SUDAH TAKDIRNYA BAYI (PKI) ITU HARUS TERLAHIR MATI


SUDAH TAKDIRNYA BAYI (PKI) ITU HARUS TERLAHIR MATI

Januari 1965. Ibu kota Jakarta pagi itu seperti biasanya, sibuk memulai aktifitas. Namun sebuah gedung di Jalan Kramat Raya sedang gelisah.

Sementara tidak jauh dari gedung itu, rumah di Jalan Kramat Lontar H-7, Kramat, Senen, Jakarta Pusat, sejak beberapa hari lalu kembali ramai dikunjungi banyak tamu. Sudah dua tahun sejak 1962 – 1964, rumah itu sepi. Ditinggal pemiliknya bertugas ke luar negeri. Ia seorang perempuan.

Selama dua tahun itu, ia menjadi utusan Pemerintah RI ke Yugoslavia untuk mempelajari manajemen tenaga kerja. Selama itu ia juga mengunjungi negara-negara sosialis dan komunis lainnya di Eropa termasuk Uni Soviet. Di sana ia melakukan riset, studi banding mengenai sistem ekonomi.

Perempuan ini masih duduk santai di rumahnya sambil membaca koran. Pagi itu, ia baru saja menyudahi sarapannya. Seorang tamu penting datang, ia masuk dengan tergopoh-gopoh.

“Bu Tri... Bagaimana ini?” suara pria ini meninggi penuh gelisah.

Tuan rumah itu belum menjawab, tamu itu sudah melanjutkan.

“Tolong dipertimbangkan lagi. Sebentar lagi kita akan punya pekerjaan besar. Kenapa Bu Tri membuat keputusan keluar?”

Berita koran pagi itu memang mengejutkan. Bahkan terlalu menggemparkan bagi jagat partai komunis berlambang palu arit. Beberapa koran menulis berita headline besar-besar. SK Trimurti, tokoh perempuan yang disegani dan pendiri Gerwani menyatakan keluar dari PKI. Gerwani adalah organisasi sayap perempuan di bawah PKI.

Ya... keputusan SK Trimurti adalah antiklimaks dari apa yang telah dia ikut perjuangkan selama ini. Berjuang dengan keyakinannya melalui partai yang dipimpin oleh tamunya itu. Beberapa tahun lalu, ia diminta Bung Karno untuk melakukan riset ke negara-negara komunis. Kini ia telah pulang kembali ke tanah airnya yang ia cintai.

“Pak Aidit. Setelah dua tahun saya berkeliling ke negara-negara komunis, ternyata apa yang mereka gembar-gemborkan sebagai membawa kesejahteraan rakyat itu hanyalah omong kosong,” ujar perempuan ini tegas.

Selama dua tahunm SK Trimurti melihat dari dekat. Bagaimana kehidupan para petinggi partai komunis di sana. Mereka hidup mewah dan berfoya-foya. Tak ubahnya dengan kaum borjuis kapitalis yang selalu mereka musuhi.

Kenyataan itu telah membuat SK Trimurti muak. Ia tidak percaya lagi dengan ideologi komunis yang menjanjikan pemerataan, sama rasa sama rata bagi seluruh rakyat. Komunis tidak pernah memberikan bukti atas janji-janjinya selama ini tentang kehidupan rakyat yang lebih baik. Hanya penderitaan demi penderitaan yang dihadapi rakyat.

Pria itu masih berusaha keras membujuk agar perempuan ini kembali. Namun, bukan SK Trimurti namanya, jika mudah goyah. Tokoh pejuang kemerdekaan ini dikenal sebagai perempuan tegas dan berpendirian kuat.

Dihadapannya itu adalah sosok pria yang dikenal luas sebagai D. N. Aidit, Ketua Politbiro Central Commitee (CC) PKI. Aidit pulang dengan tangan kosong. Kembali bergegas ke markas partai yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari rumah SK Trimurti.

Partai yang dia pimpin memang sedang sibuk-sibuknya melakukan suatu gerakan. Gerakan yang terlihat maupun tidak terlihat. Gerakan-gerakan itu disebut dengan “ofensif revolusioner”.

Ofensif revolusioner adalah seluruh aksi untuk menciptakan suatu “situasi revolusioner”. Dilakukan dengan menggalang kekuatan progresif revolusioner untuk mengahancurkan Oldefo (Old Established Force) dan Nekolim (Neo kolonialisme-imperialisme).

Aksi-aksi ini dilakukan di seluruh bidang kehidupan dengan cara aksi massa yang terbuka seperti demonstrasi, aksi tuntutan dan pemogokan maupun aksi tertutup. Aksi tertutup berupa block within (mengunci dari dalam) berupa infiltrasi menyulut kontradiksi langsung ke tubuh partai politik, organisasi massa, dan militer atau sabotase sampai tercapainya situasi revolusioner.

Sebagai pemimpin tertinggi Aidit terus berdiri tegak membakar semangat para pengikutnya. Secara resmi ia mengomando gerakan ofensif revolusioner ini kepada seluruh jajaran PKI pada 1 Januari 1965. Selanjutnya ia menyerukan Turba (turun ke bawah) kepada seluruh jajaran PKI. Turun ke bawah mulai dari kota hingga desa-desa.

Komando Aidit secara serentak kemudian diikuti oleh organisasi-organisasi massa PKI. Mereka bergerak melakukan aksi-aksi tuntutan dengan mengadakan rapat-rapat umum, resolusi, demonstrasi serta aksi-aksi lainnya yang dilakukan di tempat-tempat terbuka. Sasaran ofensif revolusioner ini adalah partai-partai politik, organisasi massa, organisasi fungsional, organisasi agama, organisasi budaya, angkatan bersenjata, serta perorangan atau siapa saja yang dinilai menghalangi-halangi tujuan politik PKI.

Dalam sebuah kesempatan memberikan kuliah umum di Cisarua Bogor, 3 April 1965, Aidit menegaskan, “Semangat revolusioner untuk mengganyang setan-setan desa harus ditingkatkan”. PKI menyebut, terdapat Tujuh Setan Desa yang diganyang.

Diantara kelompok yang diidentifikasi sebagai bagian dari Tujuh Setan Desa itu adalah para kyai, guru ngaji, santri, lurah atau kepala desa, pedagang, serta pamong praja. Setan-setan itu harus dikutuk dan dibasmi. Pada tahun 1948, mereka telah menjadi sasaran pertama. Diseret, dibacok, dipotong-potong tubuhnya, disembelih lalu dimasukkan sumur dan kolam-kolam.

Apakah para setan desa itu kembali mengalami nasib tragis di tahun 1965?

==000==

Jakarta sembilan bulan kemudian. (tepat seperti usia kandungan 9 bulan sejak dimulai 1 Januari 1965)

Kesibukan luar biasa terjadi di markas PKI. Para pemimpin dan petinggi partai gencar melakukan berbagai pertemuan dan rapat-rapat hingga malam-malam dan dini hari. Aidit berpidato di mana-mana membakar semangat para pengikut setianya. Demikian juga para pemimpin dan aktivis partai itu.

Angin bertiup kencang, sekencang laju gerak lincah Aidit. Mengembus ke berbagai arah, sudut-sudut kota, rumah-rumah, jalan-jalan, hingga desa-desa. Sayang sekali angin itu tidak membawa kesejukan dari kegerahan musim panas di bulan September. Malah hawa yang semakin panas.

Hari itu, Aidit menyatakan bahwa tidak ada alternatif lain dari gerakan PKI untuk berhasil meraih cita-citanya kecuali “berkelahi dengan lawan-lawan politiknya”.

Semua ucapan Aidit adalah titah dan perintah. Dan itu harus ditulis agar bisa sampai ke telinga seluruh pengikutnya. Maka, perintah berkelahi itu ditulis Harian Rakjat, 23 September 1965. Soal pembangunan opini, Aidit memang jagonya. Lalu sistem dan mesin PKI bekerja efektif menyebarkan pikiran dan opini-opini Aidit.

Seminggu berlalu dari pernyataan Aidit itu, angin semakin kencang dan panas. Tepat tanggal 30 September 1965, Anwar Sanusi, seorang anggota PKI di hadapan para Sukarelawan Bantuan Tempur BNI menyampaikan pesan metafora yang sangat elok:

“Situasi ibu kota Pertiwi dalam keadaan hamil tua. Sang Bidan telah siap untuk menyelamatkan bayi yang akan lahir. Yang sudah lama dinanti-nanti”.

Anwar Sanusi melanjutkan arahannya:

“Sang bayi itu adalah suatu kekuatan politik yang sudah ditentukan di dalam Manipol (Manifesto Politik). Dan sang bidan adalah massa rakyat yang makin gencar melancarkan ofensif di segala bidang. Gerakan sukarelawan adalah salah satu alat yang penting di tangan Sang Bidan itu.”

Ternyata, Jakarta hari itu adalah seorang ibu hamil tua. Kondisi kehamilannya sudah pada tahap kontraksi dan pembukaan sejak malam pada 30 September 1965. Sang Bidan telah siap bekerja menangani persalinan. Sang ibu sudah mengerang kesakitan. Kelahiran ini begitu berat dan menyakitkan.

Sungguh ia tidak tahu, bayi macam apakah ini yang sudah dikandung selama sembilan bulan itu. Benar-benar hamil tua. Pada puncak kelelahannya, ia baru tersadar tidak ada erangan napasnya. Bayi yang dikandungnya itu adalah buah dari perselingkuhan. Penyelewengan yang tidak diketahui anak-anaknya dan suaminya.

Subuh itu, 1 Oktober 1965, Jakarta begitu gerah dan bau anyir menyengat. Rupanya itu adalah darah persalinan dari bayi yang dinanti-nanti. Bayi itu adalah kudeta upaya perebutan kekuasaan Pemerintah RI yang sah. Sang ayah menamai bayi itu dengan Gerakan 30 September atau dijuluki Gestapu.

Kelahiran bayi itu segera diumumkan oleh Letnan Kolonel Untung seantero Nusantara melalui Radio Republik Indonesia (RRI) yang telah ia rampas, Jumat pagi itu. Rupanya di daerah-daerah juga sudah menanti-nanti kelahiran Sang Bayi.

Mereka sorak-sorai menyambut kelahirannya. Diikuti gerak kelewang dan tarian-tarian berdarah. Merata hampir di seluruh penjuru tanah air.

Sang ibu masih tergolek lunglai. Anak-anaknya terkaget-kaget, tetapi reflek dan nalurinya membuat mereka bergerak cepat mengenali situasi yang terjadi. Mereka segera tahu, seorang lelaki yang selama ini dipercaya oleh ayah sejati itu, telah menyelingkuhi dan menodai ibu mereka. Aidit beserta pengikutnya telah menodai sang ibu yang mereka cintai. Ibu Pertiwi, NKRI.

Bayi hasil perselingkuhannya itu adalah anak Dajjal yang kelahirannya menebar angkara murka. Enam jenderal pahlawan revolusi menjadi korban tak berperikemanusiaan di pagi buta itu. Mereka dicincang dan dimasukkan ke dalam sebuah sumur di Lubang Buaya.

Anak-anak ibu Pertiwi kini mulai mengerti dan ingat sebuah momen kecil suatu pagi sembilan bulan lalu, sebelum peristiwa Gestapu. Momen itu memang kecil, tetapi disadari kini sangatlah penting.

Saat Aidit datang tergopoh-gopoh ke kediaman SK Trimurti yang meminta agar pendiri Gerwani itu membatalkan keputusannya keluar dari PKI. Saat itu ia bertanya bernada mengiba dan gelisah.

“Kenapa Ibu lakukan ini di saat kita sedang punya pekerjaan besar?”.

Tuhan Maha Tahu dan berkehendak. Sudah menjadi takdirnya, Sang Bayi (PKI) itu harus terlahir mati.

__
*Dari buku "Ayat-Ayat Yang Disembelih: Sejarah Banjir Darah Para Kyai, Santri dan Penjaga NKRI oleh Aksi-aksi PKI ", ditulis oleh Anab Afifi dan Thowaf Zuharon.

Buku tersebut berisi cerita tentang banyaknya masyarakat yang menjadi korban kekejaman PKI pada kurun waktu 1926-1968.

Dalam bukunya setebal 259 halaman, buku ini menuliskan kisah nyata dari 40 saksi hidup yang terdiri atas korban, kerabat, dan keluarga korban keganasan PKI di Jakarta, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Kediri, Blitar, dan Surabaya.

Bahkan Korban PKI di tepi Sungai Bengawan Solo bukan dari kalangan Islam, melainkan umat Kristen, Hindu, dan Buddha.

JAS MERAH...

JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN SEJARAH...

Buku ini penting untuk kita semua.