Pemuka Agama Yahudi Ditolak Datangi G20, PBNU Singgung soal Perdamaian

[PORTAL-ISLAM.ID] Rencana mengundang pemuka agama Yahudi Rabi Silvina Chemen ke Forum Agama G20 atau ‘Religion 20’ (R20) di Bali pada November mendatang tampaknya mendapat penolakan dari beberapa pihak. 

Belakangan beredar pamflet yang mengatasnamakan Aliansi Ulama Madura (AUMA) mengundang para tokoh agama Islam untuk menghadiri agenda ‘Halaqoh Habaib Ulama Garis Lurus guna menolak kedatangan pendeta Yahudi yang diundang PBNU’. Acara pertemuan itu dilaksanakan pada Selasa (18/10/2022).

Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta, Muzakki Kholish mengkritik pihak yang menolak kedatangan Rabi Silvina. Pasalnya, penolakan itu bisa menghalangi upaya perdamaian agama-agama dunia yang hendak diperjuangkan PBNU. Ia meminta agar AUMA terlebih dahulu membuka diri pada ruang dialog sebelum melakukan aksi penolakan.

“Penolakan secara serta merta saya kira tidak rasional dan tidak bertanggungjawab. Jangan jadi bangsa yang latah. Boleh menolak, tapi berdialog,” kata Kholish, dilansir JawaPos, Selasa (18/10/2022).

Kholish menyayangkan ulah sekelompok muslim tersebut. Sebab, tujuan PBNU mengundang tokoh-tokoh agama dari 20 negara dalam Forum R20 adalah memperkuat dialog dalam rangka mencari solusi atas konflik di negara-negara Timur Tengah.

“Karena misi agama, apapun agamanya, termasuk Yahudi, Islam, dan lainnya adalah perdamaian,” jelasnya.

Kholish mengatakan, PBNU ingin mengambil peran menciptakan perdamaian antar agama. Misi ini sesuai dengan semangat Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan (Jam’iyah Diniyah Ijtima’iyah).

Menurutnya, apa yang dilakukan PBNU sekarang sejalan dengan upaya yang dilakukan mantan presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dahulu. Saat menjabat sebagai presiden Gus Dur pernah mengusung forum World Conference Religion of Peace bersama Yohanes Paulus II di Vatikan, Roma.

“Ini (dialog perdamaian) adalah bagian dari ijtima’iyyah. Ijtima’iyyah dalam bahasa kita itu Ipoleksosbudhankam. Termasuk keamanan dunia,” ujar Kholish.

Kholish meminta para tokoh agama dalam komunitas AUMA mau membuka diri terlebih dahulu untuk berdialog menyikapi undangan PBNU tersebut. Bagi PBNU tokoh-tokoh agama apapun di dunia memiliki pengaruh terhadap kebiasaan para pemimpin negara di dunia.

Organisasi semacam PBNU dinilai mampu mendorong persepsi pemimpin negara agar memahami dinamika relasi umat beragama secara benar. PBNU bisa menawarkan konsep-konsep keagamaan yang bisa menjadi solusi perdamaian, seperti Ukhuwah Islamiyyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Basyariyah.

“Ukhuwah Wathaniyah dan Ukhuwah Basyariyah ini adalah upaya yang diharapkan bisa mengarah pada suatu perdamaian di sebuah negara, bahkan perdamaian dunia, Nabi di Madinah juga dialog dengan tokoh-tokoh agama lain untuk jaga kemananan negara,” tutup Kholish.

(Sumber: JawaPos)