Hajar Aswad, Batu Surga yang Pernah Dicuri Kaum Syi'i

Hajar Aswad, Batu Surga yang Pernah Dicuri Kaum Syi'i

Oleh: Teguh Suprayogi*

Beberapa kali thawaf di Ka'bah, belum pernah sekalipun saya menyentuh atau mencium Hajar Aswad. Bukannya tak ingin, tapi kondisi saat itu super padat jamaah dan cuaca sangat panas. Saya cukupkan dengan isyarat saja saat melewatinya.

Batu dari surga ini menjadi tempat awal dan akhir saat thawaf atau keliling Ka'bah. Mengusap dan mencium hanya sunnah saja, karena Nabi pernah melakukannya. Bersyukurlah yang sudah kesampaian mencium batu yang pernah dicongkel dan dibawa maling ribuan kilometer dari Mekkah.

Ya, jika Anda pernah baca sejarah Hajar Aswad, sungguh sangat menarik sekaligus memprihatinkan. Batu yang terdiri dari delapan serpihan akibat dirusak ini memang pernah dicuri. Hilang bertahun-tahun dari tempatnya di salah satu sudut Ka'bah. 

Baru dikembalikan lagi setelah lebih dari dua puluh dua tahun! Tentu, sebelumnya sudah diusahakan dengan berbagai cara, termasuk tebusan harta yang tak sedikit.

Mungkin banyak yang bertanya, siapa yang berani dan kurangajar, sampai berani mencuri batu yang sangat berharga bagi kaum muslim seluruh dunia.

Begalnya dari dinasti Qaramithah, saat ini berlokasi sekitar negara Bahrain hingga Kota Al Ahsa, Saudi Arabia. Pengikut salah satu sekte Syi'ah Ismailiyah. Sejarahnya memang cukup panjang. Silakan baca sendiri, pasti lebih menegangkan, karena kejamnya kaum ini.

Mungkin ini yang menyebabkan banyak pertanyaan kepada saya jika menulis soal Syi'ah. Kenapa di Saudi Arabia ada kaum Syi'ah. Ternyata ribuan tahun silam, mereka sudah mendiami daerah timur negara Saudi. Ingat, negara Saudi Arabia baru berdiri tahun 1932. Bisa jadi mereka anak keturunannya. Fakta terkini, mereka banyak tinggal di kota-kota seperti Dammam, Qatif, Al Ahsa, dan lainnya. Sudah cukup jelas? 

Semoga kaum muslim yang belum bisa umrah atau haji bisa disegerakan. Syukur bisa mengusap dan mencium Hajar Aswad. Kalaupun belum bisa juga nggak masalah, karena hanya sunnah.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab Radhiyallahuanhu pernah mengatakan, 

"Sesungguhnya saya tahu bahwa kamu itu hanya sebongkah batu yang tidak bisa mendatangkan manfaat juga tidak bisa mendatangkan bahaya. Kalau bukan karena saya melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka saya tidak akan menciummu." [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]

*fb