Diambang Perang IDLIB, Benteng Terakhir Oposisi Suriah


[PORTAL-ISLAM.ID] Perhatian media internasional dalam beberapa hari terakhir banyak tertuju pada Propinsi Idlib, kantong terakhir kelompok oposisi bersenjata di Suriah, karena pemerintah Suriah sudah memutuskan dan siap untuk melakukan operasi militer besar-besaran di wilayah tersebut guna membebaskan Idlib dari kelompok oposisi bersenjata dan mengembalikan Idlib ke pangkuan Damaskus. Apabila hal itu terjadi, maka humanitarian catastrophe (bencana kemanusiaan) tidak dapat dielakkan, karena sekitar 2,5 juta warga sipil akan membludak melarikan diri ke perbatasan Turki. Ini yang sangat ditakutkan oleh Turki.

Berbagai pernyataan, kecaman, ancaman, datang silih berganti dari berbagai pihak terkait dengan rencana operasi militer tersebut. Sementara pergerakan militer di lapangan di sekitar Idlib, baik militer Suriah, maupun pasukan oposisi dan bahkan militer Turki semakin menambah complicated suasana.

Dalam KTT trilateral di Teheran, Turki menjadi 'The Last Man Stand' di depan Rusia dan Iran dan bersikeras menolak operasi militer di Ildib, bahkan Turki mengancam Eropa dengan membuka kran pengungsi Suriah dari Turki menuju benua Biru dalam rangka menarik simpati dan keseriusan Eropa untuk mendukung Turki dalam mencegah terjadinya operasi militer di Idlib. Bagi AS, sikap Turki bak pucuk dicita ulam pun tiba, AS juga menentang operasi militer dan mengancam akan mengeroyok Suriah bersama dengan Prancis, Inggris dan Jerman apabila militer Suriah nekad melanjutkan operasi militer di Idlib.

Ya, “Menghindari Perang dan Menjaga Keselamatan Sipil di Idlib” mungkin itu tema utama yang diusung Turki dalam isu Idlib kali ini, sayangnya negara-negara Teluk yang dulunya menarik Turki dalam “lubang jahannam” di Suriah kini justru berbalik arah dan meninggalkan Turki sendirian, jadi wajar kalau sampai hari ini tidak ada hastag #saveIdlib, karena bos Al Arabiya dan Al Jazeera tidak ikutan dalam perang kali ini.

Ketika membaca tema besar yang diusung Turki di atas (“Menghindari Perang dan Menjaga Keselamatan Sipil di Idlib”), tampaknya kita tidak perlu terburu-buru dalam memutuskan, karena apa yang terlihat tidak selalu sama seperti yang sebenarnya sedang terjadi. Ada yang lebih complicated yang sedang terjadi saat ini antara Moskow dan Ankara. Rusia tidak terlalu mengindahkan apa yang diungkapkan Turki di depan media, karena mereka tahu bahwa apa yang diungkapkan di layar TV akan berbeda dengan yang ditegaskan di dalam ruang tertutup dalam pertemuan empat mata Rusia-Turki.

Hari ini, Senin (17/9/2018) akan diadakan pertemuan bilateral antara presiden Vladimir Putin dengan presiden Recep Tayyip Erdogan di Sochi, Rusia. Padahal baru Jumat kemarin digelar KTT di Teheran, kini akan diadakan KTT lagi di Sochi, tentunya ada sesuatu yang sangat urgent yang harus diselesaiakan. Semua kemungkinan dapat saja terjadi.

Kelihatannya memang aneh ketika Rusia tidak mengindahkan sama sekali segala langkah yang dilakukan Turki di Idlib untuk menghalangi terjadinya operasi militer Suriah di Idlib. Ankara terus mengirimkan bantuan militer dan logistik ke Idlib, bahkan laporan terakhir menyebutkan terdapat sekitar 30 ribu militer Turki di Suriah, termasuk 400 pasukan khusus dengan perlengkapan lengkap. Turki juga telah merelokasi para petempur lokal dari Utara Aleppo, Jarablus dan Afrin menuju ke Idlib, diperkirakan jumlahnya mencapai 20 ribu petempur. Selain itu, Turki juga memasukkan para jurnalis asing ke Idlib untuk meliput situasi, hal ini mengingatkan kita pada kejadian di Benghazi, Libya, pada tahun 2012 lalu.


Ada bocoran yang mengatakan bahwa ada deal-deal tertentu yang sedang digodok antara Moskow dan Ankara, bisa jadi Moskow akan memberikan pengakuan legalitas atas keberadaan Turki di sepanjang utara Aleppo sampai ke utara Idlib, yaitu sepanjang perbatasan Suriah-Turki, sebagai imbalan Turki akan menarik diri dari Idlib dan mengijinkan militer Suriah dan Rusia masuk ke selatan Aleppo dan Idlib. Deal seperti ini tidak aneh, karena sebelumnya juga sudah terjadi, yaitu ketika operasi militer Suriah di Ghouta Timur, Militer Suriah mengijinkan militer Turki menguasai Afrin setelah memukul mundur pasukan Kurdi, dan militer Turki berdiam diri ketika kota Douma diambil oleh militer Suriah.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa militer Suriah dan Hizbullah mulai membuat front pertahanan di sepanjang selatan Aleppo yang berbatasan dengan Idlib. Artileri sudah disebarkan di distrik Nabel dan Zahra di selatan Aleppo, bahkan sistem pertahanan udara S-200 sudah dipasang di wilayah tersebut.

Apakah militer Suriah akan bentrok dengan militer Turki di Idlib? Media lokal melaporkan bahwa persiapan militer Turki di Idlib tampaknya lebih dari sekedar menjaga 12 titik observasi. Situasi di lapangan lebih abu-abu daripada apa yang beredar dari mulut para Petinggi, baik Turki, Rusia, maupun Iran.

Secara strategi militer, mengundur-undur penyelesaian konflik Idlib, baik secara damai maupun militer tidak menguntungkan pihak Suriah dan Rusia. Pertama, memberikan kesempatan bagi Turki untuk mengumpulkan dukungan internasional lebih besar untuk mendukungnya yang anti operasi militer. Kedua, faktor cuaca, bulan depan ketika musim dingin sudah tiba akan menyulitkan dilaksanakannya operasi militer, karena hujan, bahkan salju akan mengganggu, ditambah lagi masalah kemanusiaan, karena warga sipil akan menjadi korban hujan dan dingin. Kalau memang solusinya harus operasi militer, maka operasi militer itu akan dilakukan dalam beberapa hari atau minggu ke depan.

Namun demikian, berbagai kepentingan tetap memiliki peran penting dalam penyelesaian konflik Idlib, utamanya antara Ankara dan Moskow.

Tentunya kita berharap tidak terjadi operasi militer yang jelas mengancam keselamatan jutaan rakyat sipil yang tak berdosa, pada akhirnya mereka adalah saudara-saudara kita yang berada di tempat yang tidak tepat pada waktu yang tidak tepat. Semoga solusi damai tercapai demi anak-anak, orangtua dan wanita-wanita lemah disana.

Tidak ada yang tersembunyi selamanya, mungkin hari ini banyak hal kompleks yang menimbulkan banyak tanda tanya terkait dengan Idlib, yakinlah besok waktu pasti akan menjawab....

(Saief Alemdar)