Fatwa MUI dicaci maki, Giliran Jokowi dibiarin....

Netizen Ambyar

BY TERE LIYE

Saat MUI mengeluarkan fatwa: mengucapkan salam campur2 semua agama adalah haram, netizen banyak yang nyinyir to the bone. Maki2. Nyaci2. Negara lain sudah ke Mars, di sini masih saja bahas beginian. Agama dijadikan jualan, bla bla.

Padahal, heh stupido, fatwa MUI itu tidak pernah berlaku mengikat. Itu tuh terserah. Buat yg meyakini silahkan, buat yg tdk meyakini, juga terserah. Setuju atau tidak, terserah masing2. Apa sih dampak buruknya? Toleransi? Kamu tuh lucu banget. Toleransi itu dilihat dari kehidupan bertetangga real. Bukan dari ribut2 medsos. Kamu ngoceh sok paling toleran di medsos, eh tetangga sebelah rumah saja nggak saling sapa, nggak saling kenal. Kamu tahu siapa nama RT-mu? Coba ngaca dulu deh.

Kalau kamu mau marah saat agama dibawa-bawa ke ranah politik, bernegara, dll, kamu seharusnya marah sekali saat: pemerintah memberikan izin Ormas keagamaan mengelola tambang. Inilah justru contoh real agama dibawa-bawa ke politik. Jualan elektoral.

Yang satu ini dampaknya benar-benar serius, dan ini jelas tidak bisa terserah. Setuju atau tidak, karena jadi peraturan, semua harus ikut. Beda dengan fatwa MUI! Wah, kalau peraturan pemerintah kayak fatwa MUI, tidak mengikat, asyik deh. Tapera/pajak? Terserah, mau ikut atau tidak?

Lantas apa dampak peraturan baru ini?

Simpel. Kamu bayangkan, besok lusa, saat sebuah tambang ribut-ribut ada masalah konflik agraria, masalah perusakan lingkungan, itu masyarakat biasa akan berhadapan dgn siapa? Bukan dengan polisi atau tentara saja, melainkan dengan: kelompok yg pakai seragam militer, dan asyik main militer-militeran. Yg gayanya ngelebihi tentara betulan.

Konflik-konflik ini akan semakin meruncing. Rakyat vs rakyat. Apalagi jika badan usaha Ormas ini, kental sekali dikuasai oleh elit Ormasnya--bukan profesional. Wah, kusut deh. Cara-cara kekuasaan, cara-cara intimidasi, bisa lebih serius dampaknya. 'Jangan menyakiti kami, atau kami akan sakiti balik!'

Maka, jika kamu ngoceh tralala, nyinyirin soal fatwa MUI; tapi kamu mingkem saat pemerintah memberikan izin tambang ke Ormas keagamaan, seriusan, kamu simpel benci saja sama agama. Bahkan dengan agama sendiri.

*Tere Liye, penulis novel 'Teruslah Bodoh Jangan Pintar'

Baca juga :