Pendukung Oligarki dan Anti-Anies Panik

By Wendra Setiawan

Seharusnya PDIP dan Megawati tidak perlu khawatir dengan tekanan dan teror dari berbagai survei yang hampir selalu 'memenangkan' Ganjar Pranowo dibanding kandidat-kandidat lain, apalagi dibanding Puan Maharani.

Percayalah, GP unggul bukan karena prestasinya. GP sebelumnya lebih dulu dikenal publik karena disebut-sebut dalam kasus e-KTP. Lalu semakin terkenal ketika dalam sebuah podcast ia menyebut suka menonton film porno. Dan lebih terkenal lagi ketika ia berkonflik dengan warganya sendiri dalam kasus semen Kendeng dan konflik Wadas.

Selain masalah-masalah di atas, masyarakat di luar Jateng hampir tidak pernah mendengar sepak terjang GP, karena beliau memang hampir tidak pernah menyepak dan menerjang apapun.

Tapi ketika nama Anies mulai disebut-sebut sebagai kandidat capres potensial, pendukung oligarki dan anti Anies panik. Mereka mulai mencari-cari siapa kandidat yang cukup kuat untuk dihadapkan dengan Anies.

Risma pernah mereka coba orbitkan, tapi kebiasaan eks Walkot Surabaya yang ngamukan mereka anggap rentan blunder. Risma dicoret. PS juga pernah mereka coba, tapi mereka takut senjata yang dulu mereka pakai untuk menyerang PS akan dikembalikan pendukung Anies untuk menyerang mereka.

Mereka sempat tertarik dengan Ridwan Kamil. Tapi Ridwan menurut mereka agak susah dirangkul. Banyak nama-nama lain yang sudah disimulasikan, tapi hasilnya tidak memuaskan.

Lalu ketemulah GP yang dalam pilkada Jateng kemarin juga sering bicara tentang Pancasila dan radikalisme. GP juga menurut mereka dekat dengan Nahdliyin sebelum Eko Kuntadhi merusaknya. Apalagi Wagub Jateng adalah seorang NU tulen.

Klop. GP pun diorbitkan. Survei-survei digalakkan. Foto-foto GP sedang bersepeda dan membumi dengan pedagang kecil bertebaran. Video GP yang tegas karena marah-marah dengan oknum menghiasi media sosial. Tapi ya sebatas itu. Jangan harap ada berita tentang turunnya kemiskinan atau naiknya PDB daerah secara signifikan semasa pemerintahan Ganjar misalnya. Lha wong Trimedya Panjaitan (petinggi PDIP) saja dalam sebuah talk-show pernah mengatakan tidak ada kemajuan berarti di Jateng selama dipimpin GP. 

Dari fakta di atas harusnya PDIP menyadari jika naiknya popularitas GP bukan karena prestasinya. GP adalah produk yang diiklankan secara masif di slot primetime. Berbiaya mahal tentu saja. Tidak murah menyewa Indikator Politik, SMRC, Charta Politika, Indo Barometer, dll.

"Duitnya dari maanaaa?" tanya Yusuf Mansur sambil gebrak meja. Bukan dari PDIP pastinya.

Siapapun nanti yang akan dihadapi oleh AB di Pilpres 2024 nanti, mereka para pendukung status quo ini pasti akan memilih lawan Anies. Bahkan jika yang dilawan Anies tutup panci sekalipun.

Dengan kondisi seperti ini, harusnya PDIP tidak perlu khawatir untuk mencalonkan Puan, karena pendukung GP otomatis akan beralih ke Puan jika GP gagal mencalonkan diri.

Tutup panci saja berani, masak Puan enggak?!

(fb)