Berdalih Dengan Taqdir

Berdalih Dengan Taqdir

Oleh: Ustadz Yendri Junaidi, Lc. MA

Diantara rukun iman yang wajib kita yakini adalah iman kepada taqdir. Iman pada taqdir artinya kita yakin bahwa apa saja yang terjadi di alam ini sudah ditentukan oleh Allah Swt. Ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Yunus ayat 61 bahwa apa saja yang terjadi di alam ini meskipun sekecil biji atom, atau bahkan lebih kecil dari itu, semuanya sudah ada dalam kitab, maksudnya dalam Lauh Mahfuzh.

Perhatikan juga firman Allah Swt berikut ini:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23) 

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya padamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Al-Hadid ayat 22-23).

Berarti semuanya sudah ditentukan dan digariskan oleh Allah sejak azali, jauh sebelum alam ini diciptakan, apa yang akan terjadi, kalau terjadi bagaimana terjadinya dan seterusnya. Semuanya, termasuk kebaikan dan keburukan.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah perbuatan maksiat, dosa dan kejahatan manusia termasuk ke dalam takdir yang sudah ditentukan oleh Allah Swt? Dengan kata lain, ketika seseorang melakukan sebuah dosa, misalnya mencuri, apakah perbuatannya ini sudah tertulis di dalam Lauh Mahfuz dan ditentukan oleh Allah swt sejak azali?

Jika jawabannya iya, akan muncul pertanyaan selanjutnya, kalau semua sudah tertulis di dalam Lauh Mahfuz dan ditakdirkan oleh Allah, berarti perbuatan itu mesti terjadi, dan orang itu sudah ditakdirkan akan mencuri di hari A, di rumah si B, korbannya si C dan seterusnya. Kalau sudah tertulis di Lauh Mahfuz berarti ia tidak dapat menghindar dari takdir tersebut. Kalau demikian, kenapa ia disalahkan atas perbuatan yang sudah dituliskan sejak dulu di Lauh Mahfuz dan sudah ditakdirkan oleh Sang Pencipta?

Kalau dikatakan bahwa perbuatan dosa dan maksiat itu tidak ditakdirkan dan tidak tertulis di Lauh Mahfuz, maka implikasinya juga tak kalah berbahaya, karena ini berarti ada sesuatu yang terjadi di alam ini di luar ketentuan Allah, dan ini artinya takdir Allah tidak berlaku untuk seluruh makhluk, hasya lillah (mahasuci Allah).

Pertanyaan seperti ini penting untuk kita kaji di tengah perkembangan yang terjadi dalam masyarakat akhir-akhir ini. Yang paling hangat adalah masalah LGBT. Ada yang berpendapat bahwa kecenderungan suka sesama jenis itu sudah bawaan dari lahir. Karena ia sudah diciptakan dengan membawa kecenderungan kepada homoseks, misalnya, kenapa ia mesti disalahkan? Bukankah semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan?

Tanpa kita sadari, persepsi seperti ini banyak bersemayam di dalam pikiran kita. Dengan mudah kita melemparkan segala sesuatu kepada takdir, dengan anggapan semua sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. 

Ketika seseorang memacu mobilnya ugal-ugalan lalu ia tewas, ada yang berkata: “Sudah takdirnya ia meninggal seperti itu.” Ketika seseorang tidak berhenti merokok, lalu ia mengalami kanker jantung kemudian meninggal, ada yang berkata: “Sudah takdirnya ia meninggal seperti itu.”

Anggapan seperti ini membuat orang merasa tidak memiliki bertanggungjawab atas perbuatan dan pilihannya sendiri. Ini juga yang membuat sebagian orang membenarkan perbuatan maksiat dengan dalih semua sudah ditentukan oleh Allah Swt. Akhirnya ada usaha untuk melegalkan dan menerima LGBT di negara ini. Ternyata ini juga keyakinan orang-orang kafir di masa jahiliah. 

Mari kita simak ayat berikut dalam surat an-Nahl 35:

وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Orang musyrik berkata, “Kalau Allah menghendaki tentu kami tidak akan menyembah sesuatu apapun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa izin-Nya. Demikianlah yang diperbuat oleh orang sebelum mereka. Bukankah kewajiban para rasul hanya menyampaikan dengan jelas.

Dalam persepsi mereka, kemusyrikan yang mereka lakukan, juga yang dilakukan nenek moyang mereka, semuanya terjadi atas kehendak Allah. Jadi mereka tidak salah.

Bagaimana yang sesungguhnya? 

Kita harus meyakini bahwa apapun yang terjadi di alam ini, apapun yang dilakukan oleh manusia, baik atau buruk, semua terjadi karena izin Allah. Jika Allah tidak izin maka ia tidak akan terjadi. Kita ingin pergi shalat Jumat, mesti ada izin dari Allah. Jika Allah tidak izin kita tidak akan sampai di masjid, bisa jadi karena sakit, kecelakaan atau hati kita yang tiba-tiba merasa malas untuk pergi.

Perbuatan dosa pun juga tidak akan terjadi kalau tidak ada izin dari Allah. Ketika seseorang bermaksud untuk mencuri hak orang lain, perbuatan itu tidak akan terjadi kalau bukan karena izin dari Allah.

Tapi apakah semua yang diizinkan oleh Allah berarti Allah menyukainya? Disini inti jawabannya.

Memang semuanya terjadi karena izin dari Allah. Si A bisa berzina karena izin dari Allah, si B bisa menzalimi bawahannya karena izin dari Allah. Tapi apakah Allah menyukai semua itu? Apakah Allah meridhainya?

Allah bahkan mengizinkan terjadinya kekafiran dan kemusyrikan di muka bumi. Allah mengizinkan terjadinya pengingkaran terhadap Dzat-Nya. 

Tapi apakah Dia menyukai itu semua terjadi? Tentu tidak. 

Mari kita simak firman-Nya dalam QS. Az-Zumar ayat 7 berikut ini:

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
 
"Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhai kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridhai kesyukuranmu itu. Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia beritakan keapdamu apa yang telah kamu kerjakan. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dada."

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana mungkin sesuatu diizinkan terjadi tapi tidak disukai?

Kita bisa berikan sebuah perumpamaan sederhana. Seorang pasien menderita penyakit yang berbahaya di bagian lengannya. Ada virus atau bakteri mematikan yang sedang menjalari tubuhnya. Agar bakterinya tidak menjalar ke bagian tubuh yang lain, dokter menyarankan agar lengannya diamputasi. Dokter minta izin padanya untuk melakukan amputasi. Karena mengetahui bahaya virus itu akhirnya si pasien mengizinkan lengannya diamputasi. Tapi kalau ditanya apakah ia suka lengannya diamputasi? Tentu tidak. Tapi ia tetap mengizinkan untuk kesembuhan dirinya. Berarti izin tidak selalu berbanding lurus dengan suka.

Kalau begitu kenapa Allah mengizinkan kemaksiatan terjadi? Kenapa Allah mengizinkan adanya orang-orang yang memiliki kecenderungan yang tidak normal seperti LGBT itu? Bahkan, kenapa Allah mengizinkan terjadinya berbagai musibah dan bencana yang justeru menyengsarakan manusia?

Jawabannya sederhana saja. Kenapa Allah menciptakan babi kalau kemudian Dia melarang kita untuk memakannya? Di sinilah letak ujian dan cobaan. Ia ciptakan babi lalu Ia larang kita memakannya untuk melihat siapa yang benar-benar patuh kepada perintah-Nya dan siapa yang tidak. Ia izinkan terjadi bencana dan musibah untuk melihat siapa yang sabar dan ridha pada ketentuan-Nya dan siapa yang tidak sabar dan putus asa.

Perlukah ada cobaan dan ujian? Bukankah Allah Maha Tahu siapa yang taat dan siapa yang menentang? Pasti Allah tahu. Tapi cobaan itu penting karena manusia tidak akan mencapai tingkat kesempurnaan dan kematangan iman tanpa melalui cobaan dan ujian. Manusia-manusia yang lulus dalam cobaan dan ujian saja yang akan mencapai tingkat kesempurnaan dan kematangan. Karena itulah para malaikat tidak dicoba karena mereka tidak perlu untuk mencapai kematangan. Binatang juga tidak perlu diuji karena memang mereka tidak diciptakan untuk itu. 

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ ١

Mahasuci Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ٢

Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.

[QS Al-Mulk: 1-2]