Dialog Soekarno – Soeharto Tentang Pembubaran PKI akibat G30S 1965

Dialog Soekarno – Soeharto Tentang Pembubaran PKI akibat G30S 1965

Pengakuan Soeharto:

Pada kesempatan berdialog, Bung Karno menegaskan “Har, saya ini sudah diakui sebagai pemimpin dunia, konsep Nasakom sudah saya jual kepada bangsa-bangsa di dunia ini.

Sekarang saya harus membubarkan PKI, di mana, Har, saya harus menyembunyikan muka saya.”

Dengan tenang dan hormat tetapi sungguh-sungguh saya menjawab, “Pak, kalau masalahnya untuk konsumsi dunia luar, gampang, jadikan saya bumper, saya yang akan membubarkan PKI, bukan Bapak, tetapi ke dalam negeri Bapak harus ngegongi (menyetujui).” demikian Soeharto

Percakapan itu terjadi dalam pertemuan keduanya, setelah meletus G30S di tahun 1965 hingga 11 Maret 1966.

Dalam kurun waktu kurang dari setahun yang genting bagi kedua tokoh itu, disebutkan Soeharto dalam otobiografinya, lebih dari sepuluh kali mereka bertemu.

Beberapa pertemuan dilakukan tanpa kehadiran orang lain, empat mata.

Pembubaran PKI adalah hal yang didesak oleh rakyat, dan Presiden Sukarno mementingkan reputasinya sebagai pemimpin di mata dunia, maka Surat Perintah Sebelas Maret (Super Semar) barangkali adalah jalan keluar.

Berbekal surat tersebut, sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat, Soeharto, ia melakukan pembubaran partai komunis.

Mengapa Soeharto? Ya karena bukan AH Nasution atau Pranoto yang bergerak . Soekarno memerintahkan Pranoto bekerjasama dengan Soeharto untuk pembubaran PKI.

Benarkah tindakan Soeharto itu? Ketika ada tuduhan bahwa Soeharto mengambil alih kekuasaan maka Soekarno sendiri justru yang membantahnya

Pengakuan Soekarno:

Pada pidato pada 17 Agustus 1966, Presiden Sukarno menjawab hal lain:

… Apalagi kataku tadi, dalam tahun 1966 ini! Tahun 1966 ini, kata mereka, ha, eindelijk, eindelijk, at long last, Presiden Sukarno telah dijambret oleh rakyatnya sendiri, Presiden Soekarno telah di-coup; Presiden Sukarno telah dipreteli segala kekuasaannya, Presiden Sukarno telah ditelikung oleh satu triumvirat yang terdiri dari Jenderal Soeharto, Sultan Hamengku Buwono, dan Adam Malik!

Presiden Sukarno menyebutkan “kata mereka”. Siapa mereka? Tidak dengan jelas disebutkan.

Namun bisa dibaca dari bagian lain dari pidato yang diberi judul “Jangan Sekali-Sekali Tinggalkan Sejarah” itu:

…Surat Perintah 11 Maret, kata mereka, bukankah itu penyerahan kekuasaan kepada Jenderal Soeharto?

“Dan tidakkah pada waktu sidang MPRS yang baru lalu, mereka – reaksi, musuh-musuh kita – mengharap-harapkan, bahkan menghasut-hasut, bahkan menujumkan bahwa sidang MPRS itu sedikitnya akan menjinakkan Sukarno, atau akan mencukur Sukarno sampai gundul sama sekali, atau akan mendongkel Presiden Soekarno dari kedudukannya semula?

“Kata mereka, dalam bahasa mereka, ”The MPRS session will be the final settlement with Sukarno”, artinya sidang MPRS ini akan menjadi perhitungan terakhir – laatste afrekening – dengan Sukarno,” ujar Sukarno.

Surat Perintah 11 Maret itu, kata Sukarno, mula-mula, dan memang sejurus waktu, membuat musuh-musuhnya bertampik sorak-sorai kesenangan.

“Dikiranya Surat Perintah 11 Maret adalah satu penyerahan pemerintahan! Dikiranya Surat Perintah 11 Maret itu satu transfer of authority. Padahal tidak! Surat Perintah 11 Maret adalah satu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan,” kata Sukarno.

Supersemar adalah perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah pengamanan beberapa hal.

Dan Sukarno hingga ia berdiri pada pidato yang kelak terkenal dengan nama singkatan “Jasmerah” memuji Soeharto.

“Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik. Dan saya mengucap terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal itu. Perintah pengamanan, bukan penyerahan pemerintahan! Bukan transfer of authority!” kata Presiden Sukarno.

***

Dari dialog dan pidato Soekarno ini ini apa yang sahabat mau simpulkan?
Soeharto mau jatuhkan Soekarno karena dianggap terlibat PKI?

Dari dialog ini nyata bahwa Soeharto justru dipakai oleh Soekarno untuk menyelamatkan mukanya.. Komunis tak boleh ada di bumi Indonesia.

Dan Soekarno sadar kekeliruannya itu namun perlu menjaga nama baik di mata dunia. Soeharto yang diperintahkan untuk “mikul duwur mendem jero.” (Memperbaiki kekeliruan Soekarno tanpa menghilangkan kehormatannya di mata dunia internasional)

Menurutku bila ada yang mengatakan Soekarno dijatuhkan Soeharto, itu tolong review kembali pengetahuan dan sebaiknya meneliti kembali sejarah.

Aku prihatin karena bahkan ada anggota di kalangan militer yang pernah berdialog katakan bahwa G30S 1965 itu adalah mainan Soeharto.

Soekarno dalam hal ini juga jelas menegaskan konsep NASAKOM itu keliru.

Dalam bukunya "Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya”, 1989 hal 342 -344, Soeharto mengatakan:

- Kita menumpas pemberontakan G.30.S/PKI bukan karena alasan-alasan balas dendam, melainkan karena alasan-alasan prinsipil. Tujuan kita yang utama ialah menyelamatkan Pancasila.

- Kita menghendaki dan melarang partai komunis di bumi Indonesia, karena PKI telah dua kali memberontak dan bertujuan mengubah Pancasila dengan kekerasan.

- Penyelesaian tahanan PKI kita lakukan sesuai dengan kebesaran jiwa Pancasila, dengan tetap memperhatikan keamanan nasional dan berdasarkan hukum. Mereka yang nyata-nyata tidak bersalah dan dapat kita bawa kembali menjadi warganegara Pancasilais, harus kita terima kembali dalam masyarakat.

- Terhadap siapa pun yang akan mengembalikan PKI di Indonesia, alat-alat negara akan bertindak dengan tegas.

- Sekali lagi, setelah sekian banyak kali, saya menyerukan agar kita hati-hati dengan paham-paham yang ekstrim, yang ekstrim kiri dan yang ekstrim kanan. 

- Hati-hati dengan pengaruh-pengaruh yang datang dari luar! Kita tidak menginginkan yang lain selain daripada Pancasila dan UUD’45.

- Melaksanakan keyakinan dan syariat agama yang dianutnya, tentunya boleh saja. Tetapi jangan sekali-kali menghasut rakyat untuk memberontak. 

- Paham Komunisme bertentangan dengan dasar-dasar Pancasila, harus kita larang penyebarannya dalam masyarakat (Presiden Soeharto, Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 1967).

Catatanku: dalam kasus ini adalah agak aneh, pidato terakhir Soekarno yang dilakukan 17 Agustus 1966 ini justru sukar untuk didapatkan secara lengkap dan terbuka bagi seluruh rakyat.

Yang banyak hanya potongan potongan pidato dengan berbagai catatan pengutip.

Mengapa? Menurutku jelas bahwa ada pihak pihak yang berusaha memanipulasi kondisi yang bisa menguntungkan dengan mengeksploitasi kondisi peralihan antara Soekarno dan Soeharto? Siapa? Entah.

(By Adi Ketu)