FITNAH PKI TERHADAP BUNG TOMO


[PORTAL-ISLAM.ID] Setiap tanggal 10 November, rakyat Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Adapun mengapa hari itu ditetapkan sebagai hari pahlawan karena pada hari itu, 10 November 1945, terjadi pertempuran rakyat Surabaya melawan tentara sekutu yang mencerminkan semangat pantang menyerah rakyat Indonesia pada umumnya. Dan semangat pantang menyerah tersebut antara lain dibakar oleh pidato – pidato Bung Tomo yang memekikkan Takbir.

Pasca peristiwa heroik itu, Bung Tomo tidak pernah melupakan kepahlawanan rakyat Surabaya, dan untuk itu ia ingin membalas budi, khususnya kepada mereka yang punya pekerjaan sebagai tukang becak. Masih terbayang di mata Bung Tomo pada pertempuran Surabaya banyak tukang becak yang ikut maju ke garis depan.

Sebagai seorang yang menaruh minat besar pada masalah ekonomi, Bung Tomo bermaksud meningkatkan kesejahteraan para tukang becak yang ada di Surabaya dengan jalan membuat industri kecil yang modalnya didapat dari tabungan para tukang becak. Menurut perhitungan Bung Tomo, pada tahun 1953 ada sekitar 40.000 tukang becak di Surabaya, jika setengahnya saja dari jumlah mereka menabung Rp.1 setiap hari, maka dalam jangka waktu sebulan akan terkumpul: 30 X 20.000 X Rp. 1 = Rp. 600.000,- .

Rencana tersebut sudah dijalanakan, tetapi karena fitnah PKI yang menyebutkan uang tersebut akan dipakai untuk kepentingan Bung Tomo pribadi, maka para tukang becak yang tadinya sudah menyetor uang kemudian ramai ramai mengambil uang mereka kembali, waktu itu uang yang terkumpul baru Rp. 12.500,-. Adapun fitnah PKI tergambar seperti di bawah ini.

Suatu hari ayah Bung Tomo berada di warung kopi bersama temannya yang berasal dari Madura. Kebetulan si pemilik warung kopi memajang foto Bung Tomo. Kemudian datang beberapa anggota PKI ke warung tersebut memesan makan dan minuman, lalu salah seorang diantaranya memandang foto Bung Tomo dan berkata "Itu orang memang ganteng, tapi sayang suka nyolong duit tukang becak".

Tentu saja ayah Bung Tomo merasa tidak enak dan menyanggah perkataan anggota PKI tadi. Orang PKI lalu bertanya, “Bapak siapa?”. Pertanyaan ini dijawab teman ayah Bung Tomo yang orang Madura tadi dengan tersenyum sambil menimang – nimang pisau menjawab, "Ini ayahnya Bung Tomo". Para anggota PKI segera pergi dari warung tersebut. Ini fitnah PKI yang baru ketahuan di satu tempat, belum di tempat lainnya.

Fitnah PKI terhadap Bung Tomo di atas adalah lanjutan dari konflik yang terjadi sejak PKI melalui Amir Syarifudin mendirikan Biro Perjuangan yang mengkoordinir lasyjkar-lasykar bersenjata, dimana keberadaan Biro Perjuangan ini banyak menimbulkan friksi dengan TNI. Bung Tomo yang menjadi anggota Staf Gabungan Angkatan Perang, sering merasa jengkel dengan kebijakan Menhan Amir yang menganakemaskan para petinggi Biro Perjuangan, sehingga mereka bisa makmur mendadak dengan membeli tanah, rumah, seolah – olah revolusi telah selesai. Selain itu anggota lasykar – lasykar komunis seperti Pesindo diberi fasilitas lebih baik dari pada para anggota lasykar non komunis.

Oleh karena itu dalam sebuah rapat Bung Tomo mengajukan pendapat tentang perlunya penghematan dan pemerataan dalam tubuh angkatan perang dan lasykar. Tetapi salah seorang petinggi Biro Perjuangan yang bernama Djokosuyono kemudian angkat bicara. Dengan bahasa yang berbelit – belit ia menyalahkan pendapat Bung Tomo ini. Akibatnya Jenderal Soedirman dan Letjen. Urip Sumoharjo dengan kesal segera keluar dari ruangan rapat.

Kisah diatas bisa menjadi bahan kajian ditengah adanya suara – suara dari sebagian pihak dewasa ini yang mengatakan bahwa PKI hanyalah anak lugu tak berdosa yang menjadi korban kebiadaban rezim orde baru.

(Dari grup Indonesia Tempo Doeloe)