotot dan Nyolot

Oleh: Ahmad Khozinudin (Advokat Muslim)

"Saya ini Panglima Kostrad, bukan ulama. Jika ulama mengatakan bahwa semua agama itu benar, berarti ia ulama yang salah." [Letjen Dudung Abdurahman, Kamis 16/9/2021]

Pangkostrad Letjen TNI Dudung Abdurahman merespons sejumlah kritik yang ditujukan kepada dirinya terkait statemen 'Semua Agama Benar Dimata Tuhan'.

Bukannya menginsyafi kekeliruan, mengunggah permohonan maaf sekaligus berkomitmen untuk tidak mengulanginya, Jenderal yang dikenal dengan prestasi 'Menurunkan Baliho' ini justru mengumbar narasi kejumawaan. Seperti tepuk dada, dia mengenalkan statusnya sebagai Panglima Kostrad, bukan ulama.

Lucunya, dia mengakui jika statemen yang diucapkan berasal dari ulama barulah keliru. Itu artinya, ada pengakuan secara implisit bahwa pernyataan 'Semua Agama Benar Dimata Tuhan' keliru dalam pandangan ulama.

Namun, Dudung meminjam status Pangkostrad untuk melegitimasi pernyataannya. Seolah, pernyataan itu sah jika disampaikan pangkostrad, keliru jika disampaikan ulama.

Padahal, sebagai prajurit atau pangkostrad, semestinya Dudung mengikuti pendapat ulama yang telah memiliki ilmu. Bukan memaksakan berstatemen, dengan mengabaikan ilmu.

Kecuali, Dudung bicara tentang strategi pertahanan kedaulatan bangsa dan negara, strategi perang semesta, strategi Proxy War, barulah Dudung punya kapasitas untuk bicara. Tentara yang memaksakan diri bicara yang bukan keahliannya, justru terlihat jelas kejahilannya.

Adapun terkait Pluralisme yang menjadi inti statemen Dudung, telah ada fatwa MUI. Fatwa ini dikeluarkan MUI tahun 2005.

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), pluralisme agama adalah paham yang menganggap semua agama adalah sama. Dalam pandangan MUI, paham ini sangat berbahaya, sesat dan menyesatkan bagi umat Islam. Oleh karena itu, MUI mengharamkan pluralisme agama dan melarang umat Islam menganut paham ini.

Dalih menjaga toleransi, agar tidak ada fanatisme beragama, yang disampaikan Dudung salah kaprah. Toleransi dalam beragama cukup dengan memberikan kebebasan kepada pemeluk agama untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Bukan dengan membenarkan semua agama.

Dalam Islam, justru harus memiliki keyakinan fanatis bahwa hanya Islam agama yang diterima disisi Allah SWT. Tidak ada agama yang diridhoi Allah SWT, kecuali hanya Islam.

Semestinya, Dudung menjadikan keyakinan agama sebagai spirit untuk menjaga kedaulatan negara. Untuk menyemangati prajurit. Bukan mengkerdilkan keyakinan, yang hal ini justru melemahkan mental tentara saat menghadapi ancaman.(*)