LIHAT BEDANYA: Kasus Brenton Tarrant dan Abdullah Anzorov

LIHAT BEDANYA

Pada tanggal 15 Maret 2019, seorang kristen, Brenton Tarrant (28), menyerang dua masjid di Christchurch New Zealand dengan senjata mesin. Korban tewas dalam insiden ini mencapai sedikitnya 49 orang, dengan rincian 41 orang tewas di Masjid Al Noor, tujuh orang tewas di Masjid Linwood dan satu orang tewas di Rumah Sakit Christchurch. Sedangkan korban luka mencapai 48 orang. Padahal Jamaah Masjid tidak ada yang menghina Yesus, yang dianggap suci oleh agama Kristen. 

Apa yang terjadi?

Penembak masih hidup, dia ditangkap dan diadili. 

Apakah ummat muslim menghina Yesus setelah insiden itu? Tidak!

Apakah ummat muslim memajang karikatur hinaan terhadap Yesus di gedung besar? Tidak!

Apakah ummat muslim menuduh Kristen agama Teroris? Tidak!

***

Pada 5 Oktober 2020, sebagai bagian dari diskusi isu kebebasan berpendapat, Samuel Paty menunjukkan pada murid-muridnya dua kartun karikatur Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh koran satir Charlie Hebdo. 

Ternyata penggunaan kartun kontroversial itu tidak diterima oleh sejumlah orang tua. Mereka bahkan meminta agar Paty berhenti mengajar. Namun Paty tidak merasa bersalah, dia menganggap perbuatannya adalah kebebasan berpendapat.

Jumat 16 Oktober 2020, Samuel Paty yang berusia 47 tahun, guru yang menunjukkan karikatur penghinaan Nabi Muhammad SAW itu dibunuh oleh seorang pemuda muslim 18 tahun asal Chechnya, Abdullah Anzorov. Saat itu korban dalam perjalanan pulang usai mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Conflans-Sainte-Honorine, tidak jauh dari ibu kota Paris. 

Apa yang terjadi?
 
Abdullah Anzorov langsung ditembak mati oleh Polisi Prancis.

Karikatur Nabi Muhammad ditampilkan menggunakan proyektor ke gedung pemerintahan di Prancis. 

Penggambaran kontroversial dari Charlie Hebdo ini ditampilkan ke gedung Balai Kota di wilayah Occitanie, yakni Montpellier dan Toulouse. Proyeksi tersebut berlangsung selama lebih dari empat jam pada Rabu malam, 21 Oktober 2020. 

Presiden Prancis, Macron menyebut kejadian itu sebagai serangan Teroris Islam. Macron juga menuduh Muslim bersikap separatis. Macron juga membela kartun kontroversial itu sebagai bentuk kebebasan berekspresi.

(By Ikhsan Siregar)