Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno by Asyari Usman


[PORTAL-ISLAM.ID]  Dari segi estetika ritme, ungkapan “Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno” memang sangat pas. Jauh berbeda dengan ungkapan “Gelora Jokowi, Gelora Bung Karno”. Yang kedua ini terasa “tak masuk Pak Eko”. Tidak alami. Tak bersambut.

Tentu semua ini tidak berlangsung secara kebetulan. Menurut hukum kejadian, Allah al-Khaliq telah menyiapkan takdir “Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno” itu dari alam asalnya. Dalam hadits shahih Muslim, Abdullah bin Umar r.a. mengatakan Rasulullah SAW bersabda bahwa takdir atau qadar semua makhluk telah dibukukan oleh Allah SWT 50,000 (lima puluh ribu) tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.

Begitu juga kampanye akbar Prabowo Subianto yang dilaksanakan hari Minggu, 7 April 2019, di stadion Gelora Bung Karno (GBK). Sudah ditentukan tempatnya, dan ditetapkan semua aksesorinya. Termasuklah ritme yang sangat enak didengar telinga, yaitu “Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno”.

Sebaliknya, ditetapkan pula ritme yang tak enak di dengar, Yaitu, “Gelora Jokowi, Gelora Bung Karno”. Tak akan pernah sedap di dengar meskipun Jokowi ratusan kali melaksanakan kampanye di stadion GBK. Jadi, para penggemar Pak Jokowi perlu memahami bahwa ‘privilege’ (keistimewaan) ungkapan “Gelora Prabowo, Gelora Bung Karno” memang benar-benar luar biasa.

Berdasarkan keistimewaan ritme ini, ditambah dengan ‘privilege’ lain berupa kehadiran jutaan orang yang datang secara sukarela dengan biaya dan risiko sendiri, sungguh tak mungkin lagi dipaksakan kemenangan Pak Jokowi. Tanda-tanda yang ringan ini saja pun menunjukkan keberpihakan alam kepada Pak Prabowo. Menunjukkan kemenangan Pak Prabowo di pilpres.

Kondisi serba pas itu terlihat dari ciri-ciri lain. Misalnya, Prabowo dan Soekarno sama-sama memiliki kebolehan orasi yang mampu membangkitkan semangat khalayak. Bung Karno berapi-api, Prabowo juga seperti dibakar kalau beliau menyampaikan pidato.

Stadion Gelora Bung Karno akan mencatat Gelora Prabowo. Yakni, gelora orasi beliau di depan jutaan massa, hari ini (7 April). Akan membukukan Gelora kemenangan Indonesia. Kemenangan prinsip demokrasi tulus-ikhlas, jujur dan adil. Bukan demokrasi berbayar. Yaitu, demokrasi yang menghadirkan khlayak dengan bayaran.

Kepada Pak Jokowi kita memohon agar selalu bersabar dan tabah menerima ‘kondisi kekalahan’ yang telah ditakdirkan 50,000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Dan, perlu lebih tabah lagi ketika ‘kondisi kekalahan’ itu berubah menjadi ‘kekalahan’ pada 17 April 2019.

Banyak yang mengatakan bahwa kampanye akbar di GBK hari ini akan menjadi barometer kemenangan Prabowo. Sebetulnya, barometer itu sudah bertebaran di mana-mana. Di mana saja Pak Prabowo atau Bang Sandi berkunjung silaturahmi maupun berkampanye, di situ ada massa yang menjadi barometer.

Untuk Pak Prabowo, selamat berkampanye berjuta massa. Gelora Bung Karno untuk Gelora Prabowo.

Penulis : Asyari Usman