Framing murahan Kompas TV

Framing murahan Kompas TV

Oleh: Ruby Kay*

Beginilah kalau nulis berita sambil menenggak miras cap topi miring, otak wartawan Kompas jadi ikutan miring!

Sekeluarga ditemukan tewas mengenaskan dalam sebuah rumah yang beralamat di CITRA GARDEN 1 EXTENSION, KALIDERES, JAKARTA BARAT.

Sengaja alamatnya gue tulis pake huruf kapital. Wartawan Kompas pasti mengerti kalau perumahan kelas menengah atas itu mayoritas dihuni oleh non muslim dari etnis tertentu.

Sudah tahu begitu, kenapa jurnalis Kompas malah mengaitkan kasus tersebut dengan ibadah haji? Korelasinya dimana coba?

Cobalah bersikap objektif. Di Jakarta, keengganan bergaul dan bersosialisasi itu lebih mudah kita temukan di apartemen atau cluster perumahan elit.

Kalau tinggal di perkampungan padat penduduk beda cerita. Kehabisan beras? Lu tinggal melipir kerumah tetangga atau datangi warung mak Solehah. Sekedar seliter beras mah pasti dikasih. Bayarnya bisa bulan depan atau taon depan. Lama-lama warung mak Solehah bangkrut, cash flow macet karena banyak yang ngutang.

Mau berobat ke rumah sakit tapi gak ada duit? Tinggal datangi rumah pak RT, dijamin lu bakal dibuatin surat keterangan tidak mampu.

Warga yang tinggal di perkampungan solidaritasnya lebih tinggi ketimbang orang yang berdomisili di perumahan elit. Apalagi kalau kita mudah bergaul, ramah dan sering ikut kerja bakti. Gue jamin saat lu kesusahan pasti ada aja orang yang akan memberi pertolongan.

Beda lagi kalau lu tinggal di apartemen atau komplek perumahan elit. Sama tetangga sebelah kamar aja gak saling mengenal. Jarang bertemu karena pada sibuk dengan urusan masing-masing. Tetangga kanan-kiri kerjanya apa, meneketehe. Sama-sama sibuk mana sempat kepoin hidup orang lain.

Bisa diambil kesimpulan bahwa tinggal di perkampungan, apartemen atau perumahan elit memiliki plus dan minus.

Di lingkungan elit, privacy bakal terjamin, gak bakal ada yang usil dengan kehidupan pribadi seseorang. Negatifnya, kalau sakit parah jangan harap ada yang nolongin. Wong dengan tetangga yang berbatasan dinding aja gak saling kenal.

Tinggal di perkampungan, berarti mesti siap-siap dikepoin sama tetangga 7 x 24 jam. Lu beli kulkas baru jadi omongan, kolor robek yang tergantung di jemuran jadi bahan olok-olokan. Malam ini ribut sama istri, esok hari kabarnya sudah tersiar kemana-mana, jadi obrolan bapak-bapak di warung kopi, jadi bahan ghibahan emak-emak sama tukang sayur. Positifnya berdomisili di perkampungan, saat sakit atau kelaparan, lu gak bakal sendirian.

So, Kompas kalau mau buat framing yang cerdas dikitlah bray. Ntar kalau digruduk playing victim, seakan-akan dizholimi. Padahal kalian sendiri yang memantik api. Situasi sudah mulai kondusif, kenapa diusilin sih?

*source: fb penulis