Menyedihkan...! Mahasiswa NTT Bayar Rp 250 Juta Demi Masuk Polisi

Sad (Menyedihkan)

Indonesia itu sudah 77 tahun merdeka, tapi kondisi ini masih begini saja. Mental bangsa jajahan. Mental rendah. Cari aman. Saling sikut. Saling suap. Korup. Kebencian sesama, dll, dsbgnya.

Sedih lihatnya.

Dimana-mana, prilaku suap ini ada. Ngurus surat, suap. Apalagi jika yg ngurusin tahu surat itu berharga, kayak sertifikat rumah, dll. Dijadikan kesempatan. Ujung ke ujung. Dan jijiknya, pejabat suka bangga sekali bilang jika suap ini sudah tidak ada. Lah, dia saja masih suka terima suap. Apalagi anak buahnya. Ujung ke ujung suap. Kamu tidak lihat? Kalaupun ada yg lurus, itu teh berapa lama tahannya?

Sedih lihatnya.

Penegak hukum seperti apa yang akan dihasilkan jika seleksi masuknya saja ada yg nyuap? Lewat orang dalam. 

Dan semakin kocaknya, perhatikan, setiap pilkada, ada pejabat baru, wuih, orang2 dalamnya ikut semua jadi PNS, honorer, tim ini, tim itu, dll. Pun kasus2 suap kepala dinas, kepala sekolah. Saking kocaknya, dilegalkan sajalah, dikasih jatah itu kepala daerah yg baru terpilih, silahkan angkat tim sukses dan orang2 dalam kamu.

Sedih lihatnya.

Lihat berita ini, hanya utk masuk polisi pangkat rendah, nyuap ratusan juta. Padahal gaji polisi itu berapa sih? Tapi tetap maksa nyuap, karena 'menjanjikan'. Bayangkan situasi ini. Bagaimana kualitasnya kelak saat disuruh menegakkan hukum. Yg ada, saat jadi polisi, buronan koruptor dibantu, jualan narkoba, bantuin judi, dll dsbgnya. Belum lagi level sipir penjara. Ambyar. Masuk nyogok, di dalam terima sogok. Dari penjahat2.

Sedih lihatnya.

Tapi tidak apa. Semoga masih ada generasi berikutnya yg lebih baik. Itulah gunanya tulisan2 ini terus ditulis. Buku2. Novel2. Nyangkut satu saja kisah tsb di kepala anak2 kita, remaja2 kita, besok lusa mereka insya Allah bisa jadi anak yg benci menyuap dan disuap.

Di negeri ini, kita hanya sibuk membangun banguna fisik, gedung2, jalan2, bendungan2, tapi entahlah bangunan karakter generasi berikutnya. Nah, jika kamu benar2 mau membangun karakternya, mulailah dgn memberikan teladan. Bukan tiap hari dipertontonkan dgn tingkah tidak tahu malu, korup, khianat, ingkar janji, dkk.

Semoga masih ada harapan.

(By Tere Liye)