Sudut Pandang Lain dari Kasus ACT

POV Lain dari Case ACT

Oleh: Ridwan Abadi

Bismillah, saya coba melihat Poin of View (Sudut pandang) lain dari case salah satu lembaga Pengelola Ziswaf yang sedang rame di perbincangkan.

Dalam hal ini sebagai seorang coach dan terjun ke dunia dakwah juga saya mencoba melihat secara helikopter view.

1. Kita tidak bisa menghakimi sebelum melihat data dan bukti secara menyeluruh. 

Info dari berbagai pihak yang terlibat, menganalisa motif dll. Maka menurut saya kita tidak bisa langsung menghakimi bahwa seluruh ACT salah. Dan baru bisa menarik kesimpulan setelah melihat, meneliti, membandingkan data dan menganalisa secara mendalam.

Dan bisa dimulai dengan pertanyaan:
- Siapa yang paling di untungkan dengan viralnya berita ini?
- Siapa yang paling di untungkan jika ACT di tutup?
- Siapa yang paling di untungkan jika Citra Lembaga Pengelola Ziswaf tercoreng nama nya?

2. Dari tulisan Tempo dan beberapa sumber yang saya dapat. Hipotesanya memang ada oknum yang “bermasalah” di dalam tubuh organisasi ACT tapi bukan berarti seluruh orang. 

Dan saya pun mengutuk jika benar ada oknum yang menggunakan/memakan dana ziswaf untuk kepentingan pribadi.

Saya sedikit sedih ketika ada kesalahan oleh oknun tapi akhirnya seolah seluruh organisasi/lembaga jadi salah. Ibarat ada tikus di lumbung padi, maka baiknya fokus untuk mengusir tikus, bukan membakar seluruh lumbung.

3. Info tentang oknum di ACT bermasalah sudah saya dengar sejak Januari, tapi baru di ledakan sekarang, berdekatan dengan isu penistaan agama oleh Holywings, Penggunaan aplikasi untuk beli bensin dan minyak goreng, serta berantakannya penanganan haji tahun ini. 

Mungkinkan ini pengalihan isu? Sehingga fokus ummat teralihkan menyerang institusi yang melambangkan ibadah yang sering disandingkan dengan Solat di Al Quran yaitu zakat, infaq dan sedekah.

4. Mengenai Gaji yang besar dan Fasilitas.

Dalam hal ini izinkan saya melihat dari sudut pandang saya sebagai coach.

Dalam dunia Korporasi yang saya geluti, saya sering mengunakan standar penentuan nilai atau istilahnya Rasio. Jadi 1 juta bisa besar juga bisa kecil, dan 250 juta bisa besar dan bisa kecil. 

Rasionya dibandingkan dengan Apa?

Jika sebuah perusahaan Pendapatannya 2 juta dan mengeluarkan gaji 1 juta maka rasionya sama dengan 50%, sementara jika perusahaan dengan pendapatan 250 M dan mengeluarkan gaji 250 juta rasionya 0,1 %. Jadi angka Nominal harus dilihat juga dari sudut pandang Rasio.

Lalu mungkin ada yang tanya, tapi coach itu kan lembaga Amal, lembaga ziswaf bukan bisnis.

Betul, justru dalam lembaga amal atau pengelolaan ziswaf dalam Islam itu sudah ada aturannya. Berapa yang disalurkan dan kemana saja peruntukannya. Dan berapa yang menjadi hak amil (atau yang menghimpun dan menyalurkan) dan ini nominalnya mengunakan presentase. Sebut saja untuk zakat misalnya, secara umum pendapat mengatakan hak amil 12,5%. Untuk infaq dan sedekah bisa berbeda nilai.

Jadi jangan sampai kita hanya menilai dari nominal tapi tidak melihat rasionnya. Dan jangan sampai statement penghakiman kita didasari dari rasa iri dan dengki. Kalau lembaga lain dirasa nilainya kecil bisa jadi karena penerimaan yang dapatkan juga kecil sehingga rasio hak amilnya kecil. Dan yang besar karena rasio dari penerimaannya besar. Dan di korporasi yang nilai penerimaan samapai 1/2 T di luarsana banyak yang sudah memberikan gaji ke level tertentu dengan nilai ratusan juta.

Ini juga bisa menjadi pelajaran bagi lembaga pengelolaan ziswaf untuk lebih meratakan penerimaan dalam lembaga banyak lembaga.

5. Fasilitas Mewah

Mewah sebenarnya adalah sebuah persepsi, bagi sebagian orang naik Vespa sudah merupakan kendaraan mewah, tapi sebagian yang lain Alphard menjadi sangat biasa.

Dalam konteks strategi sah-sah saja menurut saya untuk ukuran instansi dengan skala yang besar dan global memiliki kendaraan dinas, oprasional yang tergolong mewah. Karena bisa jadi mitra, rekanan, donatur dll membutuhkan pendekatan tertentu. Ya kadang ada istilah dealing lapangan golf.

Karena ada di Agama Lain yang kendaraan operasional dakwahnya Pesawat Pribadi, helikopter untuk masuk ke pegunungan dan pedalaman dan Dana Oprasional sampai Ratusan Milyar. 

Kembali lagi ini kalau ditinjau dalam ranah strategi sah-sah saja menurut saya. Akan menjadi aneh bagi yang tidak memahami strateginya. 

Tapi kembali lagi ini selama bukan untuk kepentingan pribadi.

Untuk Part 1 ini sekian dulu, next kita lanjut lagi.

Pada prinsipnya saya tidak membela ACT. Tapi saya memberikan sudut pandang lain mengenai Issu yang sedang terjadi. Dan yang saya bela adalah simbol Islamnya. Pengelolaan dan pemakmuran ziswafnya. 

Jangan sampai karena beberapa tikus, kita bakar lumbungnya.

Jangan sampai karena Beberapa Oknum, kita jadi alergi dengan Lembaga Ziswaf Profesional atau bahkan jadi males menyalurkan Ziswaf karena terdoktrin seperti ada “gayus” dalam pajak sehingga males bayar pajak.

Wallahualam Bissawab

(fb penulis)