TANPA SALIB TANPA KA'BAH

TANPA SALIB TANPA KA'BAH

Seorang anak dan sang mama hidup bersama namun berbeda agama. Bagaimana bisa?

Seberapa besar ketaatan seorang anak harus dipersembahkan kepada mamanya?

Ini kisahnya. Nyata. Kisah seorang anak perempuan yang terlahir di keluarga gamang dalam keimanan. Sekedar dogma ketika beragama. 

Sebut namanya Kiki. Terlahir dan dibesarkan sebagai anak tunggal. Papanya muslim keturunan. Mamanya Protestan berubah haluan. Memilih mualaf ketika harus memenuhi syarat prosesi pernikahan.

Kiki sewaktu masih kecil bersekolah di SD negeri. Sedikit banyak, mesti belajar tentang Islam di jam mata pelajaran agama.

Keadaan berubah ketika Kiki sudah kelas 3 SD. Papanya Kiki meninggal. Mamanya kembali Protestan. Balik ke gereja. 

Akhirnya Kiki melakoni dua agama. 
Tetap belajar Islam di sekolahan. 
Dan di rumah ikut ajaran agama sang mama. 
Ke gereja jalan latihan salat di sekolahan juga berlanjut.

Kiki diam-diam belajar salat. Belajar baca huruf hijaiyah  pakai buku yang tulisan latin. Ayat- ayat alquran dibaca dari versi latinnya. Dan proses pembelajaran yang demikian dilakoni sampai tamat SMA

Lalu ...
Memasuki dunia kampus, masa kuliah, Kiki yang mengambil jurusan kedokteran di  UI lebih intensiv lagi mendalami ajaran Islam. Dan ... berani berhijab. Menjadi muslim secara terang benderang dengan semua risikonya. 

Apa risikonya?
Mamanya marah besar. Kiki diusir dari rumah. Tak diakui lagi sebagai anak mamanya.

Sejak itu Kiki mandiri. Harus Kuliah dengan perjuangan sendiri. Cari uang untuk menghidupi diri sendiri. Bersyukur ada juga mendapat beasiswa.

Singkat cerita Kiki jadi kuat. Secara prinsip juga secara ekonomi. Dengan kindisi keuangan yang memadai, Kiki berusaha memanfaatkannya untuk mendekati mamanya. Dengan cara memberi hadiah macam-macam. Sembari menaklukkan hati mamanya dengan perilaku yang sebagaimana mestinya sikap seorang anak baik.

Alhamdulillah... ada hasil. Hati mamanya luluh. Kembali bisa menerima Kiki sebagai putri tunggalnya. Yang disayanginya dengan sepenuh hati. Mereka kembali hidup bersama. Sebagai anak dan mama. Tapi dengan keyakinan berbeda. 

Demi menjaga keyakinan masing-masing, di rumah mereka bersepakat untuk taat pada keimanan masing-masing. Namun tak boleh ada simbol agama di rumah. Tak ada salib. Tak ada kakbah. 

Untuk menjaga semua itu, Kiki sungguh-sungguh dalam menjalankan baktinya sebagai seorang anak. Dengan kondisi mamanya yang menua, Kiki jadi penopang biaya hidup mamanya. 

Meski beda agama. Semua bakti sebagai anak, terjaga. Sebab itulah ketaatan Kiki dalam menyembah Tuhannya. Atas nama Tuhannya Kiki tetap berbaik hati kepada mamanya.

(Zama Lia)