Tere Liye: Hancur Lebur Oleh Oligarki

Hancur Lebur

Sepuluh tahun terakhir, lebih dari 500.000 hektare hutan di Papua remuk. Kalian bayangkan 500.000 lapangan bola. Sebesar itulah kira-kira hutan yang remuk. Setengah juta lapangan sepakbola. Crazy. Dan angka ini menggila sejak rezim baru berkuasa.

Kalian tidak perlu pergi ke Papua untuk melihat fakta-fakta ini. Cukup buka Google Maps, lantas buka Papua. Ketikkan 'kebun kelapa sawit', maka kalian akan menyaksikan, di lembah-lembah, dengan sekitarnya hutan lebat, terlihatlah hamparan kelapa sawit maha luas. Belum lagi perkebunan-perkebunan lain. Itu fakta, data satelit, ditembakkan dari atas, tidak bisa ditutupi.

Sadis. Sedih lihatnya.

Apakah itu dulu adalah lahan tidak terurus? Lahan tidak produktif? Sorry, itu dulu hutan, my friend. Tanah subur. Pohonnya ditebang entah dijual kemana, lantas digantikan kelapa sawit. Demi pembangunan, demi kemajuan, menyingkir semua yang tidak penting.

Dan lebih menyedihkan lagi, dengan harga minyak kelapa sawit meroket, trilyunan uang dihasilkan, apa kabar penduduk setempat? Bahkan tingkat buta huruf tertinggi salah-satunya di dunia ini ada di Papua. Tambahkan kemiskinan, tambahkan semua ketertinggalan lain.

Lantas kita bangga dengan jalan-jalan baru yang dibangun? Well, itu jalan justru membuat akses ke hutan-hutan semakin mengerikan. Pesta pora, konsesi tanah dibagikan 10-20 tahun terakhir. 'Pembangunan' menggeliat. Tapi sungguh, siapa yang menikmati kue terbesarnya? Hanya kelompok oligarki. Pengusaha, penguasa, elit setempat.

Adakah yang peduli soal ini? Dengan menteri-menteri justru pemilik perusahaan kebun kelapa sawit, pemilik perusahaan tambang, kamu teh ngimpi, halu!

Lihatlah, mereka bangga sekali menjual omong kosong di forum dunia, bilang deforestasi menurun. Lucu. Karena mereka hanya lihat angka 2020-2021, saat pandemi.

Coba mari kita lihat nanti setelah pandemi reda. Tahun 2030 misalnya, boleh jadi menyusul sebesar 1 juta lapangan bola berikutnya hutan di Papua hancur lebur.

Yes. Orang-orang ini punya uang, punya kekuasaan, punya segalanya. Kamu mau melawan?

Rakyat Papua mau melawan?

(By Tere Liye)

*fb