Slamet Rijadi, Sang Jagoan itu Masih Sangat Muda

Jagoan itu Masih Sangat Muda

Letkol Slamet Rijadi tengah berjabat tangan dengan Mayor Jenderal F. Mollinger dari pihak Belanda.

Mayor Jenderal F. Mollinger dari pihak Belanda menyalami komandan pasukan TNI di sebagian wilayah Jawa Tengah Slamet Riyadi dalam acara serah terima kota Solo, Pacitan, dan sebagian wilayah pantai selatan dari kekuasaan Belanda ke Republik Indonesia pada tanggal 12 November 1949 di Stadion Solo.

Betapa terkejutnya sang kolonel yang mengetahui musuhnya dalam pertempuran itu ternyata masih sangat muda, ketika peristiwa ini terjadi, usia Slamet Rijadi baru 22 tahun.

Bukan hanya itu, pasukan yang dipimpin Slamet Rijadi seringkali membuat kerepotan tentara Belanda, tak heran jika sang Kolonel begitu terkagum-kagum, jika tak mau dibilang dipecundangi.

Sebelumnya pada 7-11 Agustus 1949, dibawah Komando Slamet Rijadi pasukan TNI berhasil melancarkan Serangan Umum Kota Solo, atas serangan ini akhirnya Belanda sepakat melakukan gencatan senjata dan menyerahkan kota Solo ke TNI.

Meninggal Dalam Usia Muda: 23 Tahun

Pada tahun 1950, setelah berakhirnya revolusi, Letkol Slamet Rijadi dikirim ke Ambon untuk memerangi Republik Maluku Selatan (RMS). 

Setelah operasi perlawanan selama beberapa bulan dan berkelana melintasi Pulau Ambon, Letkol Slamet Rijadi gugur tertembak menjelang operasi berakhir, 4 November 1950. 

Letkol Slamet Rijadi dimakamkan dengan upacara militer sederhana pada sebuah makam darurat di tengah kebun kelapa Pantai Tulehu, Pulau Ambon bagian timur pada tanggal 5 November 1950. 

Barulah setelah kondisi keamanan di Ambon dan Maluku pulih, makam Slamet Rijadi dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Ambon. Sesuai keinginannya, putra Solo kelahiran 26 Juli 1927 itu ingin dimakamkan diatas tanah dimana ia gugur.(*)