Capres Anti-Jilbab Marine Le Pen Keok di Pilpres Prancis 2022

[PORTAL-ISLAM.ID] Politisi asal Prancis, Marion Anne Perrine Le Pen (Marine Le Pen) kalah telak dari capres petahana, Emmanuel Macron di pilpres Prancis 2022 yang digelar hari Minggu, 24 April 2022.

Presiden Macron telah mendapat suara di atas 58,2 persen, sementara suara bagi Le Pen mentok di 41,8 persen.

Marine Le Pen berasal dari partai Rassemblement national (RN) yang memiliki aliran politik sayap kanan. Partainya terkenal sangat anti-imigran, anti-Uni Eropa, serta anti-hijab.

Aturan larangan hijab di tempat umum juga menjadi salah satu andalan Marine Le Pen pada kampanye pilpres Prancis 2022. Hal itu pun ia ungkap dalam debat dengan Presiden Macron.

Marine Le Pen berkata dirinya tidak melawan Islam, ia berkata melawan prinsip yang mengurangi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

"Saya pikir kita butuh sebuah hukum melawan ideologi Islamis. Saya tidak bertempur melawan sebuah agama, saya tidak melawan Islam yang merupakan agama yang memiliki tempat (di Prancis)," ucap Le Pen.

"Saya bertempur melawan ideologi Islamis yang merupakan cara berpikir yang melemahkan fondasi-fondasi republik kita, yang melemahkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, melemahkan sekularisme, melemahkan demokrasi," lanjutnya.

Sebetulnya, baik Emmanuel Macron maupun Marine Le Pen sama-sama Islamophobia, tapi kadarnya yang berbeda.

"Emmanuel Macron, sang Islamofobia, mengalahkan Marine Le Pen, sang Islamofobia yang lebih besar," ungkap Abed A. Ayoub @aayoub.

Macron tidak akan melarang pakaian keagamaan, tetapi dia telah mengawasi penutupan banyak masjid, sekolah, dan kelompok Islam, dengan bantuan dari tim khusus untuk membasmi dugaan tempat berkembang biaknya radikalisme.

Pemerintah Macron juga meloloskan undang-undang kontroversial tahun lalu untuk memerangi “separatisme,” kata yang digunakan untuk menggambarkan pencampuran politik dengan Islam, yang dianggap berbahaya bagi nilai sekularisme Prancis yang berharga.

Marwan Muhammad, mantan direktur kelompok yang berkampanye melawan Islamofobia – yang telah dilarang oleh pemerintah – mengatakan Macron dan Le Pen telah mengubah Islam di Prancis menjadi sepak bola elektoral, keduanya mencari dukungan di antara audiens mereka masing-masing.

Posisi Le Pen yang lebih radikal adalah “berkah bagi Macron,” katanya.