Tragedi Kemanusiaan dalam Kejatuhan Al Quds (Yerusalem)

15 Juli 1099, Kota Suci Yerusalem. (Al Quds pada akhirnya jatuh ke tangan pasukan Salib setelah dikepung selama 38 hari. Pasukan Fatimiyah yang menjaga kota Al Quds menyerah.

Tidak lama kemudian tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Muslim terjadi.

Sehari sebelum kejatuhan Yerusalem, sekitar 10 ribu Muslim lari menyelamatkan diri ke dalam komplek Masjid Al Aqsha.

Sehari setelah kejatuhannya, 16 Juli 1099, pasukan Salb melakukan pembantaian besar-besaran atas penduduk Muslim dan Yahudi di Yerusalem (Al Quds).

Mayat bergelimpangan di jalanan, masjid dan sinagog di Yerusalem. Tempat- tempat itu dipenuhi mayat dan genangan darah hingga selutut.

Menurut Ali Ibnul Atsir, prajurit Frank membunuh lebih dari 70 ribu penduduk sipil, yang kebanyakan terdiri atas imam, ulama, orang-orang beriman, dan kaum sufi yang meninggalkan kampung halaman dan tinggal di tanah suci.

Mengutip Steven Ruciman, tidak diketahui berapa banyak korban berjatuhan, namun pembantaian tersebut menyebabkan Yerusalem yang padat menjadi kosong dan lengang dari orang-orang Muslim dan Yahudi.

Menurut Karen Amstrong, selama tiga hari, pasukan Salib secara sistematis membantai sekitar 30 ribu penduduk Yerusalem. 10 ribu Muslim yang menyelamatkan diri di Masjid Al Aqsha secara brutal dibantai. Para Yahudi dikumpulkan di sinagog dan dibunuh. Hampir tidak ada yang selamat.

Jalanan tergenang dengan darah. "Tumpukan kepala, tangan dan kaki terlihat jelas", ungkap Raymond Aquilers, seorang saksi mata.

Muslim dan Yahudi benar-benar dibersihkan dari Kota Suci laiknya kumpulan rayap yang harus dimusnahkan.

Michael Hull menyebutkan bahwa "Pembunuhan massal itu merupakan kebijakan yang telah dirancang, bukan sekedar karena ekspresi haus darah."

(Ahmad Dzakirin)