Anis: Daripada Khawatirkan Taliban, Lebih Baik Antisipasi Dampak Persaingan AS dan China

[PORTAL-ISLAM.ID] JAKARTA - Kekhawatiran sejumlah pihak atas pengaruh Taliban ke Indonesia bisa jadi terlalu berlebihan. Apalagi dengan yang berkaitan dengan posisi Afghanistan yang pernah menjadi training center para teroris.

Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta mengatakan, daripada mengkhawatirkan dampak Taliban, lebih penting bagi Indonesia untuk mengantisipasi dampak persaingan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok atau China.

“Jauh lebih penting bagi Indonesia untuk mengantisipasi residu dari persaingan Amerika Serikat melawan Tiongkok,” kata Anis dalam seminar bertajuk “Dampak Berkuasanya Kembali Taliban Bagi Keamanan Indonesia” yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube Unity in Diversity, Jumat (10/9/2021).

Apalagi, kata Anis, letak geografis Indonesia berdekatan dengan titik konflik antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, yaitu di Laut Tiongkok Selatan. Dia berpandangan bahwa kekuatan militer Indonesia sudah terlalu lama tidak memiliki pengalaman perang berskala besar. Berbeda dengan negara Vietnam yang pernah terlibat dalam peperangan berskala besar dengan Amerika Serikat.

“Di luar dari tidak punya pengalaman perang yang (berskala) besar, kita juga tidak punya operasi intelijen global yang memadai untuk menyediakan informasi yang kita perlukan dalam membuat analisis keamanan yang akurat,” tuturnya menambahkan.
Kedua hal tersebut yang harus dipersiapkan oleh Indonesia untuk mengantisipasi residu persaingan antara Amerika Serikat melawan Tiongkok. Melalui paparannya, Anis menyebutkan bahwa Indonesia telah berulang kali menerima residu dari persaingan antarnegara. Peristiwa G30S PKI, kata Anis, merupakan residu yang diterima oleh Indonesia akibat Perang Dingin.

“Masuknya Jepang ke Indonesia juga merupakan residu dari Perang Pasifik,” ucap Anis.

Bagi Anis, mundurnya Amerika Serikat dari Afghanistan diakibatkan oleh bergantinya prioritas negara tersebut. Sebelumnya, Amerika Serikat menyerukan War on Terror yang menjadi prioritas dari kebijakan luar negeri negara tersebut.

Akan tetapi, saat ini, Amerika Serikat telah mengganti prioritas dan meletakkan fokus pada persaingan dengan Tiongkok. Pergantian prioritas tersebut yang mengakibatkan Amerika Serikat tidak bertindak agresif di Afghanistan.

Karena itu, yang menjadi kekhawatiran Anis saat ini adalah residu persaingan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, bukan pengaruh berkuasanya Taliban di Afghanistan. “Yang penting adalah bagaimana Indonesia tidak menjadi collateral damage dari konflik supremasi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok,” kata Anis.

Catatan penting dari Anis Matta ini ditujukan khususnya kepada kepada Angkatan Perang atau Militer Indonesia. Menurut Anis, justru Indonesia tidak boleh menjadi residu dari perang supremasi antara AS dan China.

Hal penting berikutnya yang perlu diwaspadai, kata Anis, adalah ketimpangan ekonomi. Berdasarkan pengamatan dia, ketimpangan ekonomi di Indonesia terkait dengan dua isu lainnya, yakni agama dan etnis.

“Sebab, kemiskinan ini banyak dialami oleh umat Islam, dan yang dominan di perekonomian adalah etnis China. Isu ini, bila dimanfaatkan oleh global player yang masuk, akan menciptakan kekacauan di negeri ini. Maka, pemerintah harus menangani ini secara serius,” tuturnya.

Terkait berkuasanya Taliban di Afghanistan, Anis menilai hal itu tak memiliki dampak besar bagi keamanan Indonesia. Sebab narasi yang dibawa Taliban saat ini, sudah sangat berbeda dengan Taliban pada dekade 1990-an.

“Taliban kini memberi pengampunan pada orang-orang yang bekerja dengan pemerintah sebelumnya. Taliban kini juga menyatakan diri sebagai Imarah Islamiyyah, bukan Khilafah Islamiyyah, yang artinya Taliban hanya ingin berdaulat di teritori Afghanistan,” papar Wakil Ketua DPR itu. (Ant/IndonesiaInside)
Baca juga :