Turki, "Bintang Terang" yang Mengganggu Hegemoni AS


Oleh Mohamad Radytio

Ada alasan politis dibalik apa yang dilakukan Trump secara khusus dan krisis Lira yang terjadi berkepanjangan di Turki.

1. Menurunnya kemampuan Amerika mengendalikan Turki

Selama 8 tahun terakhir, Amerika Serikat terus kehilangan kemampuannya untuk mengendalikan Turki. Pasca 2010, Turki yang dpimpin Erdogan menjadi Turki yang disegani, atau setidaknya sulit untuk dikibuli. Bila Turki dulu memiliki “kewajiban” untuk menuruti kehendak AS, meski membuat kemampuan untuk mempertahankan kepentingannya menurun seperti apa yang terjadi di era Perdana Menteri Bulent Ecevit, maka Turki Erdogani tegas berkata bahwa apa yang menjadi kepentingan Turki, harus diutamakan oleh negara Turki. Ini terjadi di segala lini, mulai dari isu Gaza/Palestina dimana Turki yang dulu sering “diam” bila Palestina diserang hingga kini jadi pembela utama Palestina, isu persenjataan dimana Amerika Serikat mengecam Turki yang memesan system rudal S-400 milik Rusia, Turki yang di Suriah menolak keinginan AS agar Turki berada di ‘kelompok’nya dalam negosiasi dengan poros Iran-Rusia dan malah membuat kebijakan-kebijakan sendiri, hingga Turki yang meminta agar AS mengembalikan ulama su’ Fethullah Gulen ke Turki, berlawanan dari keinginan AS yang intinya meminta Turki “melupakan” segalanya.

'Kenakalan' Turki inilah, yang membuat Amerika menjadikan insiden pastor Brunson dari gerakan Evangelis sebagai ‘titik batas’ kesabaran, ditambah pemerintahan Amerika sekarang merupakan pemerintahan yang “keras” sehingga mau menuruti saran temperamen dari penasihatnya seperti John Bolton dan wapres Mike Pence, yang juga berasal dari gerakan evangelis. Tidak mungkin seorang pastor bisa menjadi titik nadir hubungan AS-Turki hingga Trump menerapkan sanksi pada Turki yang sebetulnya malah alami defisit perdagangan dengan Amerika (beda dengan Cina, dimana Amerika yang defisit), terkecuali bila ini merupakan batas habisnya kesabaran Amerika Serikat dalam menghadapi “kenakalan” Turki. Amerika merasa mereka perlu memberi “pelajaran” pada Turki.

2. Posisi Turki yang menjadi penghalang banyak pihak

Turki dibawah Erdogan membuat kesal banyak pihak. Betapa tidak, di Suriah sejak 2013 (saat nilai Lira Turki mulai menurun) Turki bersikeras mendukung oposisi Suriah tanpa kelompok komunis Kurdi yang dibeking AS. Dalam isu kudeta Mesir, Turki menjadi satu-satunya negara anggota G-20 yang menentang keras kudeta tersebut dan masih membela Ikhwanul Muslimin hingga sekarang. Saat Palestina diserang bertubi-tubi, Turki menjadi yang bersuara paling keras dalam membela Palestina, meski Turki seringkali mendapat tudingan memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan musuh-musuh Palestina. Andai ini benar, berarti Turki mengambil resiko mempertaruhkan kesejahteraan dirinya demi menolong saudaranya. Ini memang mulia, tapi sikap seperti ini tak pernah dimiliki oleh negara lain di dunia ini, khususnya tidak dari negara yang merupakan “sekutu strategis” Uni Eropa dan anggota terbesar kedua di koalisi militer NATO.

Fleksibilitas pergerakan internasional yang dimiliki Turki ini belum lagi menilik hal-hal yang terjadi baru-baru ini, seperti halnya yang terjadi pada Qatar dimana meski merupakan sekutu NATO, Erdogan tak segan memesan system rudal S-400 dari Rusia yang merupakan antitesa NATO.

Dalam insiden pemboikotan pada Qatar, Turki mampu bergerak cepat mengirimkan pasukan dan makanan ke Doha meski mereka (pemboikot) adalah Arab Saudi yang tadinya merupakan “raja” kawasan, UEA yang merupakan “bendahara” kawasan, serta Amerika Serikat dengan aparatur negaranya yang merupakan “polisi dunia”.

Gerakan cepat Turki ini juga tidak menimbulkan dampak negatif yang berarti bagi dalam negeri Turki; bahkan sebaliknya, ini menunjukkan keperkasaan Turki Erdogani dihadapan Amerika dan Arab Saudi. Untuk pertama kalinya, ada yang berhasil mencampuri urusan Kawasan Teluk selain AS & Saudi dan menang dalam “urusan” itu. Ini tentu mencoreng kedigdayaan AS serta merusak posisi Saudi sebagai penguasa kawasan.

Terlebih, dalam isu Palestina Erdogan menjadi satu-satunya negeri mandiri yang sukses melakukan upaya pemulihan kekuatan Hamas tanpa membuat Fatah menjauh. Lebih lanjut, diketahui bahwa presiden Palestina Mahmoud Abbas sedang sakit-sakitan dan diperkirakan akan meninggal sebelum dekade ini berganti. Poros AS-Saudi-UEA-Israel menginginkan Muhammad Dahlan menjadi penerus Abbas. Tapi, Erdogan menolaknya. Selain karena Dahlan diketahui merupakan salah satu penggerak upaya kudeta di Turki, diketahui pula ia memiliki kedekatan dengan pihak Israel. Ia tidak bersikeras bahwa Yerusalem Timur harus dikosongkan dari pengaruh zionis. Bahkan, ia beranggapan bahwa demi “perdamaian”, warga Palestina wajib meninggalkan tanah-tanah yang terlanjur dikuasai Israel. Orang seperti inilah yang ditolak Erdogan, dan hingga kini Erdogan sukses bermanuver membujuk organisasi-organisasi Palestina untuk menolak Dahlan.

Trump yang didukung basis evangelis Amerika, Arab Saudi yang menganggap dukungan AS & Israel penting untuk tak hanya mengamankan kedudukan Saudi sebagai raja kawasan tapi juga keselamatan dinasti Saud itu sendiri, serta UEA yang “gerah” dengan semakin cemerlangnya kekuatan ekonomi Turki akhirnya bersatu menganggap Turki sebagai musuh. Hal ini terlihat dari gencarnya kelompok evangelis di Amerika bermanuver menjelek-jelekkan Turki melalui Wakil Presiden Mike Pence, serta sikap Saudi & UEA yang “kisruh” pada setiap gerak-gerik Turki. Ini menjadikan pada akhirnya Amerika Serikat, yang merupakan sekutu strategis Turki, menjatuhkan sanksi (penaikan tarif) disaat Turki masih diterpa instabilitas di perbatasannya, serta disaat Lira Turki masih mencari titik keseimbangan baru. Sekutu macam apa yang berbuat seperti itu, bila merasa tak terancam? Sama halnya dengan Saudi dan UEA. Diketahui bahwa investor-investor yang mereka pegang turut bermain dalam krisis mata uang Lira.

Ini pula yang menjadikan Erdogan “bersikeras” menolak mengembalikan pastor Brunson ke Amerika. Selain ia tak bisa mencampuri kewenangan yudikatif, pengembalian pastor Brunson akan menjadi sinyal bahwa seorang Erdogan ternyata bisa “ditekan” melalui jalur ekonomi. Erdogan sudah ditekan melalui “ancaman” fitnah kasus penyadapan dan korupsi pada 2013, Erdogan sudah ditekan melalui partai sendiri (faksi ‘liberal’ Abdullah Gul), Erdogan sudah ditekan melalui aksi terror komunis Kurdi, Erdogan sudah ditekan bahkan menggunakan percobaan kudeta, tapi itu semua gagal membuat seorang Erdogan mengikuti narasi mereka. Andai kali ini Erdogan “menyerah”, maka mereka akan paham bahwa ia bisa ditekan melalui jalur ekonomi. Tak ada jaminan bahwa mereka akan berhenti pasca pastor Brunson (semisal) dikembalikan ke Amerika. Yang ada, mereka akan berpikir “kalau posisi Erdogan soal Brunson bisa diubah melalui sanksi (ekonomi), berarti posisi Erdogan mengenai hal lain bisa juga diubah melalui sanksi”. Dan kita paham, meski belum sempurna, posisi Erdogan adalah posisi dunia islam.

3. Pastor Brunson dan kudeta Turki


Kasus Andrew Brunson, seorang pastor evangelis Amerika yang dituduh Turki membantu merencanakan upaya kudeta tahun 2016 melawan Presiden Turki, telah dengan cepat memburuknya hubungan antara Washington dan Ankara.

Para pejabat AS mempertahankan tidak ada bukti yang kredibel terhadap Brunson - yang telah ditahan selama hampir dua tahun - dan administrasi Trump telah bernegosiasi selama berminggu-minggu untuk menjamin pembebasannya.

Pengacara Brunson mengatakan kepada CNN pada hari Rabu (15/8/2018) bahwa banding untuk pembebasan penuh Brunson ditolak. Dia dibebaskan ke tahanan rumah bulan lalu sambil menunggu persidangan yang sedang berlangsung.

Kasus yang menerpa Pastor Andrew Brunson dari gerakan evangelis Amerika, sebetulnya bukan kasus yang dibuat-buat. Jauh dari itu. Brunson yang seorang evangelis diketahui memiliki banyak kontak baik dengan gerakan Gulen maupun organisasi-organisasi komunis Kurdi. Dari penyelidikan mendalam, ia diketahui melakukan berbagai tindakan yang pada intinya “membantu” Gulen untuk mempersiapkan dan mengamankan pasca gagalnya kudeta, serta mencoba mengoordinasikan gerakan-gerakan terror dari kelompok Komunis Kurdi dengan narasi yang ingin dibangun oleh gurita Gulen di Turki.

Permasalahannya adalah, Turki belum menyelidiki apa peran Brunson dengan organisasi evangelis yang ada di Amerika. Bagaimana interaksinya, siapa saja koneksinya di Amerika, serta bagaimana ia membangun jaringan yang melintasi dua sisi samudera Atlantik, semua itu belum dibongkar dan masih didalami.

Namun, dugaan saya, Brunson memiliki jaringan evangelis yang luas di Amerika. Minimal sekali, dari pola yang ada, Brunson tidak sendiri dalam membantu Gulen dan berkoordinasi dengan gerakan-gerakan komunis Kurdi.

Apalagi, melihat bahwa Wakil Presiden AS Mike Pence (yang merupakan anggota gerakan evangelis Kristen) begitu getol memperjuangkan “pembebasan” Brunson, tersirat bahwa Brunson memiliki jaringan (bos) yang mengakar kuat. Ini berarti, meski belum ada bukti, bisa dideduksi bahwa gerakan evangelis di Amerika bukan hanya sudah mengetahui akan adanya percobaan kudeta itu, tapi bahkan mereka “merestui” Brunson untuk bekerjasama dengan Gulen, seorang muslim yang seharusnya adalah saingan mereka di Amerika.

Dengan sendirinya, sebetulnya ini bukanlah hal yang mengejutkan. Di Amerika, Gulen menampilkan wajah “islam liberal” yang lebih senang berdialog dengan Kristen dibanding “muslim konservatif”. Banyak narasi Kristen dan media afiliasi mereka yang menyebut Erdogan adalah representasi dari kembalinya Khilafah Utsmaniyyah. Dulu, seorang evangelis bernama Rick Perry yang menjadi Menteri ESDM di Kabinet Trump, meminta agar Turki diusir dari NATO karena narasi Islam yang dibawa Erdogan dinilai “tak sesuai nilai-nilai Barat”. Ini baru pernyataan seorang Perry. Bila kita tarik benang merahnya, bisa jadi dari persidangan Brunson ini akan terungkap bahwa ternyata gerakan evangelis Kristen terlibat dalam upaya penggulingan Erdogan. Ini berarti, yang terjadi bukanlah muslim vs muslim (Erdogan vs Gulen/UEA) lagi, tapi akan ada hard evidence (bukti fisik/kuat) bahwa ada tangan-tangan Kristen yang terlibat dalam kudeta itu. Inilah sepertinya yang menyebabkan, meski AS-Turki memiliki hubungan panjang selama hampir 90 tahun, meski Brunson “hanya” seorang pastor, meski sebagai sekutu AS paham betul hambatan ekonomi yang mereka ciptakan untuk Turki akan membuat Turki pergi ke ‘pelukan’ Vladimir Putin, AS tetap memilih untuk memberikan sanksi disaat Turki masih mencari kestabilan. Ini tidak main-main, taruhannya adalah hard evidence (bukti kuat), mengubah konspirasi (peran AS/Kristen) menjadi kenyataan.

4. Keinginan Erdogan “menempa” Menkeu Albayrak

(Albayrak dan Erdogan)

Sebetulnya, Erdogan bisa saja menurunkan tensi ketegangan dengan ‘melepas’ Brunson. Pernah ada preseden, di era presiden Bush, bahwa pengadilan Turki ‘melepas’ seorang prajurit AS yang ‘nyasar’ masuk ke instalasi penting kepunyaan militer Turki. Caranya, Erdogan memerintahkan kejaksaan untuk mencabut argument yang menolak pelepasan penahanan hingga pengadilan tak memiliki alasan untuk ‘melarang’ sang prajurit dilepas.

Memang, Turki sekarang bukan yang dulu. Namun, Erdogan adalah seorang ‘pemain’ sepakbola, ia bergerak menggunakan strategi. Lalu, mengapa ia bersikeras di insiden Brunson, meski Turki digoyang secara ekonomi? Ini karena ia ingin ‘menempa’ Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak, pewaris tahta sang Sultan.

Perlu diperhatikan bahwa di usianya dulu yang belum mencapai 40 tahun (tahun 2015), Albayrak yang merupakan menantu Erdogan ini telah diangkat menjadi salah satu ketua DPP partai AKP dan diikutsertakan dalam Majelis Tinggi/Majelis Syuro-nya AKP. Lalu, di usianya yang belum menginjak 38 tahun, ia telah diangkat menjadi menteri ESDM (Energi) Turki. Di usia yang singkat itu, ia dituntut mengemban jabatan yang memegang salah satu titik syaraf Turki (energi). Lalu pasca Erdogan menang dalam pemilihan presiden kemarin, Albayrak langsung diangkat menjadi Menteri Keuangan Turki. Usianya yang baru 40 tahun, ditambah latar belakang nya yang bukan seorang akademisi, menyebabkan munculnya spekulasi bahwa Albayrak sedang digembleng Erdogan untuk memerintah Turki di masa yang akan datang. Lalu, jika benar ia merupakan pewaris ‘tahta’ Erdogan, lalu mengapa Erdogan malah ‘menyusahkan’nya saat baru sebulan ia menjabat sebagai menteri Keuangan? Ini karena Erdogan merupakan pemimpin yang berpola pikir strategis. Ia paham bahwa, saat Turki mengambil kembali mantel/jubah khilafah pada tahun 2023 nanti, tantangan yang dihadapi Turki sekarang akan seperti debu dibanding tantangan pasca 2023. Sedini mungkin, Erdogan harus “menempa” sang pewaris agar bila saatnya nanti, ia sudah siap menghadapi tantangan.

Erdogan ingin mengajarkan kepada Albayrak bahwa dunia itu keras, bahwa keadaan tidak selalu enak. Karena itulah, bila-pun Erdogan nanti umurnya panjang, ia ingin agar Albayrak mampu menyerap segala ilmu dan pengalaman yang ia miliki sedini mungkin. Ia ingin agar generasi-generasi penerusnya lebih baik dari diri dan generasinya.***