Rasionalitas Dukungan

Rasionalitas Dukungan

Oleh: Ustadz Abrar Rifai

Saya sengaja memakai celana jeans dan bertopi. Tapi sudah saya padu dengan kemeja, demi untuk memantaskan diri pada acara tersebut. Padahal tadinya saya malah mau pakai kaos saja.

Tapi saat registrasi, seorang panitia mendekati saya, “Pak, tolong topinya dilepas. Gak sopan!”

“Owh, baik, Pak!” saya segera berlalu. Awalnya niat balik kamar mau ganti kostum khas ustadz sebagaimana keseharian saya di pesantren: bersarung atau bergamis. Tentu juga disertai kopyah.

Saya punya banyak kopyah segala jenis model dan warna. Pun, tak terbilang sarung yang saya punya. Gamis pun ada banyak. Begitu juga dengan baju koko, banyaaaak! Sebab memang itulah pakaian saya sehari-hari.

Tapi saya urungkan. Justru saya bergegas ke kamar untuk berkemas. Saya cek out. Menuju mobil dan ngegas menuju Ampel. Saya ceritakan pada Mbah Ampel apa yang baru saja saya alami.

Acara berjudul: Ijitima Ulama dan Pemuda Islam Untuk Deklarasi bla, bla, bla... 2024. Tapi dari sekian banyak orang yang saya temui, hanya ada dua yang saya kenal. Seorang kawan yang dosen UIN dan seorangnya lagi tentu yang ngundang saya.

Selebihnya, semua orang yang hadir adalah orang-orang asing bagi saya. Tak pernah saya temui, bahkan pada acara-acara serupa sebelumnya. Tak ada kiai yang saya kenal, tak ada ustadz yang saya tahu. Saya membatin, “Ini orang-orang dari mana?”

Pada saat sarapan, saya sempat ngobrol dengan beberapa orang. Ada yang dari Jakarta, Madura dan Malang pun ada.

Acara rapi banget. Di hotel berbintang, dengan fasilitas setiap peserta mendapatkan satu kamar. Masing-masing peserta sudah terdata dengan nama sesuai KTP dan nomer kursi.

Selepas dari pesarehan Mbah Ampel, saya menuju Resto Al Izzah untuk makan siang. Nah, saat sudah di Al Izzah, panitia menelpon saya, ”Kenapa kok tiba-tiba pulang?”

Saya jelaskan, bahwa saya tidak bisa beradaptasi. Silakan dilanjut, saya wait and see aja dulu. Sampai sejauh ini saya belum berpikir mau mendukung Bacapres yang mana. Sebab Pilpres masih lamaaa!

Lagian terus terang, untuk Bacapres yang akan dideklarasikan pada acara yang saya tinggalkan tersebut, sebenarnya adalah Capres yang sudah saya blacklist. Kenapa?

Ini orang pada 2019 yang lalu saya dukung habis-habisan. Di Malang Raya, saya yang jadi PIC semua kegiatan dia. Mata tak tidur berhari-hari, meninggalkan rumah berminggu-minggu dan berbelas juta uang pribadi saya keluarkan. Bahkan seorang kawan saya, beratus juta, hingga milyaran uang yang dipakai untuk kesuksesan dia.

Eh, ketika ternyata kalah, malah gabung dengan orang yang tidak kita inginkan jadi presiden. Tak ada malu. Tak ada etika!

Yes, dalam setiap kontestasi tentu ada pemenang dan juga ada yang harus kalah. Dengan segala cara dan ceritanya. Kontestasi selesai, saatnya saling legowo dan menerima. Kita terima Pemerintahan ini, dengan segala hal yang meliputinya.

Tapi bukan berarti kontestan yang kalah, harus bergabung dengan yang menang!

Yes, dalam konteks politik memang urat malu sudah dipotong. Tak ada kawan yang abadi, pun tak ada musuh abadi. Karena semuanya sangat pragmatis.

Tapi bagi orang-orang yang menyandang predikat Ulama, yang bukan politisi, tentu dukungan mereka semata untuk kepentingan ummat. Lain tidak!

Maka, ketika kepentingan tersebut kemudian dicampakkan begitu saja oleh kontestan yang didukungnya, tak ada alasan apapun untuk mendukungnya kembali.

Kalau ada bagian dari Ulama yang masih (mau) mendukungnya, jelas mereka telah bermetamorfosa menjadi politisi. Atau mempunyai kepentingan lain di luar kepemimpinan ummat.

“Lho Pak, ini uang transport-nya kok gak diambil?” kata pantia yang menelpon saya.

Saya bilang, silakan diatur saja. Mohon maaf, kalau sekedar transport, saya masih bisa beli solar. Mobil saya pun masih gagah untuk bepergian jauh. Sombong? Iyah! 😃

Jujur, andai uang transport pada acara tersebut saya ambil, tentu nilainya akan jauh dari uang yang telah saya berikan pada kontestasi Pilpres 2019 yang lalu.

Lantas kenapa saya mau hadir? Sebab kawan yang menelpon bilang, ini penjajagan saja. Saya berharap saat hadir, kita bisa bicara bersama. Sekaligus kalau mungkin saya bisa mendapatkan penjelasan yang rasional, kenapa doi gabung dengan rezim ini. Alasan apa pula, sehingga kami akan mendukungnya lagi.

Kita diskusi bersama, dengan sudut pandang masing-masing dan argumentasi rasional untuk kemudian mengkerucut pada satu dukungan bersama. Bukan ujug-ujug berkumpul kemudian diajak deklarasi!

Tapi jangankan bisa berdiskusi, lha baru melihat penampilan saya yang berbeda dengan peserta yang lain saja, sudah tak berkenan. Emang salahnya topi apa, kok dianggap tidak sopan? 😃

Saat enak-enak menyantap nasi maqlubah di Resto Al Izzah Ampel, tetiba satu di antara dua orang yang saya kenal yang menjadi peserta acara tersebut muncul.

Saya bilang padanya, bahwa saya asing dengan para peserta. Tak ada kiai atau ustadz yang saya kenal. Padahal saya kenal nyaris semua kiai dan ustadz yang biasa hadir di acara serupa.

“Lagian itu kan ijtima' ulama, lha saya bukan ulama!” ujar saya padanya.

“Lho, kan ulama dan pemuda Islam?”

“Nah, saya ini Islam. Tapi sudah gak muda lagi!”

“Halah, Sampean iku iso ae!” 😃

Iapun mengajak saya pindah ke smoking area. ”Gak wes, saya di sini aja. Mau menikmati AC.” 

(fb)