"Ah, lu masih suka maksiat, sok-sokan ngemeng Syariat!"

"Ah, lu masih suka maksiat, sok-sokan ngemeng Syariat!"

Justifikasi inilah yang membuat seorang muslim enggan bersuara ketika ajaran agamanya dilecehkan. 

"Ah, gue masih bergelimang dosa, biarlah yang membela Islam orang-orang alim yang sudah berhijab atau bercelana cingkrang saja."

Dulu gue sempat berpikiran seperti itu. Tapi setelah dipikir ulang, masak gue cuma diam kala melihat syariat diacak-acak? Apa membela kehormatan Islam mesti menunggu pake celana cingkrang dulu? Keburu mati bray! 

Tiap muslim diberkahi skill dan keterampilan tertentu. Ada tanggung jawab untuk ikut membela kehormatan Islam kala syariat dilecehkan. Gue sendiri cuma pendosa, makhluk hina yang kebetulan punya hobi membaca dan menulis untuk sekedar mengisi waktu luang. Ibadah juga masih morat-marit.

Namun tatkala sekelompok orang melecehkan syariat, memutarbalikkan sirah nabawiyah, masak gue cuma mendesah? 

Tiap manusia akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Yang ditanya tak cuma perkara sholat, namun sekujur tubuh akan bicara memberi kesaksian. Alat kelamin, lidah, telinga, mata, tangan dan kaki dengan sendirinya menyampaikan testimoni. 

Ada saatnya nanti jari ini akan ditanya, "lu dipake buat apa aja selama didunia? Apakah cuma digunakan untuk berbuat maksiat dan menyentuh barang haram?"

Berangkat dari pemikiran itu, gue gak peduli lagi saat dikata-katai munafik, sok alim, sok islami. Wong selama ini gak pernah mengklaim diri soleh. Cuma ikut serta dan meluangkan waktu untuk membela kehormatan Islam semampunya. Belum bisa sedekah harta benda, hanya sumbang pemikiran untuk melawan penyesatan. Entah berguna atau tidak, hanya Allah SWT yang berhak menghakiminya. 

(Ruby Kay)