Indonesia Barokah, Washington Post, dan Politik Ofensif


[PORTAL-ISLAM.ID]  Mencengangkan, biaya distribusi tabloid Indonesia Barokah mencapai 1.4 miliar, angka yang tidak sedikit tentunya.

Sebuah produk media, yang baru muncul di tengah hangatnya kontestasi jelang fase pemilihan April mendatang. Tidak tanggung, wilayah jangkauan sebaran bersifat nasional, dengan target sasaran masjid maupun pesantren.

Dalam kerangka inisiatif tindakan politik, maka apa yang hendak dikonstruksikan melalui keberadaan tabloid ini jelas sistematik dengan tujuan spesifik.

Tentu kita melepaskan diri atas asumsi siapa yang bertindak sebagai pelaku serta bertanggung jawab atas hasil produk jurnalistik tersebut, karena dibutuhkan penyelidikan pihak berwenang.

Sulit mendapatkan file copy dari tabloid tersebut di dunia digital, tetapi dengan berbagai kepingan berita yang terpublikasi pada media cetak dan online setidaknya kita mampu mengilustrasikan keberadaan tabloid dengan judul Indonesia Barokah ini sebagai bentuk media partisan, yang memiliki tendensi politik tertentu dalam konstelasi politik nasional.

Pada banyak ulasan, apa yang hendak ditampilkan Indonesia Barokah adalah bentuk dari strategi kampanye menyerang alias ofensif. Media pada dasarnya menjadi instrumen yang efektif untuk memperluas gagasan, dalam membangun kesepahaman, serta sekaligus menciptakan ruang persepsi dan tindakan yang terbingkai secara terukur.

Sebenarnya, tidak ada hal salah dari teknik kampanye pada model proaktif untuk mengkritisi pihak lawan dalam sebuah kompetisi, tetapi tentu saja diperlukan etika serta mampu dipertanggungjawabkan. Sehingga diperlukan pernyataan akan siapa pihak yang memproduksi media tersebut. Belum lama ini, di Amerika, beredar pula Washington Post palsu yang memberitakan pengunduran diri Trump.

Kehadiran koran palsu yang menggunakan layout persis seperti model koran aslinya, merupakan tindakan dari kelompok Yes Men, di bawah komando Jacques Servin sebagai bentuk ekspresi dari ketidakpuasan atas pemerintahan Trump, sekaligus mendorong penguatan akar rumput di Amerika untuk menstimulasi penjatuhan kursi Presiden Trump secara terbuka. Serupa tapi tak sama dengan Indonesia Barokah, karena ada pihak yang mengakui aktivitas tersebut, dengan konsekuensi logis terkait.

Intertekstualitas Media Politik

Media cetak sejenis Indonesia Barokah yang dominan menyampaikan kampanye negatif, dengan mempergunakan fakta bermodel bias interpretasi dari pihak lawan politik, meski tidak dapat dikategorikan sebagai kampanye hitam yang bodong tanpa data faktual, tentu tidak berdiri sendiri dalam ruang kosong.

Intertekstualitas, keterhubungan teks pada konteks lingkup sosial politik yang terjadi, memberikan pemahaman bahwa media ini, meski menggunakan diksi yang berasosiasi pada identitas Islam terkait istilah Barokah, tidaklah benar-benar bertujuan bagi keberkahan, karena sejatinya Islam adalah agama yang memandang masa depan terlepas dari masa lalu, titik pertaubatan menghilangkan noda kelam, memutus mata rantai sebagai fase diskontinuitas.

Lebih jauh lagi, pada kajian media, kita melihat proses penciptaan media akan terkait antara konten produksi, distribusi dan konsumsi. Maka kita dapat menganalisis Indonesia Barokah dengan menggunakan teknik tersebut, yakni konten yang diproduksi berupaya menciptakan persepsi, mengkonstruksi pemikiran di tingkat kognitif hingga afektif akan sosok figur tertentu, tidak bebas nilai, memiliki kepentingan tertentu.

Analisis motif bisa dikaitkan dengan produsen yang bertanggung jawab, dan tentu bisa siapa saja yang berkepentingan, termasuk (a) lawan politik sebagai pihak berseberangan, merupakan logika yang sederhana, atau (b) bahkan bisa jadi di titik ekstrim dilakukan sendiri, sebagai upaya untuk menarik simpati publik mengharapkan logika terbalik, tentu hal ini meresikokan diri, atau dapat pula (c) pihak lain diluar para pihak yang berkontestasi, untuk memperkeruh situasi, sebagai bagian dari proxy war tangan-tangan kepentingan yang tidak terlihat.

Lantas bagaimana dengan distribusi medianya? Lokasi sasaran tertarget secara nasional, mungkin saja Jawa menjadi titik mayoritas distribusi, karena populasi jumlah pemilih terbesar terdapat di pulau ini. Di mana masjid dan pesantren menjadi tujuan, tentu saja hal ini sesuai dengan algoritma bahwa secara dominan pemilih beragama Islam. Populasi muslim sebagai kriteria dari pemilihan politik, dalam logika Indonesia Barokah, perlu didekonstruksi atau dilepaskan dari keterlekatan simbolik pada figur tertentu.

Hingga pada puncaknya, di bagian akhir dari kajian media, menempatkan proporsi konsumsi khalayak, yang tentu diharapkan melalui kehadiran media Indonesia Barokah tersebut, dapat melakukan perubahan sikap dan perilaku pemilih. Media massa kemudian menjadi alat propaganda, selaras dengan Joseph Goebbels, Menteri Penerangan dan propaganda Nazi yang membentuk propaganda dalam makna negatif dikarenakan aspek manipulatif. Jadi bagaimana kita memaknai Indonesia Barokah kali ini? Tentu tidak lebih dari karya jurnalistik yang berselera rendah, itu saja!

Penulis: Yudhi Hertanto