Hari Terakhir Anies Baswedan di Balai Kota dan Kepulangan Koh Steven

Jumat kemarin, 14 Oktober 2022/18 Rabiulawal 1444 H, ada dua hal yang bikin saya sedih.

Hari terakhir Anies di Balaikota dan kepulangan Koh Steven Indra Wibowo.

Soal Anies, saya cuma mau kasih kesan singkat. Anies mungkin bukan gubernur yang terbaik untuk Jakarta, tapi Anies adalah gubernur yang paling 'care' (peduli) pada rakyat jelata. Jarang ada pejabat yang seperti itu sekarang. Walau seharusnya gampang aja sih, nggak perlu keluar uang pribadi, pakai aja APBD. Simpel banget kan?

Koh Steven.

Ini yang bikin makin nyesek. Dia memang nggak kenal saya, saya pun cuma kenal di sosmed.

Benar, usia hanya urutan angka. Usianya cuma 41 tahun, tapi kiprahnya sulit ditandingi oleh yang umurnya dua kali lipat. Apalagi jika dihitung sejak dia muallaf. Anggap setengah umurnya dia muslim. Dua puluh tahun. Cuma dua puluh tahun.

InsyaAllah ini yang disebut berkah umur. Nggak panjang, tapi masyaAllah, penuh berkah.

Dia tuh ngislamin orang kayak ngasong permen. Ngobrol-ngobrol di kereta, lalu orang syahadat. Sekali jebret bisa beberapa orang bersyahadat.

Gampang?

Tapi dia mempersiapkan dirinya untuk itu. Dia aktif di banyak komunitas, dia mempelajari banyak hal sebagai modal dia 'prospek'. Katanya, biar enak ngobrol. Sampai belajar jadi pilot pesawat bukan biar bisa bawa pesawat tapi biar bisa masuk ke komunitas penerbang.

Saya heran, kapan waktunya dia kerja cari uang? Perasaan tiap posting kerjanya dakwah yang nggak ngasilin materi malah ngabisin uang. Sampai ke pelosok-pelosok. Sendal putus, penuh lumpur, ibu jari kaki nggak ada kukunya.

Seperti itu, tapi sedekahnya nggak kaleng-kaleng. Sebagai ketua dan pendiri MCI (Mualaf Center Indonesia) dia sering jadi ujung tombak dan ujung tombok. Jual nyaris seluruh harta buat bantu rakyat jelata pas covid. Di hari berpulangnya, dia borong semua jualan pedagang makanan di Hijrahfest yang mendadak dibatalin di hari H. Lalu makanan-makanan itu dia bagi-bagikan semua.

Iya, saya tau, makin banyak keluar sedekah makin banyak juga rezeki masuk. Tapi ya itu tadi, kapan waktunya dia cari uang? Tapi dia punya beberapa perusahan dan sistemnya bayar seikhlasnya. Kopi coger, konsultan sipil, dan konsultan lain lagi.

Matematika Langit memang nggak bisa disamakan dengan matematika bumi.

Dia diberi keberkahan waktu dan kecerdasan. Ini yang bikin manusia biasa susah ngalahin dia. Dia seperti Midas, nyaris apa pun yang dia kerjakan, akan berhasil.

Dia benar-benar sudah menghabiskan jatah gagalnya.

Awal muallaf tapi masih jadi pelayan gereja. Lewat pintu belakang Katedral untuk sholat di Istiqlal. Pernah lupa nyelipin kalung salibnya lalu dikodein sama jamaah lain. Belajar sholat sama marbot Istiqlal.

Orangtuanya nggak setuju dia muallaf. Nggak heran. Saya ngerti ketidaksetujuan orangtuanya. Papinya pengurus aktif gereja-gereja seindonesia. Apa ya? Pokoknya bukan pendeta biasa deh.

Dia diusir, nggak kerja di gereja lagi, lalu tinggal di Banten. Kalau nggak salah di Cilegon. Kerja serabutan termasuk jadi kuli pasar, tinggal di gudang sampai kakinya sering luka digigitin tikus gudang.

Sampai pas dia lagi nguli, ada bule belanja ayam nggak nyambung-nyambung sama penjualnya. Ternyata si bule bilang potong sekian eh di pedagang disangka si bule nawar segitu. Dia yang ngerti bahasa Inggris dia yang jelasin. Lalu ada orang yang akhirnya ngeh, lha, ni kuli pinter. Dia angkat jadi stafnya, si Kokoh berhenti jadi kuli. Kehidupannya mulai berubah di situ.

Sampai akhirnya dia mulai usaha dan akhirnya orangtuanya mau terima keislamannya.

Materi lebih lapang, kiprahnya makin nggak terjangkau nalar saya. Saya cuma bisa iri.

Motto Trimurti Gontor cocok untuk dia. Bondo, bahu, pikir, lek saknyawane sisan, untuk Islam.

Dan ketika dia meninggal, saya makin paham arti berkah usia. Umur sebagai muslim sependek itu, sungguh, apa yang dia kerjakan sulit ditandingi muslim berumur panjang dikumpulkan senegara.

Kepulangannya, benar-benar kehilangan besar untuk Islam. Tapi Allah tau yang terbaik dan Allah selalu kasih yang terbaik. InsyaAllah, Allah sudah siapkan Koh-Steven-Koh-Steven yang lain untuk Islam.

Aamiin.

Dan Jumat penuh berkah kemarin yang menyimpan dua kesedihan untuk saya tercoreng hal sangat memalukan dari institusi itu itu lagi.

Ngeri... Saya ngeri ..

Saya baru tau Hijrahfest di Surabaya dibatalkan padahal setau saya sudah hari H. Koh Steven borong semua jualan makanan lalu dia bagikan.

Saya malah lebih dulu tau berita Kapolda Jatim berumur dua hari jadi bandar narkoba.

Apa alasannya ngelarang Hijrahfest? Kalian punya kuasa, kenapa kekuasaan itu nggak dimanfaatkan untuk kebaikan? Anies punya kuasa, dia izinkan Monas untuk reuni 212. Dia bikin JIS untuk sholat ied dan paskah. Dia tutup Hollywings. Dia stop reklamasi. Dia bangun kembali Kampung Akuarium, dia bayar ganti rugi warga tergusur Bukit Duri. Dll. Cuma bermodal kekuasaan yang diamanatkan rakyat Jakarta ke dia. Lima tahun menjabat, puluhan penghargaan terkoleksi untuk Jakarta plus lima tahun berturut-turut WTP dari BPK.

Bisa.

Apa salah Hijrahfest sampai dibatalkan di hari H?

Kemarin Hollywings ditutup mereka ribut. Kasihan pekerjanya. Loh, Hijrahfest, juga sama. Berapa banyak pedagang rugi? Kalau Koh Steven nggak borong jualan makanan, gimana modal pedagang makanan? Kok kalau sama maksiat toleran amat ya?

Ngelarang Hijrahfest dibayar kontan di hari yang sama. Aib institusi terbuka lagi.

Ya Allah... Ngeri saya melihat berita-berita ini.

Belum selesai jendral pembunuh, lalu Kanjuruhan yang sampai bikin polisi sepolsek sujud minta ampun dan minta maaf, lalu adalagi kapolda jadi bandar narkoba. Kapolda loh. Salah satu penguasa militer provinsi. 

Jawa Timur. Salah satu provinsi terpadat. Apa jadinya kalau nggak ketauan? Puluhan juta orang di bawah kekuasaannya. Berapa banyak pengedar santai kerja ngedarin narkoba karena back up dari kapolda.

Ya Allah...

Gimana nggak rusak anak bangsa. Kita benar-benar harus berduka.

Boleh dong yang punya koleksi foto atau link oknum polisi share di sini. Oknum loh ya.
Bebas aja mau kasus apa. Bisa kasus curanmor, pembunuhan, narkoba, korupsi, penadah, dlsb deh.

Biar kita sama-sama lihat kasus-kasus polisi berkasus.

Tapi sungguh, saya ngeri banget. Apa benar ini makar Allah? Setelah beberapa tahun ini kita ngelus dada, ngebatin sampai sesak napas lihat ulah mereka ke ulama dan ummat Islam, apa begini cara Allah ngebuka aibnya? Ini ngebuka aib aja apa sudah hukuman? Jangan-jangan malah azab.

Saya yakin, mereka sudah gila-gilaan nutupin jejak menghapus berkas bahkan mungkin sampai bakar-bakaran, dan bunuh membunuh. Tapi kok ya ndilalah adaaa aja jalan aib terbuka.

Kapolri, anak buahnya banyak cacatnya gini, nggak mundur aja, Pak? Malu, Pak. Saya ngeri loh, Pak. Nanti Bapak kena kasus apa?

Astagfirullah...

Seandainya kalian orang beragama, ini saat yang tepat untuk bertaubat. Sudah terlalu banyak aib kalian terumbar sempurna.

Tanyakan pada diri masing-masing, adakah doa orang terdzalimi yang diijabah? Jika iya, maka minta maaflah pada orang-orang yang sudah kalian dzalimi. Orang-orang yang sampai mati karena fitnah kalian.

Taubatlah. Sebelum yang lebih parah terjadi. Juga untuk semua pemegang kekuasaan yang menyalahgunakan kekuasaan itu. Termasuk soal ijazah palsu. Setau saya syarat jadi presiden nggak harus jadi sarjana, lalu untuk apa maksa punya ijazah sarjana?

Sungguh, Allahlah pembuat makar yang Maha Sempurna.

Belajarlah dari kehidupan Koh Steven dan ambil hikmah kepemimpinan Anies dan kebusukan-kebusukan pejabat-pejabat yang pegang kekuasaan itu.

Ending Koh Steven sudah jelas. Tugasnya di dunia selesai. Seperti pinta di doa-doanya,

"Jika aku sudah tidak berguna lagi untuk Islam, matikan aku hari ini juga karena sisa umurku hanya menjadi dosa."

Tapi ending Teddy (Kapolda Jatim) dan Anies belum jelas. Teddy terancam penjara puluhan tahun malah mungkin hukum mati. Tapi penjara bukan berarti neraka. Yang terpenjara bukan berarti bersalah dan berdosa. Apalagi di zaman gila ini, banyak orang tidak bersalah dipenjara. Dia bisa bertaubat, berubah, lalu mati husnul khatimah.

Anies pun baru mantan gubernur. Belum mantan manusia. Masih ada waktu untuk berubah, berharap berubah menjadi lebih baik, tapi bisa sebaliknya. Berdoalah terus untuk kebaikan kita. Semoga dia istiqomah. InsyaAllah, Allah ridha Indonesia punya pemimpin yang adil dan amanah. Aamiin.

Dunia hanya persinggahan, kampung akhirat adalah tujuan. Dunia penuh senda gurau, fatamorgana, kekacauan, dan ketidakadilan. Semua sangat mudah terjungkal dan terbalik. Semudah Allah membalik bumi Sodom, Pompeii, dan Lagetan.

Sungguh, umur manusia sangat pendek dan kehidupan di dunia sangat melenakan. 

(Sandra Setiawan)

*fb