Kenapa orang Kristen trauma/alergi dengan kata "Kafir"? INI SEJARAHNYA...

Alergi Kata "Kafir

Oleh: Arif Wibowo (Kristolog)

Bisa dimaklumi, kalau orang Kristen trauma dengan kata kafir, karena kata kafir diterjemahkan dengan kata "heresy, heretik". Pada masa lalu kalau sampai tertuduh "heretik" ia akan di ekskomunikasi (dikucilkan) bahkan bisa sampai diajukan di mahkamah inquisisi. 

Hal ini dikarenakan pada masa lalu, masyarakat Kristen Barat menerapkan sistem keagamaan tunggal, jadi semua harus beragama yang sama. Berbeda dengan Islam yang sejak jaman Nabi, sudah biasa orang berbeda agama tinggal dalam satu kawasan yang sama.

Komunitas non-Kristen yang boleh tetap hidup, Yahudi, tapi mereka harus tinggal dalam desa-desa khusus yang bernama ghetto. Yakni kawasan yang mendapat pengawasan khusus dari negara.

Makanya ketika gereja pecah menjadi tiga aliran, Lutheran, Calvinis dan Katolik, benar-benar terjadi "perang agama." Dimana orang diperangi karena aliran gerejanya berbeda. Perang besar yang membunuh 1,7 juta jiwa sebelum diakhiri dengan perjanjian Westphalia.

Itu sebabnya, di Indonesia, bekas jajahan Belanda yang Calvinis, antara Protestan dan Katolik menjadi agama yang berbeda. Karena saat awal hingga puncak perpecahan, ketika kerajaan Belanda memilih Calvinisme, semua gereja Katolik ditutup, rohaniawan Katolik dilarang berkarya. 

Katolik baru diperbolehkan kembali hidup setelah Belanda kalah oleh Perancis, dan harus menyetujui opsi sekularisme bahwa negara harus netral di hadapan semua aliran gereja.

Ketika Andalusia jatuh, direbut kembali oleh pasukan Katolik, maka orang-orang non Katolik seperti Yahudi, muslim dan kekristenan non Katolik diberi dua pilihan, memeluk agama Katolik atau keluar dari Andalusia. Kalau ngeyel, akan dibawa ke mahkamah Inquisisi.

Makanya, kalau ada orang Islam yang hendak menghilangkan kata kafir, ada baiknya diajak belajar sejarah dan perbandingan agama dulu dan ditunjukkan bahwa "kafir" dengan "heretik" itu beda.

Kalau kafir tinggal jenisnya, apakah dia masuk harbi atau dzimmi. Kalau dengan kafir dzimmi yang sudah biasa sejak dulu orang Islam itu bermuamalah. Jual beli di pasar, cangkrukan, ngopi bareng, kalau sekarang ya ngrokok bareng, dan dijamin tidak ada kata "hei fir! kafir sini kamu!", akan keluar dari mulut seorang muslim.

Karena kafir adalah terminologi baku agama, ada dalam sistem kepercayaan tapi bukan untuk bahasa panggilan dalam pergaulan.

(*)
Baca juga :