Neno Dihadang & Dipulangkan, Fahri: Katanya Survey Kalian Menang Besar, Masak Sama Emak-emak Aja Takut?


[PORTAL-ISLAM.ID] Neno Warisman akhirnya batal menghadiri deklarasi #2019GantiPresiden di Pekanbaru, Riau. Neno kembali ke Jakarta bersama 3 rekannya lewat Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru setelah mendapat penghadangan massa.

"Bu Neno W dan 3 orang rombongan sudah terbang ke Jakarta malam ini," kata GM Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Jaya Tahoma dalam siaran tertulisnya kepada wartawan, Sabtu (25/8/2018).

Jaya menjelaskan, Neno Warisman dari Bandara Pekanbaru menggunakan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT297.

"Di mana pesawatnya tadi take off pukul 22.30 WIB," kata Jaya.

Sebelumnya, Neno datang ke Pekanbaru dalam rangka deklarasi gerakan #2019GantiPresiden. Neno tiba di Pekanbaru pukul 15.00 WIB. Saat keluar dari pintu parkir, Neno dihadang massa.

Neno menumpangi mobil BMW warna putih. Mobilnya tak bisa bergerak selama 6 jam. Akhirnya pukul 22.00 WIB, Neno keluar dari mobil BMW dan pindah ke mobil yang disediakan aparat lalu dibawa kembali ke Bandara SSK II dan dipulangkan kembali ke Jakarta.

Tindakan penghadangan dan pemulangan paksa Neno Warisman menuai kecaman luas.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai pengelolaan negara seperti ini yang bikin rusak.

"Kalau begini cara kalian mengelola perbedaan pendapat, rusak negara ini," kata Fahri yang saat ini masih di Tanah Suci Makkah melalui akun twitternya tadi malam.

"Katanya survey menang besar? Masak sama perempuan aja takut kalian, pakai kirim preman bakar ban bekas di bandara segala? Bikin deklarasi yang sama dong. Jangan sok kuasa lah! Jangan memancing perpecahan!" ujar Fahri.

"Ini rezim perlu diberi kuliah tentang :
- pengantar demokrasi
- sejarah reformasi
- teori negara hukum
- makna kebebasan
- mengelola perbedaan
- hak2 warga negara," lanjut Fahri.

Fahri juga menyebut pemulangan paksa Neno Warisman kerja intelijen.

"Ada pejabat BIN Daerah yang gak baca UU intelijen maka dia harusnya dipecat aja...otaknya masih bermental otoriter...dia kira BIN punya kekuatan eksekusi...dia kira konstitusinya masih UUD sebelum amandemen..capek deh...," kata Fahri.