Banyak Bandara RI Sepi Bak 'Kuburan', Jokowi Masih Mau Tambah Lagi?

[PORTAL-ISLAM.ID]  Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus menambah jumlah bandara. Padahal, cukup banyak lho bandara yang mati suri kini.

Setidaknya, ada 19 bandara baru rampung dan diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelum 2024. "10 di antaranya bandara baru," kata Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Nur Isnin Istiartono saat rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR.

Baca juga: Kacau! Wanita Ini Tipu Ratusan Orang Pakai Tiket Pesawat Palsu
10 bandara baru yang diresmikan sebelum 2024 adalah:
- Bandar Siau
- Bandara Tambelan
- Bandara Nabire Baru
- Bandara Baru Siboru
- Bandara Baru Mentawai
- Bandara Baru Mandailing Nata
- Bandara Baru Pohuwato
- Bandara Baru Bolaang Mongondow
- Bandara Baru Banggai Laut
- Bandara Baru Singkawang.

Pemerintah memang menjadikan proyek-proyek infrastruktur sebagai salah satu prioritas pembangunan. Selain membangun tol, juga merevitalisasi bandara yang sudah ada dan membangun yang baru.

Ironisnya, saat ini ada sejumlah bandara di Indonesia yang mati suri.

Bandara yang mati suri saat ini tersebut adalah:
1. JB Soedirman, Purbalingga
Melihat situs pembelian tiket pesawat, Bandara JB Soedirman saat ini terpantau tidak memiliki jadwal penerbangan lagi. Sebelumnya bandara ini digunakan maskapai Citilink dengan tujuan Jakarta-Purbalingga dan sebaliknya, namun belum lagi terlihat ada jadwal penerbangan ini pada platform penjualan tiket pesawat.

2. Bandara Ngloram, Blora
Bandara ini diresmikan oleh Jokowi pada Desember lalu, namun terpantau saat ini tidak ada jadwal penerbangan yang menerbangi rute ke Bandara yang berada di Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.

3. Wiriadinata, Tasikmalaya
Bandara yang diresmikan pada Februari 2019 lalu juga terpantau belum memiliki jadwal penerbangan, yang dijual pada platform pembelian tiket pesawat.

4. Bandara Kertajati, Majalengka
Sampai saat ini Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati belum menerima penerbangan komersial sejak April 2020 lalu, karena pandemi. Namun direncanakan pada November mendatang sudah mulai menerima penerbangan haji.

Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan bandara tersebut memang merupakan rute sepi.

"Ya karena memang itu bandara-bandara rute sepi sebelumnya. Apalagi, saat pandemi," kata Bayu.

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia memang telah membatasi gerak dan aktivitas sosial-ekonomi. Bukti paling nyata adalah anjloknya tingkat lalu lintas manusia, termasuk di bandara.

Hanya saja, pembangunan bandara tersebut juga dinilai tanpa perhitungan. Akibatnya, potensi penumpang yang minim hingga mahalnya harga avtur, ditambah pandemi Covid-19 menjadikan bandara-bandara tersebut sepi. Bahkan, saat sekarang, saat tak ada lagi pembatasan, bandara-bandara tersebut justru sepi.

"Itu memang bandara-bandara kecil. Kaya yang di Purbalingga, Ngloram, Tasikmalaya juga dulu ada Garuda-Citilink terbang tapi sekarang nggak jelas, yang di Cirebon juga dipakai sekolah penerbangan Lion Air. Di Bandara Kuabang itu juga nganggur," kata pemerhati Penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center (AIAC) Arista Atmadjati.

Ditambah, lanjutnya, dengan kondisi saat ini saat harga avtur tinggi membuat tiket pesawat juga menjadi lebih mahal. Sementara daya beli masyarakat kawasan belum pulih imbas pandemi membuat enggan menggunakan moda transportasi pesawat.

Sehingga, pilihan jatuh kepada moda transportasi lainnya seperti bus, kereta api, hingga mobil pribadi.

"Khususnya untuk pulau Jawa kereta bagus, jalan tol bagus, jadi masyarakat enggan (pakai pesawat)," katanya.

Wakil Ketua Komisi V DPR Roberth Rouw pun meminta pemerintah melakukan perencanaan matang sebelum membangun bandara.

Sebab, kata Roberth, bandara yang dibangun tapi kemudian sepi akan jadi beban karena setiap tahun harus ada biaya pemeliharaan.

"PNBP-nya ngga ada sama sekali. Kenapa nggak berikan itu (anggaran) untuk bandara-bandara perintis yang memang masih diperlukan masyarakat," kata Roberth saat memimpin rapat dengar pendapat bersama Eselon I Kemenhub, Kamis (1/9/2022).

"Agar setiap pembangunan jangan cuma merencanakan saja, tapi perlu diperhitungkan manfaatnya seperti apa," kata dia.[detik]