Mahathir Ingatkan PM Australia agar Tak Pindahkan Kedubes ke Yerusalem

(PM Malaysia Dr Mahathir Mohamad berbicara kepada PM Australia Scott Morrison pada KTT Asean-China di Singapura pada 14 November 2018. Foto: Sekretariat ASEAN 2018)

[PORTAL-ISLAM.ID] Australia saat ini sedang mempertimbangkan untuk memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem, mengikuti jejak Amerika Serikat yang sudah lebih dahulu mengakui Yerusalem (Al-Quds) sebagai ibu kota Israel.

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, memperingatkan Australia bila jadi memindahkan kedubesnya ke Al-Quds terjajah.

Peringatan Mahathir ini diungkapkanya saat diskusi dengan PM Australia Scott Morrison di KTT Asean di Singapura.

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan kepada Perdana Menteri Australia Scott John Morrison bahwa rencana pemindahan kedutaan besar Asutralia dari Tel Aviv ke Yerusalem tidak membantu apapun dalam upaya perdamaian di sana.

Dalam pertemuan bilateral kedua negara sebagai rangkaian dari KTT ASEAN ke 33 di Singapura, Kamis (16/11/2018), Mahathir mengatakan langkah tersebut akan menambah penyebab dari aksi terorisme yang mungkin akan terjadi.

“Saya menunjukkan bahwa dalam menangani terorisme seseorang harus tahu (akar) penyebabnya. Menambah penyebab terorisme tidak akan membantu,” tegas Mahathir, seperti dilansir The Guardian.

Pemimpin veteran Malaysia itu juga menggambarkan Donald Trump kepada wartawan di Singapura sebagai "pengganggu internasional" dan "penjahat" atas kebijakan Amerika untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Sebagai informasi, pemindahan kedutaan besar yang sudah dilakukan oleh Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem justru menimbulkan protes besar-besaran sehingga menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa.

PM Australia Morrison mengatakan kepada perdana menteri Malaysia bahwa belum ada keputusan yang dibuat, dan dia mengatakan akan ada proses internal untuk menyelesaikan kebijakan Australia.

Agen intelijen Australia memperingatkan para menteri sehari sebelum pengumuman publik bahwa perubahan yang diusulkan Morrison dalam kebijakan Timur Tengah untuk merelokasi kedutaan dapat "memancing protes, kerusuhan, dan mungkin beberapa kekerasan di Gaza dan Tepi Barat".