Tere Liye: Saya TIDAK Butuh Pemerintah

Saya TIDAK Butuh Pemerintah

Tulisan ini sangat menyebalkan, jadi kalau kamu baper-an, apalagi mencret-an, mending tidak usah baca. Nah, jika kamu baca, pastikan sampai selesai, disimak setiap kalimatnya.

Apa yang hendak saya tulis? Simpel: saya TIDAK butuh pemerintah.

1. Harga minyak goreng mahal? 

Sorry, sy sudah biasa makan-makanan direbus, seafood, makanan super mahal di hotel2. Dan please deh, kalaupun sy mau gorengan, sy bisa beli minyak harga 1 juta per liter. Easy. 

2. Jaminan Hari Tua baru bisa dicairkan usia 56 tahun. Asuransi Jiwasraya, dll tdk bisa cair? 

So what? Sorry, sy bukan pegawai receh, cuy. Sy pekerja kreatif, pemilik perusahaan. Produk sy dijual secara internasional. BPJS? Astaga, yang ada rumusnya, sy yg ngasih jaminan hari tua ke orang lain. Termasuk biaya berobat, dll. 

3. Susah nyari kerja. Kena PHK? 

Waduh, sorry, my friend. Tidak ada rumusnya sy nyari pekerjaan. Yang ada, sy yg ngasih. Dan sy yg PHK orang2. Sy tdk butuh pemerintah soal beginian.

4. Premium, Pertalite dihilangkan? 

Tidak ngaruh. Sudah sejak lama, bahkan buat ngisi kolam di rumah sy pakai RON 98. Sy baru ngeh ternyata di SPBU Pertamina itu masih ada BBM mutu rendah? Kasihan sekali. Sudah mutu rendah, dijual mahal pulak. 

5. Perlindungan hukum atas karya2 saya? 

Ini mungkin sy butuh pemerintah. Tapi setelah dipikir2, buat apa? Lihat, buku2 sy dibajak dimana2. Saat lapor bahkan ke level Menteri, kagak diurus sama mereka. Jadi sorry, sy tidak butuh pemerintah. Sy bisa urus sendiri. Sy perang dgn pembajak ini lewat akun2 medsos, lewat buku2 murah. Lebih efektif malah. Sudah 1.000 lebih toko2 ini di ban/remove, meski terus muncul lagi. Tidak masalah, minimal ada kemajuan.

6. Pendidikan keluarga. Kesehatan keluarga?

Ciyus, sy butuh pemerintah soal beginian? Sy bisa mendidik anak2 sy di sekolah swasta top. Bahkan bila perlu, kirim ke planet Mars, University of Guardian of The Galaxy. Termasuk kesehatan, kirim ke manalah buat berobat.

7. Regulasi utk industri bisnis saya? 

Apalagi yg ini, tidak butuh pemerintah. Pekerjaan sy adalah industri kreatif. Kagak butuh pemerintah, sudah jalan sendiri. Tahan banting, berjuang sendiri. Bisa jualan secara internasional. Yg ada, pemerintah malah rese', dipajakin, diatur2, dibuat susah. Besok2, jika mereka tambah eror, bahkan penulis harus punya sertifikat menulis. Duuh, pemerintah cuma jadi benalu. Ngerepotin. 

Maka, sejatinya, saya TIDAK butuh pemerintah. Ujung ke ujung. Hidup sy baik2 saja tanpa pemerintah. Listrik? Sy bisa bikin sendiri itu pembangkit listrik. Telepon? Waduh, bisa pakai telepon satelit. Atau jika memang mereka batasi, sy pindah saja ke LN. Makan? Sandang? Papan? Lebih2 yg ini. Bisa mandiri.

Seumur hidup saya tinggal di negeri ini, yang terjadi adalah: Hidup saya di-rese'in sama pemerintah. Sudah capek2 bayar pajak, masih juga dirugikan ini dan itu. 

Sungguh, duhai netizen, puluhan juta penduduk Indonesia itu tidak butuh pemerintah. Dan mereka baik2 saja. Mungkin termasuk kamu yang baca. Kamu tdk butuh pemerintah. Kamu malah tekor jadi WNI. Bayar pajak gede, iuran ini, iuran itu, wajib blas, gaji dipotong, bukannya sejahtera, malah sakit hati. Dibuat susah.

Nah, tapi kenapa kita tetap punya pemerintah? Kenapa kita tetap harus NKRI? Kenapa? KENAPAAA?

Karena eh karena, kalaupun Tere Liye tdk butuh pemerintah, puluhan juta orang lain butuh. Orang2 yg hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka butuh. Pengangguran susah nyari pekerjaan. Mereka butuh. Korban PHK, orang tua jompo, anak yatim piatu, dll, dsbgnya. Bahkan Harun Masiku, Juliari Batubara, Edhy Prabowo, mereka butuh pemerintah. Supaya bisa korup dan nyuap. 

Jutaan penduduk Indonesia lain, mereka butuh akses pendidikan, kesehatan, perlindungan hukum. Pemerintah bisa membuat yang kaya tidak memakan yg miskin. Pemerintah bisa menjaga yang kuat tidak mengunyah yg lemah. Bukan malah: membiarkan yang kaya/kuat, dikasih panggung biar menghabisi yang lemah/miskin. 'Dilegalkan' bisa memeras wong cilik. Kebalik cuy.

Seriusan loh, tidakkah orang-orang ini paham apa sih tugas pemerintah? Kamu tidak suka jika harga-harga barang di Indonesia ini murah? Kamu tidak senang jika wong cilik dimudahkan dalam setiap urusan? Dilindungi? 

Kamu kok malah senang jika dibuat susah. Dan sungguh, kamu kok senang lihat harga-harga barang mahal? Kamu selalu saja ada alasan pembelaannya. Kamu itu teh pembantu, atau sopir, atau siapanya para oligarki itu? Kok goblok tenan. Harga minyak goreng mahal, apa komen kamu? 'Salah sendiri, kenapa masak digoreng.' Astaga, kamu tdk mau jika minyak goreng murah? Itu kebutuhan wong cilik. Adalah kewajiban pemerintah membuat mereka bahagia.

Atau sebenarnya kamu-kamu ini penipu semua. Ngaku demokrasi, ngaku NKRI, tapi sejatinya kamu pendukung dinasti kerajaan. Ngaku-ngaku NKRI harga mati, tapi mental kamu itu sebenarnya oportunis dan pengemis. Besok-besok berharap jadi komisaris. Sungguh amis!

(By Tere Liye)

*fb 12/02/2022