[Baroah Dzimmah] Surat Terakhir Fathi Yakan: Mewaspadai Qiyadah "Samiri" Yang Merusak Jama'ah

(DR. Fathi Yakan)

[PORTAL-ISLAM.ID] Aktifis Islam, hampir seluruhnya, atau minimal sebagian besarnya, tentu mengenal sosok DR. Fathi Yakan (فتحي يكن). Siapa yang tidak mengenal penulis buku: Madza ya’ni intima-iy lil Islam (Komitmen Muslim Sejati), al-Mutasaqithuna ‘ala thariqid-da’wah (Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah), al-Aiddz al-Haraki (Aids Haroki), Qawaribun najah, al-Isti’ab fi hayatid-daiyah dan lain sebagainya.

Namun, mungkin hanya sedikit dari mereka yang mengetahui bahwa menjelang akhir hayatnya (beliau wafat 13 Juni 2009), beliau mengambil keputusan untuk keluar dari jama’ah yang beliau telah banyak menghabiskan waktu dan umurnya untuk membesarkannya.

Pada saat beliau merasa bahwa ajalnya sudah semakin dekat, beliau menulis dua hal:
1. Surat Baroatudz-Dzimmah (surat pernyataan melepas tanggung jawab) dan
2. Surat Wasiat.

Surat "Baroatudz-Dzimmah" menyoroti adanya sosok "Samiri" (orang dalam jamaah) yang membuat kerusakan dalam tubuh jamaah. Seperti Samiri yang merusak Bani Israil dari dalam.

Berikut ini sedikit ulasan tentang surat pernyataan baroatudz-dzimmah beliau.


"Baroah Dzimmah"
(براءة ذمة)

Segala puji milik Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad bin Abdillah SAW, juga kepada seluruh keluarga beliau, para sahabatnya dan semua yang berwala’ kepadanya.

Waba’du,
Disertai dengan perasaan yang sangat mendalam, yang begitu kuat mendorong dari dalam, perasaan bahwa waktu untuk keluar dari sempitnya dunia menuju luasnya akhirat telah semakin dekat.. terasa betul kerinduan dan kehangatan akan dekatnya ajal..

Disertai oleh perasaan seperti itu, aku torehkan kalimat-kalimat ini, yang bisa jadi adalah kalimat terakhir saya, dalam sebuah buku yang aku beri judul: “Laita Qaumi Ya’lamun ليت قومي يعلمون” (Andai Saja Kaumku Mengetahui).

Kalimat ini aku tulis sebagai satu bentuk pelepasan tanggung jawab, ya, tanggung jawab yang telah menghabiskan masa hidup dan tidurku selama bertahun-tahun yang kering kerontang, yang dilakoni oleh Jamaah Islamiyah (IM Lebanon -red) semenjak 1992, yang telah menjadi pusat perhatian gelanggang perjuangan Islam di Timur dan di Barat.

Tanggung jawab yang saya maksudkan adalah tanggung jawab untuk menentukan jatidiri dan sosok seseorang yang telah menyia-nyiakan Jamaah! Sosok itu tiada lain adalah “Samiri” yang pernah menyia-nyiakan Bani Israil saat ditinggal pergi oleh nabi Musa as.

“Samiri” itu juga yang selalu terulang di sini, di situ dan di sana, yang telah mengais-ngais di internal berbagai gerakan Islam untuk membuat kerusakan.

“Samiri” ini adalah sosok yang memegang kendali di balik tabir segala urusan, lalu ia tepiskan tangannya dari segala urusan!

“Samiri” ini adalah qiyadah bayang-bayang, yang bergerak di tengah kegelapan, sebagai satu bentuk tampilan zuhud palsu, padahal sejatinya, dialah yang mengontrol segala keputusan.

“Samiri” ini adalah sosok yang menginginkan tidak ada sesiapa pun yang mengunggulinya, tidak boleh ada sesiapa pun yang lebih besar darinya, karenanya, begitu ia merasakan gejala-gejalanya, segeralah ia menghabisinya dengan cara meminggirkannya, atau memberikan stigma dan tuduhan-tuduhan palsu kepadanya, atau menghancurkan kepribadiannya.

Sudah banyak yang telah menjadi korban dari sosok “Samiri” ini, padahal, para korban ini adalah orang-orang yang dulu kita persiapkan untuk menaikkan harkat dan level ideal Jamaah di berbagai bidang!

Sekarang tibalah saatnya untuk diketahui oleh siapa saja, baik yang di dalm Jamaah maupun yang di luar Jamaah bahwa Jamaah Islam (IM Lebanon -red) tidak akan terselamatkan dari kesia-siaan, dari kemunduran dan dari kebangkrutan, kecuali dengan menelanjangi sosok “Samiri”, orang-orang yang ditraining (dilatih) olehnya, dan mereka-mereka yang telah terwarnai sedemikian rupa oleh watak dan karakternya!

Sedangkan upaya-upaya lain selain yang telah disebutkan tadi, hanyalah akan sia-sia belaka, dan tidak akan mampu mengembalikan Jamaah Islam kepada tranparansinya, kepada kesuciannya dan kepada orisinilitasnya, maka, kepada Allah SWT semata tempat mengadu, dan kepada-Nya pula tempat berpasrah.

Dan pada hari-hari yang banyak penipuan ini, di saat-saat yang penuh kelalaian ini, hendaklah kita semua selalu mengingat firman Allah SWT:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”. (Q.S. Al-Anbiya;: 35).

Maha benar Allah atas segala firman-Nya.

Dan semoga, shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Rasul-Nya yang terpercaya, dan akhir dari do’a kami adalah ucapan: Segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam.

23 Jumadil Ula 1430 H, bertepatan dengan 18 Mei 2009

Yang berharap terhadap rahmat Tuhannya, dan yang sangatt fakir kepada-Nya

(Fathi Yakan)


Sumber: https://www.paldf.net/forum/showthread.php?t=660104