Baliho Babi Guling di Bali Ditertibkan Jelang G20, Atas Perintah Menko Luhut, Tapi Tetap Umat Islam Yang Disalahkan Kodran Kadrun, Emang Pada Sakit Jiwa!

[PORTAL-ISLAM.ID]  Gubernur Bali bukan orang Islam, yang melakukan pencopotan dan penertiban Baliho babi guling adalah Pemprov Bali, atas perintah kesepakatan nasional dengan Menko Luhut Binsar Panjaitan (juga bukan orang Islam). Tapi buzzer-buzzer Islamophobia tetap menyalahkan Umat Islam, menghina Islam, mengkodran kadrunkan. Emang bener-bener sakit jiwa!!

Viral Spanduk Babi Guling Ditertibkan Jelang G20, Begini Kata Satpol PP

Sebuah foto penertiban spanduk promosi kuliner babi guling yang ditertibkan aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Bali viral di media sosial (medsos). Penertiban itu dilakukan jelang Konferensi Tingkat Tinggi The Groups of Twenty (KTT G20).

Kepala Satpol PP Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Rai Dharmadi memberikan penjelasan terkait penertiban tersebut. Penertiban spanduk hingga baliho dilakukan jelang KTT G20 berdasarkan hasil keputusan rapat di tingkat nasional. Terkhusus baliho promosi kuliner babi guling yang viral, itu diletakkan di sekitar lokasi agar diambil pemiliknya.

"Termasuk babi guling itu pun kami taruh di belakangnya, kami sandarkan di temboknya, biar diambil yang punya," kata Dewa Dharmadi saat dihubungi detikBali, Sabtu (29/10/2022).

Dewa Dharmadi menjelaskan, adapun baliho, spanduk, banner, pamflet, leaflet yang ditertibkan yakni dalam materi tidak pada tempatnya, tidak sesuai peruntukannya, tidak sesuai zonanya serta tidak sesuai dengan ketentuan estetika. Spanduk berbau politik pun turut ditertibkan.

"Jadi tidak pernah memilih-milih, semua kami bongkar termasuk punyanya institusi lain dibongkar, ada 'Kepakkan Sayap Kebhinekaan' juga kami bongkar," jelasnya.

Penertiban spanduk hingga baliho dilakukan karena sudah menjadi kesepakatan rapat panitia di tingkat nasional dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan. Dalam rapat itu disepakati tidak boleh ada banner, baliho, spanduk, umbul-umbul selain yang ditetapkan oleh panitia.

"Tidak boleh ada sponsorship di sana. Artinya itu sudah sesuai dengan kesepakatan. Itu yang kami bersihkan juga," terangnya.

Dewa Dharmadi mengungkapkan, kini sudah ada perbedaan setelah dilakukan penertiban baliho hingga spanduk di jalur-jalur yang dilalui para delegasi KTT G20. Ia menegaskan hal itu dilakukan untuk kepentingan besar dan tidak perlu adanya satu-dua masalah yang dibesar-besarkan.

"Coba kalau itu enggak dibersihkan, bayangkan apa yang terjadi. Lihat sebelumnya dan sekarang, buktikan, ada perbedaan kah, nyaman kah mata itu memandang. Itu kepentingan besar yang diutamakan, bukan satu dua masalah yang ditertibkan dibesar-besarkan. Itu juga nggak pas, nggak seimbang," tegasnya.

"Padahal faktanya, kami menertibkan di sepanjang jalan itu tidak memandang siapa yang punya, apa urusannya, apa kepentingannya, apa itu iklan, apa itu pribadi sifatnya, apa itu promosi, apa itu politik, kami tertibkan semua," imbuh Dewa Dharmadi.

Di sisi lain, Dewa Dharmadi menilai seharusnya Bali patut berbangga bahwa di tengah membaiknya situasi pandemi ada KTT G20 dan Bali dipilih sebagai tuan rumah. Menurutnya, hal itu perlu diberikan apresiasi.

Karena itu, Dewa Dharmadi mengajak masyarakat menunjukkan bahwa Bali siap menjadi tuan rumah. Salah satunya bisa ditunjukkan dengan melakukan pembersihan baliho hingga spanduk yang dinilai mengotori jalanan. Ia berharap masyarakat juga ikut turun tangan mengatasi hal tersebut.

"Tidak saja kepada aparat yang menertibkan, yang melakukan pembersihan, mestinya semua komponen masyarakat maupun individu juga patut juga membantu proses pembersihan, menyajikan suasana yang lebih baik," ungkapnya.

Baginya, setelah dua tahun Bali terpuruk akibat pandemi, mulai sekarang dan ke depan masyarakat harus mampu menyajikan bahwa Pulau Dewata bagian dari destinasi dunia yang terbaik.

"Itu yang terpenting. Tidak ada kepentingan lain-lain urusan politik, pribadi, nggak ada. Kami bekerja sesuai dengan apa yang sudah menjadi kesepakatan dan keputusan rapat dengan panitia pusat, penyelenggara, jadi tidak didasari oleh kepentingan-kepentingan pribadi," kata dia.

Dewa Dharmadi juga mengaku bahwa pihak Satpol PP Bali bekerja tidak mengenal waktu, baik pagi, siang, dan malam. Bahkan dalam kondisi hujan pun pihaknya tetap melakukan patroli guna menyisir adanya pemasangan spanduk yang tidak sesuai ketentuan.

"Ya kan namanya pemasangan spanduk, baliho itu kan insidentil kadang-kadang. Hari ini kami bongkar, besok ada lagi dipasang di tempat yang sama. Itu yang kami bongkar lagi. Jadi mau cari siapa pemiliknya habis waktu kami , ya kalau dihubungi bisa langsung komunikasi, kalau tidak? Tapi kami tidak robek, kami lipat taruh di belakangnya, harapannya diambil oleh yang bersangkutan nanti," tuturnya.

(Sumber: Detik)