NARASI KEMENANGAN... BUKAN PESIMISME KESEDIHAN

Oleh: Ustadz Budi Ashari

Amatilah lebih detail tentang cara berbagai orang dan media menyuguhkan berita tentang perang Gaza vs Israel. Saya tidak sedang bicara tentang hanya istilah jihad vs perang, atau mujahid vs teroris. Itu sudah biasa dibahas...

Perhatikan cara para pasukan pemberani Gaza yang terdiri dari berbagai kelompok yang bersatu dalam satu komando itu melaporkan semuanya. Dan bukalah kembali setiap lembar perjuangan dan perlawanan mereka selama ini dari tahun ke tahun.

Lihat cara mereka melaporkan jalannya juga keadaan saat pertempuran terjadi.

Yang mereka laporkan tentang senjata-senjata terbaru mereka, kekuatan, strategi jitu, korban dari pihak musuh, tawanan perang yang didapat, ancaman mereka pada lawan, bantahan terhadap klaim sepihak dengan kalimat dan data. Dipadu dengan akhlak yang mendarah daging di sekujur diri dan senjata mereka, bersama anak kecil, orangtua, orang sakit, bahkan tawanan tentara lawan yang telah menyerah. 

Sementara laporan, tulisan dan pembahasan kita, bahkan -disayangkan- tulisan dan laporan mereka yang disebut sebagai "akvifis islam" masih banyak seputar air mata, korban berjatuhan di Gaza, senjata canggih Israel, ancaman musuh, bala bantuan yang memamerkan kapal induknya.

Akhirnya kita tidak bisa memandang semua ini dengan mata para mujahid. Kita tidak bisa melihat wajah panik Netanyahu walau sedang garang mengancam. Kita tidak mampu berkata bahwa senjata Israel yang canggih nan mahal itu hanya tumpukan besi lapuk. Kita tidak bisa melihat bahwa pameran kekuatan yang sedang datang, sesungguhnya adalah mengantarkan harta rampasan perang bagi muslimin.

Saat para mujahid sedang menyuarakan kekuatan, keyakinan, optimisme, kemenangan, harapan.

Kita hanya ramai membicarakan kesedihan, ketakutan, kekacauan...

Jangan bicara tentang bagi tugas. Jangan bicara tentang kemanusiaan. Jangan bicara tentang empati. Para mujahid itu pelakunya, mereka lebih paham.

Ini masalah ketidakpahaman ruh syariat, sehingga kita membicarakan kesedihan di hari kebahagiaan dan kekalahan di hari kemenangan. 

Yang mentadabburi ayat berikut ini, akan paham maksud kalimat di atas:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ 

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” [QS 10:58]

Pantas mereka mempunyai pasukan media sendiri. Mereka melatih tim media bukan saja sangat pakar di bidangnya, tetapi juga dilatih selayaknya pasukan tempur pemegang senjata api. Tidak ada yang bisa mengakses mereka kecuali yang mereka izinan.

Pantas mereka tidak percaya dengan semua media. 

Karena saat para pejuang itu melaporkan kekuatan, semua melaporkan kelemahan.

Karena saat para pejuang itu melaporkan jumlah tawanan dan harta rampasan perang, semua melaporkan korban Gaza yang berjatuhan.

Karena saat para pejuang itu menyuarakan ke seluruh dunia tentang ancaman demi ancaman kepada musuh, semua melaporkan tentang ancaman musuh kepada Gaza, kekuatan militer dan persenjataan Israel dan sekutunya serta kutukan dunia terhadap para pejuang.

Hanya Allah yang bersama kalian, wahai para mujahid.

Kalian biasa berjuang sendiri. Dan maafkan saudara kalian ini yang belum kunjung bisa menemani kalian walau hanya sekadar cara melaporkan.

Maafkan, umat yang belum kunjung paham cara bangkit dan terus menikmati air mata, padahal telah kalian ajarkan.

Kalian (masih) sendiri....tapi bersama Allah!

Baca juga :