SLOGAN KEMBALI KEPADA QURAN DAN SUNAH (Kalimat benar, tapi dikehendaki kebatilan. Sebuah koreksi)

SLOGAN KEMBALI KEPADA QURAN DAN SUNAH
(Kalimat benar, tapi dikehendaki kebatilan. Sebuah koreksi)

Oleh: Ustadz Abdullah Al-Jirani

Syekh Muhammad ‘Ulaisy Al-Maliki (w. 1299 H) rahimahullah berkata:

“Menyuruh orang awam untuk mengikuti Quran dan Sunah, merupakan kalimat benar tapi dikehendaki dengannya kebatilan. Karena, sesungguhnya yang dikehendaki adalah meninggalkan berbagai mazhab yang diikuti (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) dan mengambil berbagai hukum langsung dari Quran dan Sunah tanpa perantara. Ini murni sebuah kesesatan dan perintah kepadanya menjadi bukti yang nyata akan kebodohan.

Sebab, telah dimaklumi bagi setiap orang, sesungguhnya dalil-dalil yang ada, diantaranya ada yang mansukh (telah dihapus hukumnya), ada yang tertolak karena ada cacat dalam periwayatannya, ada yang yang bertentangan dengan dalil yang lebih kuat sehingga ditinggalkan, ada yang mutlak di suatu tempat tapi telah dibatasi di tempat yang lain, ada yang dipalingkan dari makna dzahirnya (tekstualnya) karena adanya perkara yang menuntut hal itu, ada lagi yang demikian dan demikian....seterusnya.

Tidak ada yang bisa memastikan hal itu semua, kecuali para imam yang telah mencapai derajat ahli ijtihad. Dan dari mazhab para ulama ahli ijtihad yang paling agung dan telah ditahrir (diteliti, diperiksa dan disiapkan) adalah mazhab imam yang empat yang telah diikuti (oleh umat Islam dan ulamanya dari masa ke masa; Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) karena banyaknya ulama ahli tahqiq (peneliti) di dalamnya bersamaan dengan keluasan pengetahuan dan kemampuan yang ada pada mereka.

Maka, keluar dari bertaqlid kepada mereka, merupakan kesesatan. Dan perintah untuk keluar dari taqlid kepada mereka, merupakan kebodohan dan kemaksiatan.” 

(Fathu Al-‘Aliyyi Al-Malik juz I, hlm. 109, pustaka Dar Al-Ma’rifat tanpa tahun)

Semoga bermanfaat.