Mo nanya sama umat Kristen.. Ngerasa agama kalian dijadiin alat gak sih setiap Desember?

Mo nanya sama umat Kristen..

"Kalian gak gerah? Setiap akhir tahun perayaan natal selalu dijadiin panggung para kadal kebon untuk menggoreng ucapan selamat natal?"

Para kadal kebon yang bukan beragama Kristen, tapi selalu berdiri dipihak Kristen agar meminta ucapan natal dari umat yang tidak merayakan, dengan nama toleransi.

Gerah gak?

Ngerasa agama kalian dijadiin alat gak sih? 

Bosen gak?

Sejak kapan sih ucapan natal jadi permasalahan? Toh dulu kita fine-fine aja tanpa mementingkan ucapan sebagai pasword membina hubungan. 

Buat kalian saudara nasraniku, coba deh untuk speak up akan masalah ini. Dari yang baik-baik aja, malah sekarang seperti dibenturkan oleh kadal kebon yang menjadikan agama kalian sebagai gorengan yang menggiurkan. 

Mohon maaf ya, kalau pertanyaan saya rada sedikit serius. 

Cuma penasaran aja, apakah kalian menikmati perayaan Natal yang selalu dipanaskan persoalan ucapan? Bertanya pada kalian yang merayakan, bukan bertanya pada kadal kebon yang jelas mempunyai tujuan culas dibelakang. 

Lazimnya agama lain, pastinya perayaan hari raya dalam hal ini natal, membawa kesakralan yang dijalani dengan khidmat. Saya muslim, mengelus dada ketika melihat kadal kebon menunggangi perayaan Natal kalian demi tujuan buruk dibelakang. 

Yang seharusnya kalian menjalani dengan kedamaian, akibat kadal kebon yang memanaskan maka perayaan Natal kalian seperti kehebohan yang terus dimunculkan. Ya sedih aja liat perayaan hari raya kalian harus terus begini. 

Jujur saya gerah, ketika menjelang akhir Desember selalu agama kita sengaja dibenturkan atas kebiasaan yang telah lama kita jalani. Namun kegerahan ini saya pendam, kurang elok jika saya harus proaktif melawan narasi para kadal kebon, tetapi kalian malah tidak merasa terganggu sedikitpun.

Berbicaralah...lawanlah jika memang ada kegerahan yang sama. 

Kecuali jika menikmati suasananya, ya saya mau bilang apa lagi. Tapi jangan khawatir, walaupun hasilnya tiada kegerahan, Kita tetap saudara walau tak seiman. 

(Setiawan Budi)