Apakah di Surga Ada Kopi?

Apakah di Surga Ada Kopi?

Oleh: Ustadz Yusuf Al-Amien

Alkisah, pada suatu hari Rasulullah tengah duduk-duduk bersama para sahabat, lalu beliau menyampaikan sejumlah kisah tentang penduduk surga. Di mana ada salah seorang penduduk surga yang memiliki permintaan aneh. Dia ingin bercocok tanam! Padahal, di surga semuanya tersedia lengkap tanpa harus capek-capek bertani. 

Lelaki penghuni surga itu meminta izin kepada Allah untuk bertani, lalu Allah berkata kepadanya: “Bukankah di dalam surga terdapat segala sesuatu yang engkau inginkan?” Lelaki itu menjawab: “Benar, tetapi aku ingin menanam”. Maka dia pun diizinkan. Lalu dia menabur benih, dan dalam sekejap tanaman itu tumbuh, matang dan dipanen, hingga menjadi seperti gunung. 

Lalu, ada seorang Arab Badui (di majlis Nabi tersebut) nyeletuk: “Demi Allah, engkau tidak akan mendapati orang tersebut (penghuni surga yang minta untuk bisa bertani) kecuali dia adalah orang Quraisy atau Anshar, karena mereka adalah para petani, sedangkan kami bukanlah para petani”, maka Nabi SAW pun tertawa.

***

Delapan abad kemudian, di sebuah kota bernama Tlemcen (Tilmasan) yang terletak di Algeria, ada seorang Syekh yang tengah membicarakan tentang nikmat-nikmat surga di sebuah majelis ilmu. Di majelis tersebut, ada seorang anak kecil yang duduk khusyuk mendengarkan penjelasan sang syekh. Lalu, anak kecil itu bertanya:

“Wahai syekh, apakah di surga nanti ilmu akan dipelajari?"

"Ya.." jawab sang syekh.

"Apa dalilnya?" tukas anak itu.

Setelah berpikir sejenak, syekh itu lalu menyitir ayat ke-71 dari surat Zukhruf, yang artinya: “...di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap -dipandang- mata…”. Sang syekh lalu menyatakan: “Ilmu itu termasuk sesuatu yang 'diingini oleh hati' (dinikmati), maka dari itu, ia terdapat di Surga”.

Anak itu lantas berkata: “Alhamdulillah, seandainya saja engkau katakan bahwa tidak ada ilmu di surga, sungguh itu akan membuatku sedih”.

Di kemudian hari, anak kecil itu tumbuh menjadi ulama besar, dia adalah Imam Syarif At-Tilmasani, salah satu ulama tersohor dan mujtahid abad-8 Hijriah. 

Dialah penulis kitab “Miftahul Wushul Ila Bina`il Furu’ ‘Alal Ushul”, salah satu kitab penting dalam Ushul Fikih yang konsentrasi dalam kajian Takhrij Furu’ ‘Alal Ushul, sebuah kajian tingkat lanjut dalam Ilmu Ushul Fikih yang cukup rumit, bahkan guru kami, Prof. Mahmud Abdurrahman sepat menegaskan: “Di Al-Azhar, saya selalu menolak proposal Magister untuk menulis kajian ini dalam Thesis mereka. Kajian ini baru bisa ditulis untuk Disertasi dalam jenjang Doktoral”.

***

Dua kisah di atas, meskipun berbeda waktu dan tempat, tapi memiliki tema yang sama, yaitu membahas tentang kenikmatan surga. 

Apa yang dikisahkan Nabi SAW tentang lelaki yang meminta untuk bertani, itu karena dahulu di dunia ia adalah seorang petani yang menikmati profesinya, dia mendapatkan kenikmatan dalam pekerjaannya. Terkadang, seseorang bekerja karena justru di dalam gerak dan kerja itulah ada kenikmatan tersendiri yang didapatkannya. Maka permintaan untuk bertani di surga itu walaupun terkesan aneh, Allah tetap mengabulkannya. Karena di surga segala keinginan dapat dikabulkan.

Maka, di surga ada segala macam kenikmatan, baik maknawi ataupun indrawi. Karena Allah telah Berfirman dengan jelas: “Di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati”. 

Ini artinya, di surga ada kenikmatan-kenikmatan yang pernah kita kenal di dunia dahulu. Di surga ada daging yang lezat, ada susu yang nikmat, ada kopi yang pekat, dan tentunya ada gorengan yang hangat. 

Tapi jelas, segala apa yang ada di surga tentu berbeda dengan apa yang ada di dunia. Karena Nabi pernah bersabda, bahwa di dalam surga itu terdapat kenikmatan yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan bahkan tak pernah terlintas di benak jin dan manusia.

Jadi, sudahkah Anda ngopi pagi ini? ๐Ÿ˜☕️ 

(*)