Hilangnya 3 Tokoh Penumpas PKI, Penghilangan Tokoh bermakna Kehilangan Cerita

Tentang Ketiadaan Tiga Tokoh Penumpas Komunis Dalam Diorama di Museum Dharma Bhakti Kostrad TNI

Patung adalah sebuah narasi.

Sebagai sebuah narasi tentu ia juga dimaksudkan untuk mempengaruhi pandangan dan kesadaran publik tentang sesuatu, baik tokoh, hal atau peristiwa.

Entah di ruang terbuka yang ramai atau di dalam ruangan museum, narasinya sama saja.

Yang berbeda adalah pengaruh yang ingin dicapai dan audiens yang disasar.

Makin besar patung dibuat makin besar pula audiens yang disasar untuk dipengaruhi.

Bahkan kebesaran patung itu sendiri dimaksud untuk sekaligus menghalangi narasi yang bertentangan yang dimaksud untuk menimbulkan kesadaran publik akan sesuatu, tokoh, hal, alur peristiwa.

Contoh perlukisan patung sebagai alur cerita/peristiwa itu bisa ditemukan dengan mudah pada relief candi Borobudur atau di bangunan candi lain di Indonesia.

Apakah cerita bisa terbentuk utuh bila patung atau relief itu terkikis atau hilang?

Tentang pengaruh besarnya patung

Sekarang coba saja bayangkan, apa yang terjadi:

Bila di depan Istana Merdeka Jakarta Indonesia dibangun patung besar Daendels atau patung Panglima Perang China Kwan Sing Tee Koen atau patung tokoh komunis Semaun.

Bila di tengah kota Teheran Iran dibangun patung besar Presiden AS George W Bush.

Bila di tengah kota New York dibangun patung besar Osama Bin Laden.

Patung besar di tengah kota dibuat bukan dari kekosongan makna dan sejarah.

Perhatikan pula perbandingan besarnya patung yang ada di lingkungan setempat. Patung terbesar adalah patung yang akan memberikan pengaruh paling besar.

Patung sebagai Kelengkapan Peristiwa

Cerita tidak lengkap tanpa tokoh. Penghilangan tokoh bermakna kehilangan cerita.

Demikian pula dengan upaya pengambilan kembali tokoh penumpas PKI oleh pembuatnya (menurut versi Kostrad), yang itu berdampak putusnya alur cerita yang ingin diungkapkan dan tiga patung tokoh penumpas komunis di Indonesia di museum Dharma Bahakti Markas Kostrad TNI: AH Nasution, Soeharto, Sarwo Edhi Wibowo.

Diketahui keterangan dari pihak Kostrad, penyebab ketiadaan ketiga tokoh itu adalah diminta kembali oleh pembuat dan pemilik idenya, jadi bukan Kostrad sengaja menghilangkannya.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah Diorama PKI di museum Dharma Bhakti itu adalah asset negara yang sudah diserahkan dalam arti disumbangkan oleh pembuatnya atau pemilik ide? ataukah masih merupakan asset pribadi sehingga bisa diminta kembali?

Bila itu merupakan asset negara dalam hal ini asset TNI AD, yang disumbangkan untuk kebaikan negeri maka tak bisa diminta kembali bahkan oleh pembuat atau pemilik ide itu sendiri.

Bila itu masih menjadi asset pribadi, mengapa masih dipajang dengan penghilangan tokoh sentral penumpas PKI yang bisa mengubah kronologi cerita yang ingin diungkap dalam diorama?

Bukankah penghilangan tokoh ini artinya ada upaya pengaburan sejarah dan berdampak pembelokan sejarah bahkan oleh pembuatnya sendiri? 

Juri Lina, penulis Architect of Deception mengatakan....

Ada tiga cara melemahkan dan menjajah suatu negeri:

Pertama, kaburkan sejarahnya.

Kedua, hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya.

Ketiga, putuskan hubungan mereka dengan para leluhur, dengan mengatakan jika leluhur itu bodoh dan primitif.

Dengan demikian bukankah pengambilan sebagian patung itu berpotensi mengubah alur cerita?

Bukankah ini bisa dibaca ada upaya secara sadar atau tidak sadar akan potensi penghilangan kesadaran publik dalam hal ini prajurit TNI Kostrad generasi berikutnya akan pentingnya bahaya komunis dan pentingnya menumpas komunis hingga ke akarnya di Indonesia?

Bukankah dengan potensi pembelokan sejarah ini bisa dibaca pula bahwa prajurit TNI generasi ke depan:

Tak perlu meniru/menontoh kerja senior nya terdahulu.

Lebih jauh lagi tak perlu mengkhawatirkan perkembangan komunis di Indonesia.

Saranku, tinimbang membuka potensi pembelokan sejarah, lebih baik dikembalikan semuanya kepada pemiliknya bila itu asset pribadi. Dan dibuat lagi diorama sejenis dengan dana TNI.

Bila hal itu sudah menjadi asset negara dalam hal ini asset TNI Kostrad, maka tokoh yang dihilangkan itu diminta kembali.

Ketidaklengkapan dalam diorama berpotensi pembelokan sejarah yang justru merugikan kejelasan pendidikan sejarah prajurit Kostrad TNI sendiri di masa depan. Bukan setahun dua tahun ke depan tentunya.

Tetapi puluhan tahun atau ratusan tahun ke depan, dimana prajurit TNI Kostrad di masa depan akan kabur akan sejarah bangsanya khususnya dalam kasus PKI ini.

Coba dech bapak bapak yang berwenang, direnungkan kembali.. kira kira benar atau tidak pemikiranku di atas?

Sebagai anak kolong, aku tentu sangat peduli dengan TNI

Monggo…

(By Adi Ketu)