Aceh Bukan Kaleng-kaleng, Pantas Saja Dijuluki Daerah Modal Bagi Indonesia... 149 Tahun Maklumat Perang Kerajaan Belanda

Aceh Bukan Kaleng-kaleng. Pantas saja dijuluki daerah modal bagi Indonesia.

Memperingati 149 tahun Maklumat Perang Kerajaan Belanda kepada Kesultanan Atjeh. 26 Maret 1873 - 26 Maret 2022.

Aceh daerah yang tidak pernah dapat ditaklukkan.

Dan Maklumat Perang tersebut sampai saat ini tidak pernah dicabut oleh Belanda. 

Maklumat Perang Kerajaan Belanda vs Kesultanan Atjeh

Pemerintah Belanda menyatakan perang dengan Kerajaan Aceh pada Rabu, 26 Maret 1873 bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah. Maklumat itu dibacakan dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen yang berlabuh di antara Pulau Sabang dan daratan Aceh.

Pernyataan itu diumumkan oleh Komisaris Pemerintah merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, F. N. Nieuwenhuijzen. Sebulan kemudian Senin, 6 April 1973, Belanda mendaratkan pasukannya di Pante Ceureumen, Ulee Lheue di bawah pimpinan, Mayor Jenderal JHR Kohler. 

Pada penyerangan pertama ke Aceh itu, Belanda mengerahkan enam kapal perang, yakni Djambi, Citadel van Antwerpen, Marnix, Coehoorm, Soerabaya, dan kapal perang Sumatera. Ditambah Siak dan Bronbeek, dua kapal angkatan laut Pemerintah Belanda.

Selain itu ada lima barkas, delapan kapal ronda, satu kapal komando, enam kapal pengangkut, serta lima kapal layar, yang masing-masing ditarik oleh kapal pengangkut. Tiga di antaranya untuk mengangkut pasukan artileri, kavelari, dan para pekerja, satu untuk amunisi dan perlengkapan perang, serta satu kapal lagi untuk mengangkut orang-orang sakit.

Armada Belanda tersebut dipimpin oleh Kapten Laut J F Koopman dengan kekuatan 168 orang perwira yang terdiri dari 140 orang Eropa, serta 28 orang Bumiputera, 3.198 pasukan yang 1.098 di antaranya orang-orang Eropa. Sisanya 2.100 orang tentara dari Bumi Putera, yakni tentara bayaran Belanda dari Jawa.

Pasukan itu juga diperkuat dengan 31 ekor kuda perwira, 149 kuda pasukan, 1.000 orang pekerja dengan 50 orang mandor, 220 wanita dari Jawa yang masing-masing ditempatkan 8 orang untuk satu kompi tentara Belanda, serta 300 pria dari Jawa untuk pelayan para perwira Belanda. Dalam penyerangan perdana Belanda ke Aceh itu, Kohler dibantu oleh Kolonel E.C van Daalen, Wakil Panglima merangkap Komandan Infanteri.

Begitu mendarat, pasukan Belanda langsung digempur oleh pasukan Aceh yang dipimpin Tuanku Hasyim Banta Muda

Perang sengit pun terjadi. Setelah bertempur dengan susah payah, pada 10 April 1873, Belanda dapat merebut Masjid Raya. Akan tetapi karena tekanan-tekanan dari pejuang Aceh yang dipimpin Tuanku Hasyim Banta Muda bersama Tgk Imuem Lueng Bata, Belanda pun harus meninggalkan Masjid Raya Baiturrahman. 

Empat hari kemudian, 14 April 1873, Belanda kembali mencoba untuk menyerang Masjid Raya sebagai pusat pertahanan Kerajaan Aceh. Belanda membuat markas di areal persawahan antara Kawasan Lampaseh dan Punge. Di sana mereka menyusun siasat untuk menyerang Dalam (Kediaman Sultan Alaiddin Mahmudsyah). 

Pada 12 April 1873, pihak Belanda dengan usaha yang berat berhasil masuk ke tempat yang disangka bagian dari areal Dalam. Rupanya, tempat tersebut tidak lain adalah Kuta Gunongan dekat areal Dalam. 

Usaha Belanda sia-sia karena mereka menjadi sasaran empuk pejuang Aceh. 

Belanda kemudian merencanakan kembali perebutan Masjid Raya Baiturrahman, dengan pertimbangan sesudah masjid dikuasai mereka, maka Istana Dalam mudah direbut. 

Pada pukul 04.00 Waktu Aceh, 14 April 1873, pihak Belanda berusaha merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman dan berhasil menduduki sekitar pukul 07.00, saat tentara Aceh mundur. 

Dalam suasana mengundurkan diri, pejuang Aceh mencari tempat persembunyian untuk mencari kesempatan menyerang secara tiba-tiba terhadap pasukan Belanda. 

Pemimpin ekspedisi militer Belanda, JHR Kohler setelah mendapat laporan tentang pendudukan masjid, berangkat dari markasnya di bivak sawah (persawahan antara Lampaseh dan Punge) menuju ke masjid untuk melakukan inspeksi pasukan. Pukul 09.00, Kohler memasuki areal masjid. 

Hal itu diketahui oleh pejuang Aceh, mereka memperhatikan dengan cermat. Salah seorang pejuang menembak Kohler, mengenai lengan kiri bagian atas tubuh jenderal itu tembus ke belakang, dia mati. 

Setelah itu, pejuang Aceh memukul mundur pasukan Belanda, dan Istana Dalam tidak dapat dikuasai Belanda. Mereka mengalami kekalahan besar: 45 tentara tewas (8 opsir) dan 405 luka-luka (23 opsir). Belanda mengundurkan pasukannya ke Pante Ceureumen. 

Pada 23 April 1873 mereka mendapat izin dari pemerintah Hindia Belanda untuk meninggalkan Aceh. 

Pada 29 April 1873, armada Belanda mengangkat jangkar meninggalkan perairan Aceh dan agresi pertama gagal.

Karena Belanda mengalami kegagalan dalam penyerbuannya ke Aceh, tak lama kemudian Jenderal G.P Booms, mengecam Pemerintah Kolonial Belanda di Batavia atas kegagalan tersebut, karena dinilai terlalu menganggap remeh kekuatan Aceh.

Kekalahan dalam agresi pertama ke Aceh, di luar perkiraan Belanda. Aceh ternyata telah menyiapkan diri dengan baik terhadap serangan Belanda, senjata-senjata modern dipasok dari luar negeri. Seperti mengimpor 5.000 peti mesiu dan 1.349 peti senapan dari Pulau Pinang sejak Agustus 1872 hingga Maret 1873.

Anggaran untuk pembelian senjata secara besar-besaran itu didanai Rakyat Aceh. Bahkan anak dan cucu keluarga Sultan Alauddin Jamalul Alam Badrulmunir al Jamalullail memberikan sumbangan 12 kilogram emas. 

Dalam buku De Atheh-oorlog karya Paul van’t Veer, setelah gagal pada agresi pertama, Belanda melancarkan agresi kedua agresi pada Januari 1874. 

Pada 24 Januari 1974, Belanda berhasil merebut Masjid Raya Baiturrahman dan selanjutnya istana. Masjid Raya ikut terbakar.

Sultan Aceh, Alaidin Mahmudsyah dan para pejuang yang tersisa mundur ke sekitar Lueng Bata, selanjutnya ke Samahani dan Indrapuri. 

Saat itu, Sultan terjangkit wabah kolera dan wafat pada 29 Januari 1874 di Kawasan di Pagar Ayee (tidak jauh dari Lueng Bata), selanjutnya dimakamkan di Samahani, Aceh Besar. Pemimpin pejuang, Tgk Imum Lueng Bata dan Tuwanku Hasyim Banta Muda terus menggelorakan perang. 

Perang terus berlanjut di seluruh Aceh. 

Belanda tidak benar-benar menguasai wilayah Serambi Makkah, sampai meninggalkan Aceh pada tahun 1942, saat Jepang masuk. 

Saat agresi kedua Belanda ke wilayah nusantara, setelah sekutu menang dalam Perang Dunia Kedua, mereka tak berani lagi masuk ke Aceh.